BREAKING NEWS
 

Perkuat Kepemimpinan Iklim Global

Indonesia Dorong Aksi Konkret Pasca COP30

Reporter : SUSILO YEKTI
Editor : WIDIA SAPUTRA
Minggu, 25 Januari 2026 06:55 WIB
Pertemuan bilateral antara Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, Indonesia dan the United Kingdom Special Representative for Climate, Rachel Kyte, di Inggris, Jumat (23/1/2026). (Foto: Dok. kemenlh)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat kepemimpinan iklim global dengan mendorong aksi yang lebih konkret pasca Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil.

Upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi strategis dengan United Kingdom, terutama dalam mendorong mobilisasi pembiayaan iklim dan penguatan kerja sama teknis.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyampaikan hal itu setelah Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bertemu dengan United Kingdom Special Representative for Climate, Rachel Kyte, di Inggris, Jumat (23/1/2026).

Baca juga : Dari 21 Kecamatan, Bisa Diperoleh Rp 50-an Miliar

Dalam pertemuan tersebut, Hanif menekankan harapan Indonesia terhadap kemajuan yang lebih konkret dalam mobilisasi pembiayaan iklim, khususnya untuk agenda adaptasi serta kerugian dan kerusakan (loss and damage), termasuk penguatan panduan operasional dalam implementasinya.

“Dari perspektif kami, hasil COP30 di Belém belum memberikan tingkat kemajuan kolektif yang dituntut oleh krisis iklim,” ujar Hanif dalam keterangan resminya, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, pesan tersebut sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai suara kritis yang mendorong komunitas global agar tidak kehilangan momentum dalam menjaga target kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius, terutama di tengah dinamika geopolitik internasional yang terus berkembang.

Baca juga : Fundamental Ekonomi RI Masih Solid Dan Kokoh

Urgensi penguatan aksi iklim, lanjut Hanif, semakin terasa jika melihat kondisi di dalam negeri. Indonesia baru-baru ini menghadapi bencana hidrometeorologi dengan dampak besar, khususnya di wilayah Sumatera.

Adsense

“Bencana hidrometeorologi di Sumatera sangat menghancurkan. Lebih dari 1.000 orang meninggal dunia, ratusan lainnya masih hilang, dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi. Kehilangan nyawa yang tragis serta dampak ekonomi yang signifikan ini menegaskan perlunya segera memperkuat analisis risiko iklim, sistem peringatan dini, dan kapasitas kesiapsiagaan,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Hanif mengungkapkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat kerugian akibat bencana tersebut mencapai lebih dari 3,1 miliar dolar AS. Angka tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan ketangguhan nasional dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense