Sebelumnya
Apakah semester II tahun depan pertumbuhan ekonomi sudah bisa mencapai 6 persen?
Iya, semester dua tahun depan. Bisa juga lebih cepat, tapi saya nggak boleh terlalu optimis ha…ha…ha… Yang penting, sekarang kita melihat pembalikan arah ekonomi yang kemungkinan akan terjadi atau terlihat di data bulan triwulan keempat tahun ini.
Harapannya nanti Januari, Februari tahun depan sudah kelihatan?
Januari, Februari orang akan merasakan suasana ekonomi yang berbeda. Sekarang kalau kita jalan-jalan muter-muter sudah beda kan? Saya lihat orang-orang sudah berani jajan dan jalan di mall. Mereka merasa keadaan sudah lebih stabil.
Agar ekonomi bisa tumbuh 7-8 persen seperti target Presiden, strategi apa yang akan ditempuh?
Paling sederhana, perbaiki dulu moneter dan likuiditas. Setelah itu, kita percepat investasi. Saya bentuk tim “debottlenecking”. Tim ini akan menyelesaikan segala hambatan di bidang investasi. Nanti setiap Senin, saya terima laporan 7–8 kasus hambatan investasi dan kita selesaikan cepat. Sekarang lagi diproses Kepres (Keputusan Presiden)-nya. Mungkin saya Menteri Keuangan pertama yang tiap minggu undang pengusaha. Biar saya nggak nganggur juga.
Baca juga : Swiss Dukung RI Gabung OECD
Kalau nggak gitu saya nganggur ha…ha…ha… Kalau pertumbuhan ekonomi naik, bagaimana dengan inflasi?
Banyak orang salah kira. Pertumbuhan ekonomi itu tidak otomatis bikin inflasi tinggi. Ada batas namanya “potential growth rate” (tingkat pertumbuhan ekonomi maksimum yang bisa dicapai, tanpa menimbulkan inflasi, Red). Hitungan saya, sekitar 6,5-6,7 persen. Selama pertumbuhan di bawah itu, inflasi tidak akan melonjak. Jadi jangan takut.
Kalau kita lihat pengalaman sebelumnya, inflasi tinggi itu bukan karena pertumbuhan, tapi gara-gara harga minyak (dunia) melonjak, biaya produksi naik, atau karena perang. Jadi, menaikkan uang untuk memacu ekonomi tidak otomatis bikin inflasi berlebihan. Banyak orang keliru di situ.
Mereka sering tanya, apakah pertumbuhan memicu inflasi? Jawabannya, tidak selalu. Memang ada teori yang bilang begitu, tapi itu hanya terjadi kalau pertumbuhan ekonomi melewati laju pertumbuhan potensial. Kalau tidak, ekonomi bisa tetap tumbuh tanpa inflasi meledak. Tentu saja, itu butuh proses, tidak bisa instan.
Bagaimana dampaknya ke lapangan kerja?
Kalau berdasarkan hitungan konservatif, setiap 1 persen pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menciptakan 400 ribu pekerjaan. Jadi kalau tumbuh 5 persen, ada 2 juta lapangan kerja baru. Kalau 6 persen, ada 2,4 juta, dan kalau 7 persen, ada 2,8 juta. Itu lapangan kerja formal, bukan sekadar informal seperti ojek online. Bukan berarti yang informal jelek, tapi kita harus ciptakan pekerjaan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Bapak dikenal bergaya “cowboy”. Sementara menteri keuangan di banyak negara biasanya dikenal konservatif, berbicara hati-hati, karena takut mengguncang pasar. Bagaimana bapak menanggapi ini?
Saya nggak pernah bilang saya cowboy. Orang-orang yang bilang saya kayak cowboy. Tapi semua pernyataan saya sudah dihitung sebetulnya. Kalau mengguncang pasar pun, saya pastikan guncangannya positif. Kayaknya sembarangan, tapi sebetulnya nggak. Sudah kami hitung semua. Karena pengalaman saya sudah cukup lama di pasar dan di ekonomi juga sudah muter-muter. Jadi sudah tahu ilmunya.
Saya pernah bertugas di tiga Kemenko. Kemenko Perekonomian, Kemenko, Polhukam, dan Kemenko Maritim dan Investasi. Dulu saya pernah pimpin tim debottlenecking (2016–2019). Dari 300 kasus, 193 berhasil diselesaikan, terkait investasi Rp 894 triliun. Jadi pengalaman itu sudah ada.
Gaya Bapak sangat unik. Dapat Inspirasinya dari mana ya?
Nggak ada inspirasi khusus. Yang saya sampaikan itu kan hanya basic pengetahuan ekonomi yang memang harus dimiliki seorang menteri di bidang ekonomi. Kalau saya bicara soal ilmu ekonomi, itu bukan hal yang aneh. Ilmu ekonomi itu kan sederhana. Ekonomi itu kan ilmu tentang mempelajari perilaku manusia, yang relatif nggak akan berubah. Kecuali ada perubahan drastis dalam kehidupan masyarakat. Butuh satu atau dua generasi untuk benar-benar berubah. Nah, yang saya omongkan itu ya esensi dari economic knowledge.
Sekarang Bapak juga Ketua KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), memimpin koordinasi dengan BI, OJK, dan LPS. Bagaimana sinerginya?
Baca juga : Pendukung Bupati Dan Massa Pro Pemakzulan Bentrokan
Saya belum genap sebulan menjabat. Rapat KSSK dilakukan tiga bulan sekali. Hubungan saya dengan BI (Bank Indonesia), OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) baik. Yang jelas, saya pastikan rapatnya nanti tidak akan membosankan. Saya tidak akan hanya bicara angka-angka, tapi juga interpretasi kondisi ekonomi nyata. Kalau hanya angka-angka, kita seperti tidak sedang mengamati ekonomi yang betul-betul terjadi.
Satu lagi Pak, Bagaimana komunikasi Bapak dengan Pak Prabowo?
Baik. Sangat baik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.