RM.id Rakyat Merdeka - Teknologi digital yang dikembangkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama startup lokal mulai membuahkan hasil menggembirakan. Berkat teknologi Internet of Things (IoT), para pembudidaya ikan nila di Sukabumi kini bisa menikmati panen melimpah. Hasil produksinya melonjak hingga 40 persen sehingga bisa memperkuat ketahanan pangan daerah.
Salah satu yang merasakan langsung manfaatnya adalah Abdul Salim, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Telaga Ikan. Dia bercerita, pada Mei lalu kelompoknya menerima bantuan alat dari Komdigi bernama microbubble aerator.
Alat ini berukuran sebesar kotak sepatu anak-anak. Berwarna putih, dengan logo Komdigi dan Banoo, startup lokal, di bagian atasnya. Alat ini kemudian dipasang di tepi kolam. Alat dilengkapi pelampung berbentuk lingkaran dan penyangga dari bambu agar tetap stabil di permukaan air. Alat ini terhubung dengan pipa yang menghasilkan gelembung mikro untuk meningkatkan kadar oksigen di air.
Baca juga : Muhammad Khozin: Jadi Masukan Kami Merevisi UU Pemilu
Di dalam kotak kecil tersebut tersimpan sistem elektronik dan sensor pengukur kadar oksigen. Yang istimewa, alat ini terhubung dengan jaringan IoT. Sehingga kadar oksigen di kolam bisa dipantau secara real time lewat ponsel. Jika oksigen menurun, sistem akan otomatis menyalakan pompa.
Menurut Abdul, kadar oksigen adalah salah satu kunci keberhasilan budidaya. Semakin baik oksigen dalam air, ikan makin sehat, lincah, dan makannya banyak. Ikan jadi tumbuh cepat. Panennya pun besar. Kalau oksigen kurang, ikan bisa stres. Bahkan cepat mati.
Sebelum memakai alat ini, Abdul hanya mengandalkan pompa biasa yang harus dinyalakan manual. Hasilnya kurang memuaskan.
Baca juga : Agus Supriyadi: Kami Bisa Memahami Dan Terima Putusan MK
“Kalau dulu, hasil panen satu kolam paling cuma dapat satu-dua kuintal per siklus tanam. Sekarang bisa sampai satu ton,” tutur Abdul, bangga, saat panen raya ikan nila di Pokdakan Cimancur Cimahi Farm Feed, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (15/10/2025).
Dengan 20 anggota, kelompoknya kini bisa memanen hingga 40 ton ikan nila sekali siklus. Kata Abdul, tak cuma hasil panen yang naik, biaya listrik juga turun karena alatnya bekerja otomatis. Kadar oksigen bisa meningkat dua sampai tiga ppm (parts per million) hanya dalam semalam. “Ikan jadi tumbuh lebih cepat, pakan lebih efisien,” katanya.
Kini, kelompok Abdul juga mulai memasok hasil panen ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Dalam sepekan, dapur MBG di Sukabumi bisa menyerap sekitar 400 kilogram ikan nila hidup. “Kalau programnya makin luas, semua hasil panen bisa terserap. Petani makin semangat,” cetusnya.
Baca juga : Kebijakan Pangan Sudah Bagus
Keberhasilan teknologi IoT tersebut dirayakan dalam acara bertajuk Panen Raya Teknologi Digital Perikanan. Acara tersebut dihadiri Menteri Komdigi Meutya Hafid, Dirjen Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah, dan Bupati Sukabumi Asep Japar. Para pembudidaya ikan nila ikut hadir. Dalam acara ini, ikan panel yang dipanen sebanyak 40 ton.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.