Sebelumnya
Meutya memimpin langsung panen secara simbolis. Mantan jurnalis televisi itu turun ke kolam, menyerok ikan dengan jaring. Ikan-ikan nila berukuran besar meloncat dari air.
Program digitalisasi budidaya ikan ini merupakan kolaborasi antara Komdigi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dan startup Banoo.
Pada tahap awal, Komdigi menyalurkan 60 perangkat microbubble aerator kepada delapan kelompok pembudidaya di empat kecamatan di Sukabumi. Perangkat itu mulai dipasang sejak Mei 2025 di 60 kolam. Sukabumi dipilih karena menjadi salah satu sentra ikan nila terbesar di Jawa Barat.
Baca juga : Muhammad Khozin: Jadi Masukan Kami Merevisi UU Pemilu
Meutya yang hadir dalam panen raya ikut sumringah melihat hasil penen melimpah. Kata dia, pemanfaatan teknologi IoT di sektor perikanan menjadi bukti nyata digitalisasi yang langsung menyentuh masyarakat. “Sekarang pembudidaya bisa memantau kondisi kolam hanya lewat ponsel. Bahkan ibu-ibu bisa sambil ngurus anak di rumah,” kata Meutya.
Meutya menjelaskan, teknologi ini membantu pembudidaya memantau kolam dari jarak jauh. Melalui aplikasi di ponsel, mereka bisa menyalakan atau mematikan alat microbubble aerator, sekaligus memantau kadar oksigen dan suhu air secara real time. “Kalau ada penurunan oksigen, langsung bisa diketahui. Biasanya kegagalan panen terjadi karena masalah seperti itu tidak terdeteksi. Dengan digitalisasi, semua bisa dipantau,” paparnya.
Menurut Meutya, teknologi IoT microbubble aerator mampu meningkatkan kadar oksigen kolam hingga 60 persen dan menekan pemakaian listrik sampai 40 persen dibandingkan kincir air konvensional. “Ini bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui digitalisasi,” ujarnya.
Baca juga : Agus Supriyadi: Kami Bisa Memahami Dan Terima Putusan MK
Dia menegaskan, inisiatif ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk memperkuat kedaulatan pangan melalui inovasi teknologi karya anak bangsa. “Digitalisasi tidak boleh berhenti di kota besar. Harus dirasakan manfaatnya sampai ke desa-desa, sampai ke kolam-kolam ikan,” tutur Meutya.
Dirjen Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menyampaikan hal senada. Kata dia, pemanfaatan teknologi IoT telah membantu para pembudidaya ikan nila meningkatkan produktivitas secara signifikan. Dari laporan di lapangan, penggunaan teknologi ini membuat panen yang tadinya hanya tiga kali setahun kini bisa empat kali. Survival rate atau persentase ikan hidup dalam periode tertentu juga naik.
“Kalau biasanya ikan yang hidup 80-85 persen, sekarang bisa mencapai 95 persen,” ujar Edwin. Tak hanya itu, lanjut Edwin, penggunaan energi juga jauh lebih efisien. “Kalau dulu pakai kincir boros listrik. Sekarang dengan IoT penggunaan listrik bisa turun sampai 40 persen,” pungkasnya. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.