BREAKING NEWS
 

Jadi Kelompok Paling Terdampak

Perempuan Mesti Pahami Perubahan Iklim

Reporter : OSPI DARMA
Editor : ABDUL SHOMAD
Kamis, 12 September 2024 07:25 WIB
Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Sosial dan Budaya Kementerian PPPA, Eko Novi Ariyanti. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebut, perempuan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dampak dimaksud antara lain, akses yang semakin terbatas terhadap sumber daya, mobilitas, kemiskinan, serta dampak sosial kebijakan.

Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Sosial dan Budaya Kementerian PPPA, Eko Novi Ariyanti menegaskan, perempuan harus menyadari risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Menurut dia, perempuan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim karena men­jalankan peran, seperti mengurus rumah tangga, merawat anak, dan mengelola sumber daya alam.

“Aksi iklim atau isu perubahan iklim bisa masuk ke dalam konteks mewujudkan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Sebab, saat kita bicara dampak perubahan iklim, di situ ada pekerja anak, ada perkawi­nan anak,” ujar Novi di Jakarta, Selasa (10/9/2024).

Baca juga : Kurangi Pengangguran, DKI Bisa Tiru Karawang

Di saat bersamaan, sambung dia, kebijakan dan tindakan terkait perubahan iklim seringkali belum mempertimbangkan secara memadai kebutuhan dan kerentanan perempuan. Akibatnya, terjadi ketidaksetaraan dalam akses terhadap sumber daya dan layanan, yang diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Sebab itu, tambah Novi, Kementerian PPPA menekankan sejumlah catatan, dalam strategi pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional. Mulai dari, tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, akses yang sama dalam berbagai bidang pembangunan, aktif dalam partisipasi dan kontrol atas pembangunan, dan kesetaraan di berbagai bidang pembangunan.

Dia juga meminta para kader Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) di desa-desa mensosialisasikan dan mengedukasi para orang tua soal perubahan iklim. “Tujuannya, orang tua memaha­mi pentingnya pendidikan bagi anak dan mencegah terjadinya perkawinan anak,” imbuhnya.

Baca juga : Badminton Hong Kong Open 2024, Ginting ‘Balas Dendam’ Popov

Terpisah, Kepala Pusat Riset Hukum (PRH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Emilia Yustiningrum menuturkan, perubahan iklim telah mengakibatkan peningkatan permukaan air laut di wilayah pesisir. Menurutnya, hal itu terjadi di banyak bagian dunia, bukan hanya Indonesia.

“Ketika permukaan air laut rendah, penduduk yang tinggal di daerah pesisir, bisa melakukan aktivitasnya di bidang pertanian. Tapi, ketika permukaan air laut meningkat, mereka harus men­cari pekerjaan lain,” katanya.

Dampak tersebut, sambung Emilia, lebih terasa pada perempuan. Sebab, mereka terpaksa ikut mencari pendapatan. Namun, mereka tak memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan pekerjaan, serta dalam mengambil keputusan untuk pindah ke tempat lain.

Adsense

Baca juga : Luna Bijl, Pacar Maarten Paes

“Dalam beberapa poin, perempuan memiliki tingkat pendapatan yang lebih rendah, tapi memiliki tanggung jawab lebih banyak. Sebab, selain terpaksa harus bekerja, mereka juga ha­rus merawat anak-anak, hingga merawat orang tuanya,” ucapnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense