BREAKING NEWS
 

Dari Pandeglang, Ketakwaan Dan Agenda Besar Ketahanan Pangan

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 19 Maret 2026 17:19 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama pengasuh Pondok Pesantren Mira Institute Adi Hidayat di Pandeglang, Banten, Senin. (17/3/2026). Dok. Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menghabiskan dua malam untuk beritikaf di Pondok Pesantren Mira Institute, Pandeglang, Banten, pimpinan Ustadz Adi Hidayat pada 16-18 Maret 2026. Di tengah padatnya urusan negara, momen itu menghadirkan pesan yang tenang namun kuat: bahwa mengurus pangan bukan semata soal angka produksi, gudang, distribusi, dan harga, melainkan juga soal kejernihan hati dalam memikul amanah besar yang menyangkut hajat hidup rakyat.

Pesan itu terasa relevan mengingat posisi Zulkifli Hasan berada di simpul koordinasi kebijakan pangan nasional. Sejak dilantik pada 21 Oktober 2024, ia bertanggung jawab memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, terutama menjelang Ramadan hingga Idul Fitri.

Belum lama ini, Presiden Prabowo Subianto memanggilnya ke Istana Merdeka. Arahan yang diberikan jelas: stok pangan harus aman, harga bahan pokok terkendali, dan distribusi berjalan lancar.

Baca juga : MPSI: Penguatan Literasi Bagian Penting Ketahanan Nasional

Dalam suasana seperti itu, pilihan untuk berdiam sejenak di pesantren terasa relevan. Mira Institute dan lingkungan dakwah Ustadz Adi Hidayat selama ini identik dengan penekanan pada ilmu, keteraturan berpikir, dan kedalaman makna ibadah. Maka, ketika seorang pejabat yang menangani pangan nasional hadir di ruang seperti itu, publik dapat menangkap satu makna yang lebih luas: kebijakan yang baik lahir bukan hanya dari rapat dan data, tetapi juga dari kesadaran moral bahwa pangan adalah amanah, bukan sekadar urusan administratif.

Apalagi, dunia sedang bergerak dalam ketidakpastian yang keras. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang menempatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam pusaran krisis telah mengguncang infrastruktur energi kawasan dan mendorong harga minyak dunia melonjak. Reuters melaporkan pada 19 Maret 2026 harga minyak Brent sempat menembus sekitar US$112 per barel setelah serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk. Bagi Indonesia, gejolak semacam ini tidak pernah berhenti di pasar minyak saja. Ia bisa merembet ke ongkos logistik, biaya produksi, tekanan harga, hingga stabilitas pasokan pangan.

Adsense

Di sinilah ketakwaan menemukan makna publiknya. Pada masa sulit, bangsa membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cepat bertindak, tetapi juga matang secara batin. Ketakwaan kepada Allah SWT memberi landasan agar kebijakan tidak lahir dari kepanikan, tidak dibimbing oleh kepentingan sesaat, dan tetap berpihak pada kemaslahatan rakyat.

Baca juga : Dukung Mudik Lebaran Tenang, BRI Siapkan Perlindungan Asuransi Premi Terjangkau

Dalam kerangka itu, pesan Al-Quran melalui Surah Yusuf terasa sangat relevan: pada masa lapang, pangan harus dikelola dengan disiplin, hasil tidak boleh dihabiskan tanpa perencanaan, dan cadangan perlu disiapkan untuk menghadapi musim sulit. Inti pesannya jelas: ketahanan pangan adalah perpaduan antara visi jauh ke depan, tata kelola yang tertib, dan kepemimpinan yang amanah.

Kabar baiknya, Indonesia memasuki fase global yang berat ini dengan pijakan yang lebih kuat. Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, naik 13,29 persen dibanding 2024. Produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk juga meningkat menjadi 34,7 juta ton. Pada Sidang Kabinet Paripurna 13 Maret 2026, pemerintah juga melaporkan bahwa cadangan beras nasional telah mencapai sekitar 4 juta ton, tertinggi dalam sejarah, dan disebut cukup untuk menopang kebutuhan selama 324 hari. Ini bukan capaian kecil; ini memberi ruang gerak yang jauh lebih kuat bagi negara untuk menjaga stabilitas di tengah gejolak dunia.

Peran Zulkifli Hasan layak dibaca lebih luas dari sekadar koordinasi harian. Ia tidak hanya dituntut menjaga harga dan pasokan tetap aman menjelang hari besar keagamaan, tetapi juga mengorkestrasi langkah menuju kemandirian pangan yang lebih kokoh. Presiden Prabowo sendiri pada 13 Maret lalu menegaskan bahwa krisis global justru harus dipakai untuk mempercepat lompatan Indonesia menuju swasembada pangan dan energi. Arah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin hanya bertahan dari krisis, tetapi juga menjadikannya momentum untuk memperkuat fondasi nasional.

Baca juga : Safari Ramadan Di Riau, Kapolri: Perkuat Silaturahmi Dan Jaga Persatuan

Rencana ke depan pun mulai terlihat semakin konkret. Pemerintah mendorong perlindungan lahan sawah agar tidak mudah tergerus alih fungsi, dengan lahan sawah dilindungi di 12 provinsi seluas 2,75 juta hektare dan rencana penguatan regulasinya melalui revisi Perpres Nomor 59 Tahun 2019. Pada saat yang sama, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menargetkan 30 ribu Koperasi Desa Merah Putih beroperasi pada Juni 2026, bukan hanya sebagai penggerak ekonomi desa, tetapi juga sebagai offtaker hasil pertanian, perikanan, dan peternakan serta pemasok bahan baku bagi program Makan Bergizi Gratis. Di sektor protein, pemerintah juga menyiapkan pembangunan 2.000 kampung nelayan dan 20 ribu hektare tambak guna memperkuat pasokan ikan dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Semua itu menunjukkan bahwa ketahanan pangan yang dibangun pemerintah tidak berhenti pada beras semata. Arah ke depan mulai menyentuh perlindungan lahan, penguatan kelembagaan desa, distribusi hulu-hilir, hingga pemenuhan protein bagi masyarakat. Dengan kata lain, yang sedang dirancang bukan hanya keamanan pasokan jangka pendek, melainkan ekosistem pangan nasional yang lebih utuh dan tahan guncangan.

Karena itu, dua malam Zulkifli Hasan di Pandeglang layak dibaca sebagai isyarat yang lebih dalam daripada sekadar agenda pribadi. Di tengah perang, gejolak energi, dan ketidakpastian global, Indonesia memerlukan lebih dari sekadar optimisme. Indonesia memerlukan optimisme yang disertai kerja nyata, tata kelola yang rapi, dan fondasi ketakwaan yang menuntun arah kebijakan. Dari ruang yang hening di pesantren, tersampaikan satu pelajaran penting: bangsa yang ingin kuat pangannya harus kuat pula nilai-nilainya. Dan justru di tengah gejolak Timur Tengah itulah, Indonesia punya alasan untuk tetap menatap ke depan dengan tenang dan percaya diri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense