Dark/Light Mode

Rupiah Tertekan Tak Cerminkan Perekonomian Buruk

Fundamental Ekonomi RI Masih Solid Dan Kokoh

Minggu, 25 Januari 2026 06:45 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sumber ekon.go.id
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sumber ekon.go.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan nilai tukar rupiah alami tekanan dolar Amerika Serikat (AS) bukan karena perekonomian Indonesia memburuk. Karena, seluruh fundamental ekonomi masih bagus. Publik diharapkan tidak khawatir berlebihan. Apalagi, Pemerintah akan bergerak terus menstabilkan mata uang garuda.

Pada awal 2026, nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp 17.000 per dolar AS seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar, di tengah fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih solid.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Pemerintah terus mencermati dinamika pergerakan rupiah yang dalam beberapa hari perdagangan sempat melemah.

Baca juga : Prabowo Perkuat Posisi RI Di Panggung Global

“Perkembangan tersebut akan menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan Pemerintah ke depan,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Mantan Menteri Perindustrian itu mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi nasional.

Ia mengungkapkan, kinerja ekspor, posisi cadangan devisa, serta daya tahan ekonomi domestik masih berada dalam batas yang aman.

“Secara keseluruhan, fundamental ekonomi kita baik,” ujarnya.

Baca juga : Hubungan Bupati Jember Dan Wakilnya Makin Runyam

Politisi Partai Golkar itu juga memastikan, Pemerintah tetap memantau pergerakan rupiah meski saat ini mulai keluar dari tekanan dan mencatat penguatan tipis.

“Optimisme terhadap stabilitas rupiah tentunya didukung oleh kondisi fundamental yang tetap kuat,” ujarnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pelemahan rupiah lebih dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, termasuk faktor geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menilai, kekhawatiran publik terhadap potensi krisis akibat pelemahan rupiah yang saat ini terjadi juga tidak beralasan.

Baca juga : Bank Sentral Tepat Pertahankan BI-Rate

“Tidak perlu khawatir rupiah akan memicu krisis ekonomi, karena indikator makroekonomi Indonesia masih terjaga,” ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Ia menjelaskan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas 5 persen. Inflasi terkendali di kisaran 3 persen, serta defisit transaksi berjalan tetap dalam level aman.

Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter saat ini juga berjalan selaras untuk menjaga stabilitas dan mendorong kepercayaan investor.

“Fundamental kita sangat baik dan kebijakan sudah sinkron. Dengan kondisi ini, ekonomi akan bergerak lebih cepat, investor masuk, rupiah dan pasar modal menguat,” jelasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.