RM.id Rakyat Merdeka - Selain fasilitas, keberhasilan penyelenggaraan Peparnas XVII juga merupakan buah dari pembinaan dan perhatian yang diberikan berbagai pihak.
Salah satu bentuk pembinaan yang dilakukan, yakni melalui pendirian Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas Indonesia (SKODI).
Tahun ini, ada 15 atlet yang turun di Peparnas berasal dari sekolah tersebut. SKODI yang berada di bawah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) didirikan pada 2018.
Usai gelaran Asian Para Games yang digelar pada tahun yang sama di Indonesia. Sekolah tersebut telah melahirkan sejumlah atlet yang turut berprestasi di ajang Peparnas 2024.
Salah satunya, atlet para renang Jawa Timur Zahra Nur Azizah. Di ajang Peparnas 2024, Zahra meraih dua medali emas. Nomor 50 meter gaya kupu 29 putri dan nomor 100 meter gaya bebas 29 putri.
Dia juga meraih perak dari nomor 50 meter gaya kupu-kupu S10 putri. Kedisiplinan berlatih adalah kunci utama untuk kecepatan performanya di Peparnas.
Baca juga : Menang Telak, Prof Sunarto Terpilih Jadi Ketua Mahkamah Agung
Poin itu sudah dia tunjukkan dalam dua tahun terakhir. Dia memutuskan pindah ke SMP 25 Solo dan mengikuti latihan rutin di SKODI.
Dia bilang, Peparnas ini menjadi pijakan awal baginya mengikuti kejuaraan nasional lain.
“Bahkan bisa mengikuti kejuaraan Paralimpic hingga tingkat internasional,” ucapnya.
Pelatih Zahra di SKODI, Nonik Rahmawati menambahkan, meski termasuk atlet baru, sekitar dua tahun dibina di SKODI, Zahra langsung bisa berprestasi, yakni dengan mendapatkan dua emas dan satu perak.
Dia menjelaskan, selama berada di SKODI, Zahra mendapat latihan fisik hingga fasilitas kesehatan dari tim medis.
Termasuk, dokter spesialis rehabilitasi yang menunjang optimalisasi kemampuan para atlet selama bertanding.
Baca juga : Terharu Kenang 10 Tahun Kepemimpinan Jokowi, Zulhas Menitikkan Air Mata
“Dukungan luar biasa diberikan Pemerintah dan Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPCI),” jelasnya.
Kemenpora menargetkan atlet yang bersekolah di SKODI bisa menembus paralimpiade. Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahraga Prestasi Kemenpora Muhammad Aziz Ariyanto mengatakan, target tersebut bisa dicapai melalui sinergi serta pelatihan berjenjang.
Menurut Aziz, pihaknya menggunakan pendekatan sport science atau penerapan ilmu pengetahuan agar para atlet yang bersekolah di SKODI bisa meraih prestasi.
“Pendidikan atlet yang bersekolah di SKODI juga tetap kami perhatikan karena menjadi bekal di masa depan,” ujarnya.
Selain pembinaan, kategorisasi berdasarkan klasifikasi juga jadi penentu. Dalam hal ini, atlet dikelompokkan berdasarkan hambatan dan derajat disabilitas.
Para atlet diperiksa mendetail anggota tubuh, ototnya, gerakan, hingga kemampuan intelektualnya.
Baca juga : Ketemu Anin, Airlangga Ajak Kadin Bantu Genjot Investasi
Dengan demikian, para atlet dengan hambatan dan derajat keparahan berbeda tidak saling bertanding.
Sebagai contoh, atlet renang dengan hambatan penglihatan, tidak bisa dilombakan dengan atlet renang dengan atlet yang mengalami hambatan fisik.
Atlet renang yang sama-sama memiliki hambatan penglihatan pun masih diklasifikasikan menjadi S11, S12, dan S13, berdasarkan derajat keparahan hambatannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.