RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian kesehatan (Kemenkes) mengigatkan Tuberkulosis (TB) masih menjadi permasalahan serius di dunia kesehatan Indonesia. Bahkan, Indonesia kini menempati peringkat kedua kasus TB terbesar di dunia setelah India, dengan jumlah kasus sekitar 1,06 juta jiwa.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono menyatakan, dari 1,06 juta kasus TB di Indonesia, sebanyak 130 ribu orang di antaranya sudah meninggal dunia. Angka tersebut sangat memperihatinkan, karena TB bisa disembuhkan.
Dante membeberkan, selain melakukan uji coba vaksin TB, pihaknya juga mempunyai program Temukan dan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOSS TB).
Menurutnya, program itu membutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk ikut peduli pada kesehatan masyarakat di lingkungannya, utamanya TB.
Baca juga : Ketua Golkar Riau Digoyang
“Kami meminta semua pihak ikut mensukseskan TOSS TB, sebagai upaya menekan angka TB. Kalau hanya dijadikan program Pemerintah, ini tidak akan selesai, karena kemampuan Pemerintah terbatas,” ujar Dante dalam keterangan tertulisnya dikutip Selasa (17/12/2024).
Dia mencontohkan, masyarakat di RW 09 Jelambar Baru, Jakarta Pusat, yang sudah ikut peduli dan mensukseskan program TOSS TB dengan menemukan dan mendampingi penderita TB. Berkat upaya itu, wilayah tersebut mendapat predikat sebagai Kampung Siaga TB.
Dante berharap, gerakan serupa dapat direplikasi masyarakat di daerah lain agar kasus TB di Indonesia dapat lebih cepat diidentifikasi dan ditangani.
“Kami yang ada di pusat, belum tentu lebih pintar dari bapak ibu sekalian. Sebab, angka kesembuhannya sampai 90 persen, angka pengobatannya sudah tinggi, dan angka rekrutmennya juga sudah tinggi,” imbuhnya.
Baca juga : Komisi III Dengar Pengakuan Korban
Dante berpesan kepada para kader pendamping TB memastikan agar penderita yang telah teridentifikasi tetap menjalani pengobatan hingga selesai. Hal itu guna mencegah resistensi obat yang dapat berujung pada kematian.
“Karena pengobatannya butuh waktu, kadang ada yang putus obat di tengah jalan. Yang putus obat di tengah jalan itu harus kita atasi. Sebab, kalau dia putus obat di tengah jalan, TB bisa jadi resisten atau jadi kebal terhadap pengobatan. Kalau kebal terhadap pengobatan, jadi tidak bisa sembuh,” jelasnya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi IX DPR Putih Sari juga memastikan, Pemerintah telah berkomitmen mengeliminasi TB, sebagai salah satu prioritas utama.
Fokusnya, kata dia, pada percepatan penurunan kasus melalui penerapan inovasi dalam diagnosis, pengobatan, vaksinasi dan pencegahan TB.
Baca juga : Banjir Rob Makin Parah Akibat Penurunan Tanah
Menurut dia, salah satu wujud nyata atas komitmen tersebut, Pemerintah menaikkan alokasi anggaran hingga lebih dari 20 kali lipat atau sebesar Rp 197,8 triliun.
“Dengan anggaran yang meningkat drastis, komitmen Indonesia memerangi TB semakin jelas. Itu mendekatkan kita pada target eliminasi TB pada 2030,” tegas Presidium Kaukus Tuberkulosis DPR ini.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.