Dari Pertumbuhan Artificial ke Fundamental
Dony menjelaskan, pertumbuhan artificial adalah kondisi ketika ekonomi terlihat tumbuh, tetapi tidak ditopang fondasi yang kuat dan tidak dirasakan merata oleh masyarakat. Ia mencontohkan, pertumbuhan seperti itu kerap diiringi meningkatnya ketimpangan, melemahnya kelas menengah, dan manfaat ekonomi yang hanya dinikmati kelompok tertentu.
Sebaliknya, pertumbuhan fundamental menekankan pada kekuatan ekonomi riil. Pertumbuhan ini bertumpu pada sektor produktif, pemerataan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Baca juga : Realisasi Investasi Serap 706 Ribu Tenaga Kerja
“Yang ingin dibangun adalah pertumbuhan yang nyata, merata, dan bisa dirasakan seluruh rakyat,” kata Dony.
Dalam konteks tersebut, BUMN didorong menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional.
Pemerintah mulai mengadopsi pendekatan state capitalism, di mana peran negara diperkuat dalam pembangunan ekonomi. Pemerintah kini mengubah pola lama BUMN yang berjalan sendiri-sendiri menjadi lebih terintegrasi dan terarah.
Baca juga : Rano: DKI Akan Olah Sampah Jadi Listrik
Menurut Dony, model lama BUMN memiliki banyak keterbatasan. Perusahaan pelat merah berjalan sendiri tanpa keterkaitan yang kuat satu sama lain. Kata dia, kondisi tersebut berdampak pada lemahnya daya tahan perusahaan. Tidak sedikit BUMN yang akhirnya kesulitan keuangan hingga berhenti beroperasi.
Ia mencontohkan sejumlah perusahaan yang dulu dikenal kuat, tapi akhirnya mengalami penurunan karena tidak mampu beradaptasi dan tidak mendapat dukungan yang terintegrasi.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah melakukan perubahan pendekatan dalam pengelolaan BUMN. Transformasi dilakukan agar BUMN tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu ekosistem.
Baca juga : Inter Gila Patahkan Hati Como
BUMN kini diarahkan menjadi motor penggerak ekonomi nasional, sejalan dengan penguatan peran negara dalam pembangunan ekonomi.
Pendekatan ini dikenal sebagai state capitalism, di mana perusahaan milik negara memainkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, pemerintah membentuk Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia. Berbeda dengan sovereign wealth fund di negara lain, Danantara tidak mengandalkan surplus anggaran negara. Sumber dananya berasal dari dividen BUMN. “Yang kita kelola itu dividen BUMN. Jadi keberlanjutannya tergantung pada kinerja BUMN,” ujar Dony.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.