BREAKING NEWS
 

Menkes Soal KLB Campak

Penularannya Cepat, Jangan Tunda Berobat

Reporter : BAMBANG TRISMAWAN
Editor : RATNA SUSILOWATI
Kamis, 28 Agustus 2025 07:25 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Dok. Kemenkes)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus campak di beberapa wilayah Indonesia rupanya sudah masuk kategori KLB (Kejadian Luar Biasa). Ada 46 wilayah KLB. Dan salah satu yang terparah adalah di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Di wilayah itu, tercatat 2.035 kasus dengan 17 orang meninggal, Bangkalan 548 suspek dengan 1 korban jiwa, Pamekasan 123 anak terinfeksi dengan 1 meninggal, dan Sampang 413 kasus. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin angkat bicara soal ini. Menkes mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan campak. “Campak ini penyakit berbahaya. Bisa menyebabkan kematian, dan penularannya bahkan lebih cepat dibanding COVID-19,” kata Budi dalam wawancara dengan Rakyat Merdeka, di Jakarta, Rabu (27/8/2025). Menkes mengimbau masyarakat segera melengkapi imunisasi wajib, termasuk imunisasi campak, agar kasus tidak meluas.

Menurut dia, lonjakan kasus disebabkan rendahnya cakupan imunisasi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu membuat kekebalan kelompok (herd immunity) tidak terbentuk optimal. Budi menambahkan, Kemenkes langsung menurunkan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan outbreak response immunization (ORI). “Begitu ada laporan, koordinasi segera dilakukan. Surveilans harus berjalan optimal supaya rantai penularan bisa cepat diputus,” tegasnya.

Selain memperkuat layanan kesehatan, Kemenkes terus mengintensifkan promosi imunisasi. Edukasi dilakukan lewat tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, hingga kampanye di media sosial. Budi juga menegaskan bahwa isu vaksin menyebabkan autisme tidak benar.

Berikut kutipan selengkapnya.

Baca juga : Silaturahmi 3 Jam Di Istana, Prabowo Dan Golkar Mantapkan Koalisi

Penyakit campak sudah masuk kategori KLB di sejumlah wilayah Indonesia. Bagaimana tanggapan Bapak terkait hal ini? Apa langkah cepat Kemenkes untuk merespons kejadian ini?

Campak adalah penyakit berbahaya, dapat menyebabkan kematian, dan sangat menular bahkan lebih cepat dibandingkan COVID-19. Cakupan imunisasi yang belum mencapai target dalam beberapa tahun terakhir mengakibatkan belum terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) secara optimal, sehingga ketika ada kasus, potensi penularannya lebih mudah dan cepat. Kita menyadari ini masih menjadi tantangan karena masih adanya penolakan di masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pemahaman yang kurang baik, budaya dan keyakinan. Tapi kita terus berupaya meningkatkan promosi kesehatan meyakinkan masyarakat akan pentingnya imunisasi.

Selain cakupan imunisasi kinerja surveilans yang optimal sangat dibutuhkan untuk segera memutus mata rantai penularan dan potensi KLB bisa ditekan semaksimal mungkin. Kementerian Kesehatan segera bertindak ketika mendapatkan informasi, rapat koordinasi segera dilakukan dan TGC (tim gerak cepat) segera mengambil langkah untuk respon dengan melakukan penyelidikan epidemiologi dan melaksanakan ORI (outbreak response immunization).

Campak tidak hanya berbahaya bagi penderitanya. Ibu hamil yang tertular campak pun bisa berisiko tinggi seperti komplikasi kehamilan, keguguran, dan cacat janin. Bagaimana mitigasi penularan campak di kalangan ibu hamil, di tengah situasi lonjakan kasus seperti ini?

Baca juga : Kamhar Lakumani: Kita Harap Aksi Berjalan Damai Dan Simpatik

Iya, campak tidak hanya berbahaya bagi anak-anak, tetapi juga pada Ibu hamil yang merupakan kelompok rentan dan berisiko tinggi apabila tertular campak karena dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur dengan berat badan lahir rendah dan komplikasi kehamilan.

Untuk menghindari risiko penularan campak, ibu hamil dianjurkan untuk menggunakan masker setiap keluar rumah dan menghindari interaksi dengan penderita campak, melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terutama mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menghindari kontak dengan orang yang sakit atau kemungkinan tertular virus campak seperti orang yang bergejala demam, batuk, pilek dan memiliki bercak kemerahan.

Selain itu, tenaga kesehatan juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat apabila ada ibu hamil yang mengalami gejala demam dan ruam merah, maka segera datang ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk mendapatkan pengobatan.

Menurut Bapak, apa yang menjadi faktor utama meningkatnya kasus campak di Madura. Apakah karena cakupan imunisasi rendah, kendala distribusi vaksin, atau faktor sosial budaya? Apakah ini ada kaitannya dengan tren penolakan vaksin di sebagian masyarakat?

Adsense

Baca juga : Terbaru 1 Rumah Mewah Di Bogor, Harta MRC Terus Disita Kejagung

Meningkatnya kasus, bahkan hingga ditetapkannya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Madura, disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, rendahnya cakupan imunisasi campak yang membuat banyak populasi menjadi rentan, sehingga penularan sangat mudah terjadi. Kondisi ini semakin diperburuk oleh masalah malnutrisi serta belum optimalnya kinerja surveilans campak-rubella. Surveilans yang tidak berjalan dengan baik membuat deteksi dini terhambat. Akibatnya, respon cepat pun terlambat dilakukan. Keterlambatan ini berdampak pada semakin sulitnya memutus mata rantai penularan, sehingga jumlah kasus terus meningkat.

Selain itu, karakteristik penyakit campak yang bersifat self-limiting disease atau bisa sembuh sendiri, membuat banyak orang menunda untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Penundaan ini justru menyebabkan penularan lebih masif di lingkungan tempat tinggalnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense