RM.id Rakyat Merdeka - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Radiasi Cesium-137 memastikan situasi kontaminasi radioaktif pada produk cengkeh dan udang asal Indonesia sudah terkendali dan tidak menyebar.
Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas Cesium137 Bara Krishna Hasibuan menegaskan, paparan radioaktif bersifat sangat terbatas dan hanya terjadi di satu lokasi.
Satgas pun mengimbau masyarakat tetap tenang karena dari hasil pemeriksaan menunjukkan rantai produksi pangan secara luas tetap aman. Pabrik dan perkebunan cengkeh di sebagian besar wilayah dinyatakan bersih dari paparan Cesium137.
Bara menceritakan, kasus kontaminasi Cesium137 pada produk udang dan cengkeh asal Indonesia menjadi perhatian serius Pemerintah.
Baca juga : Bangun Desa Lewat Bola Sampai E-Sport
Sejak kasus ini muncul, Pemerintah langsung bergerak melakukan penanganan. Salah satunya dengan membentuk Satgas Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Radionuklida Cesium137 dan Kesehatan pada Masyarakat Berisiko Terdampak.
Satgas ini terdiri dari berbagai unsur, termasuk Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) yang bertugas memantau dan menangani potensi paparan radiasi agar risiko terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Bara menjelaskan, Satgas kemudian menelusuri sejumlah lokasi yang menjadi sumber paparan Cesium137 dalam produk udang dan cengkeh. Dari hasil penelusuran pada produk cengkeh, ditemukan hanya satu kontainer berisi cengkeh asal Indonesia yang diduga terkontaminasi, yaitu produk yang dites langsung di Amerika Serikat.
“Tapi untuk memastikan, kami harus konfirmasi sendiri. Begitu barangnya tiba pada 29 Oktober ini, tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) akan langsung memeriksa di pelabuhan, dibantu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” kata Bara saat ditemui Rakyat Merdeka di kantornya, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Baca juga : Dedi Mulyadi Sebut Dana Pemprov Masih Kurang
Bara menjelaskan, Satgas bersama Bapeten telah melakukan pemeriksaan di tiga lokasi yang terkait dengan kasus cengkeh. Yakni, di pabrik pengolahan di Surabaya serta di dua sumber perkebunan di Pati, Jawa Tengah dan Lampung.
Hasilnya, pabrik di Surabaya dan perkebunan di Pati dinyatakan bersih dari kontaminasi. Namun, di Lampung ditemukan jejak Cesium137 dalam kadar rendah dan sangat terbatas.
“Kontaminasi di Lampung sifatnya lokal, tidak meluas, dan tidak berdampak pada hasil perkebunan lain seperti cokelat dan kopi,” ungkap Bara.
Untuk kasus udang, Bara memastikan cemaran material radioaktif yang terjadi pada Agustus lalu hanya terjadi di Kawasan Industri Modern Cikande, Banten.
Baca juga : Politisi Gerindra Ingatkan Potensi Yang Luar Biasa
Sampai saat ini, lanjut Bara, Pemerintah bergerak menangani sumber kontaminasi di kawasan Cikande. Langkah pertama, menelusuri sumber utama, yang ternyata berasal dari pabrik besi baja PT Peter Metal Technology. Debu atau partikel dari proses pengolahan pabrik ini terbawa angin lewat cerobong hingga sampai ke pabrik pengolahan udang.
Kedua, untuk mencegah risiko lebih luas, Pemerintah juga telah memasang alat Radiation Portal Monitor (RPM) di pintu masuk dan keluar kawasan industri. Alat ini berfungsi mendeteksi potensi radiasi pada truk maupun material yang keluar masuk area tersebut.
“Sejauh ini hasil pemantauan menunjukkan tidak ada deteksi radiasi baru. Situasi sudah bisa dikatakan under control,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.