RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif, Badan Karantina Indonesia (BARANTIN) menunjukkan sebuah langkah strategis yang tidak banyak disorot, namun berdampak langsung pada posisi Indonesia di pasar dunia. Melalui hilirisasi sektor pertanian yang terstruktur, Indonesia kini mulai mengunci pengaruhnya dalam rantai pasok global—dimulai dari komoditas unggulan: durian.
Barantin bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah secara resmi melepas ekspor 459 ton durian beku ke Tiongkok dengan nilai mencapai Rp42,5 miliar. Ekspor ini bukan sekadar transaksi dagang, melainkan simbol keberhasilan transformasi sistemik dari hulu ke hilir dalam industri pertanian Indonesia.
Kepala Barantin Sahat M Panggabean sangat menghargai kerja sama dari semua pemangku kepentingan yang terlibat, mulai dari petani, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga kementerian dan lembaga terkait lainnya. “Keberhasilan ekspor durian yang berhasil menembus pasar Tiongkok adalah hasil dari kerja keras dan kolaborasi kita semua,” kata Sahat, dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Lebih lanjut Sahat mengatakan keberhasilan membuka akses pasar Tiongkok dimulai dari pertemuan bilateral Indonesia dan Tiongkok pada bulan Juli 2023 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur hingga ditandatanganinya protocol durian beku yang terselenggara secara desk to desk pada tanggal 25 Mei 2025.
Baca juga : Fundamental Ekonomi Kuat, Indonesia Jadi ‘Cahaya’ Di Mata Investor Global
Setelah ditandatanganinya protokol durian beku pada tanggal 25 Mei 2025 antara Indonesia dan Tiongkok hingga tanggal 15 April 2026, sudah 151 kontainer dikirim ke Tiongkok dengan nilai ekonomi mencapai Rp377,5 miliar. Badan Karantina Indonesia terus memastikan kualitas, keamanan pangan, serta kepatuhan terhadap persyaratan internasional untuk menjaga kepercayaan dunia,” sambungnya.
Lebih dari sekadar angka, capaian ini merupakan hasil dari proses panjang pembukaan akses pasar internasional, yang ditandai dengan kesepakatan antara Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Badan Karantina Indonesia dan Tiongkok yang diwakili oleh GACC yang tertuang dalam suatu protokol ekspor durian beku pada 25 Mei 2025. Sebelumnya, durian Indonesia harus melalui negara perantara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia sebelum mencapai pasar Tiongkok. Kini, jalur langsung telah terbuka—memotong rantai distribusi dan meningkatkan nilai tambah nasional.
Transformasi ini berdampak signifikan pada efisiensi logistik. Waktu pengiriman yang sebelumnya mencapai sekitar 56 hari kini dipangkas menjadi hanya 22–26 hari, sementara biaya distribusi turun hingga dua kali lipat lebih efisien. Dampak langsungnya adalah peningkatan arus kas bagi pelaku usaha dan percepatan siklus produksi nasional.
Lebih jauh, langkah ini merupakan implementasi nyata dari agenda hilirisasi nasional— mengubah Indonesia dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pemain aktif dalam industri bernilai tambah tinggi. Durian tidak lagi hanya dijual sebagai komoditas segar, tetapi diolah menjadi produk beku dengan standar internasional, memastikan kualitas, keamanan pangan, dan kepatuhan terhadap regulasi global.
Baca juga : Produk Industri Lokal Siap Bersaing Di Pasar Global
Potensi pasar yang disasar pun tidak main-main. Permintaan durian di Tiongkok mencapai sekitar USD 8 miliar per tahun, membuka peluang besar bagi Indonesia untuk merebut 5–10% pangsa pasar global, dengan estimasi devisa hingga Rp12,8 triliun per tahun.
Hingga April 2026, total ekspor durian beku Indonesia ke Tiongkok telah mencapai 4.077 ton dengan nilai ekonomi Rp377,5 miliar, menunjukkan akselerasi yang cepat sejak dibukanya akses ekspor langsung.
Baca juga : Indonesia Tetap Seksi di Tengah Gejolak Global
“Keberhasilan ekspor langsung ini tentunya menegaskan durian atau “emas berduri’ asal Sulawesi Tengah sebagai representasi Indonesia menuju raja durian di dunia,” ujar Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid.
Anwar menegaskan keberhasilan ini sekaligus menunjukkan kekuatan ekosistem nasional—dari petani, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga kementerian dan lembaga—yang bekerja secara kolaboratif dalam memastikan produk Indonesia mampu memenuhi standar global. Dengan dukungan Pemerintah, Barantin memainkan peran kunci dalam menjamin kualitas dan keamanan produk, sekaligus menjaga kepercayaan pasar internasional.
Di tingkat daerah, Sulawesi Tengah kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sentra durian nasional dengan potensi produksi besar dan infrastruktur hilirisasi yang semakin matang. Ekspor langsung ini juga memperkuat identitas daerah sebagai pemain global dalam komoditas hortikultura strategis.
Langkah ini mungkin tidak disertai dengan gebrakan yang bising. Namun, dampaknya nyata— memperpendek rantai pasok, meningkatkan nilai tambah, membuka akses pasar global, dan yang terpenting, menggeser posisi Indonesia dari “pengikut pasar” menjadi “penentu arah pasar”.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.