BREAKING NEWS
 

Mengawal Ketahanan Gizi Menuju Indonesia Emas 2045

Susu & Berjuta Harapan: MBG Gerakkan Ekonomi Daerah

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Rabu, 25 Februari 2026 08:05 WIB
Ilustrasi: Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin diposisikan sebagai instrumen strategis dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi daerah. Integrasi susu dalam program ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menyentuh kesiapan industri nasional, daya dukung peternakan sapi perah, kapasitas pengolahan, hingga keseimbangan pasar komersial.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan populasi sapi perah nasional mencapai 485.809 ekor. Dari jumlah tersebut, sapi betina laktasi tercatat 211.739 ekor, dengan rata-rata produksi 12,47 liter per ekor per hari. Total produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) mencapai 808.352.840 kilogram per tahun, setara sekitar 2.215 ton per hari atau kurang lebih 2 juta liter per hari. Angka ini menjadi fondasi utama dalam menghitung kebutuhan susu untuk MBG.

Dalam skema awal, kandungan SSDN pada susu sekolah ditetapkan minimal 20 persen. Jika takaran susu 115–125 ml, maka porsi SSDN berkisar 23–25 ml per kemasan. Dengan sasaran 74 juta siswa (TK-SD 54 juta dan SMP-SMA 20 juta), serta asumsi operasional sekitar 60 juta penerima aktif melalui 20.000 dapur SPPG, kebutuhan susu menjadi signifikan.

Baca juga : Modern & Dekat Kawasan Perumahan, Stasiun Jatake Harapan Baru Gerakan Ekonomi

Jika diberikan dua kali seminggu selama setahun (96 hari), kebutuhan mencapai 144 juta liter per tahun untuk 60 juta siswa, atau sekitar 18 persen dari total produksi SSDN nasional. Jika cakupan diperluas ke 74 juta siswa, kebutuhan naik menjadi 177,6 juta liter per tahun atau sekitar 22 persen produksi nasional.

Skenario pemberian setiap hari sekolah dapat menyerap 444 juta liter per tahun—setara 55 persen produksi SSDN saat ini—yang berpotensi memicu kompetisi ketat antara pasar komersial dan kebutuhan MBG.

Secara agregat, susu segar belum tergolong langka. Namun, persaingan memperolehnya meningkat karena sebagian alokasi terserap untuk program. Kapasitas hilir juga menjadi tantangan. Produksi susu Ultra High Temperature (UHT) nasional saat ini sekitar 360 juta kemasan per bulan atau 4,32 miliar kemasan per tahun.

Baca juga : Menuju Indonesia Emas 2045, Wihaji Tempatkan Keluarga Jadi Fondasi Pembangunan

Sementara kebutuhan MBG untuk 60 juta siswa mencapai 5,76 miliar kemasan per tahun, dan untuk 74 juta siswa sekitar 7,1 miliar kemasan per tahun. Kesenjangan ini memicu antrean produksi serta kelangkaan relatif varian UHT full cream plain di pasar.

Untuk menghindari pengambilan jatah pasar komersial, tambahan produksi 144 juta liter SSDN membutuhkan sekitar 31–38 ribu sapi betina laktasi tambahan, tergantung produktivitas harian. Hingga Desember 2025, realisasi pengadaan 12.769 sapi bunting berpotensi menghasilkan tambahan 25.538 induk produktif.

Adsense

Jika pengadaan dilanjutkan, kebutuhan tambahan dinilai realistis tercapai dalam beberapa tahun ke depan, meski permintaan komersial terus tumbuh sekitar 6 persen per tahun.

Baca juga : Indonesia Jadi Middle Power Ekonomi Dunia

Aspek distribusi menjadi faktor penentu. Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, menegaskan bahwa rendahnya konsumsi susu berisiko menghambat ambisi Indonesia menuju 2045.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense