Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Keren, Adam Alis Bisa Bersaing Bareng Cristiano Ronaldo
- Eriksen Kembali Kolaps, Laga Denmark Vs Ukraina Dihentikan
- Gempa M7,7 Guncang Mindanao Filipina, Tsunami Kecil Terdeteksi di Sulut & Malut
- Dramatis! Garuda Muda Lolos ke Semifinal ASEAN U-19 2026
- Peduli Sejak Dini, Siswa JIS Buat Proyek Air Bersih Water Guardian untuk Warga
Kewaspadaan Badai Geopolitik Indonesia Di Tengah Pusaran Konflik Global
Senin, 9 Maret 2026 06:56 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
RM.id Rakyat Merdeka - Dunia sedang bergerak dalam pusaran ketegangan geopolitik yang semakin kompleks. Perang antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda, konflik bersenjata di Timur Tengah kembali memanas dengan eskalasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Sementara di Asia Selatan ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan meningkat di kawasan perbatasan. Di Asia Tenggara, hubungan Thailand dan Kamboja kembali menegang akibat sengketa wilayah, sementara di Asia Timur rivalitas China dan Jepang semakin tajam setelah berbagai kebijakan pembatasan ekonomi dan keamanan saling diberlakukan.
Dalam situasi seperti itu, langkah Presiden Prabowo Subianto mengundang para tokoh bangsa di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (3/3/2026) malam, untuk membahas dampak perang dan dinamika global mencerminkan kesadaran strategis bahwa Indonesia tidak dapat memandang gejolak internasional sebagai peristiwa yang jauh dari kepentingan nasional. Acara penting ini mengundang para mantan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, serta sejumlah ketua umum partai politik (parpol), dengan agenda utama membahas kondisi geopolitik terkini dan dampaknya terhadap Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia perlahan bergerak dari sistem global yang relatif stabil menuju konfigurasi kekuatan yang lebih terfragmentasi. Rivalitas antara kekuatan besar semakin terbuka, sementara konflik regional yang semula terbatas kini berpotensi melebar menjadi konfrontasi yang lebih luas. Dalam konteks ini, kewaspadaan geopolitik bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi negara seperti Indonesia yang memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas global.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan eskalasi konflik global bahkan telah menjadi topik utama dalam berbagai forum internasional. Dalam pertemuan-pertemuan global seperti World Economic Forum di Davos, para pemimpin dunia tidak lagi hanya membicarakan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga risiko geopolitik yang dapat mengguncang stabilitas global. Ketika konflik regional saling bertaut dan rivalitas antarnegara besar semakin tajam, risiko salah perhitungan strategis menjadi semakin tinggi. Sejarah menunjukkan bahwa perang besar sering kali tidak lahir dari satu konflik tunggal, melainkan dari akumulasi ketegangan yang saling berkelindan hingga akhirnya meledak menjadi krisis global.
Baca juga : Puasa Dan Karakter Pancasila Di Tengah Ketahanan Geopolitik Indonesia
Dinamika tersebut, bagi Indonesia, memiliki implikasi yang sangat nyata. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di persimpangan jalur perdagangan internasional, stabilitas geopolitik global memiliki pengaruh langsung terhadap keamanan nasional, ekonomi domestik, dan posisi diplomatik Indonesia di dunia. Gangguan terhadap stabilitas kawasan dapat mengganggu rantai pasok global, memperburuk volatilitas harga energi, serta mengancam stabilitas pangan yang menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat.
Ketika ketegangan global meningkat, jalur-jalur tersebut dapat menjadi ruang kontestasi geopolitik yang memperbesar risiko bagi stabilitas kawasan. Di tengah situasi ini, prinsip politik luar negeri bebas aktif menjadi sangat relevan. Sejak awal kemerdekaan, prinsip ini telah menjadi fondasi diplomasi Indonesia dalam menghadapi rivalitas kekuatan global. Bebas aktif bukan sekadar slogan politik, melainkan strategi geopolitik yang memungkinkan Indonesia menjaga kedaulatan dan independensi kebijakannya di tengah persaingan antarnegara besar.
Dalam sejarah diplomasi internasional, pendekatan bebas aktif telah memungkinkan Indonesia memainkan peran konstruktif dalam berbagai upaya perdamaian dunia. Indonesia tidak hanya menjaga jarak dari konflik global, tetapi juga aktif mendorong dialog, kerja sama, dan penyelesaian sengketa secara damai. Tradisi ini tercermin dalam keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum internasional serta komitmennya terhadap prinsip-prinsip multilateralisme.
Dengan mempertahankan posisi tersebut, Indonesia berupaya menjadi kekuatan penyeimbang yang menjembatani perbedaan kepentingan antarnegara. Kendati begitu, mempertahankan posisi bebas aktif di tengah dunia yang semakin terfragmentasi bukanlah tugas yang sederhana. Persaingan geopolitik sering kali disertai tekanan ekonomi, diplomatik, bahkan keamanan terhadap negara-negara yang berusaha menjaga netralitasnya. Oleh karena itu, politik luar negeri yang independen harus ditopang oleh kapasitas nasional yang kuat.
Baca juga : Geopolitik Dunia Berubah, Indonesia Harus Prioritaskan UU Pembumian Ideologi Pancasila
Ketahanan ekonomi, kemandirian energi, modernisasi pertahanan, serta penguatan diplomasi maritim menjadi elemen penting agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika geopolitik global. Dalam konteks ini, konsolidasi pandangan nasional di antara para tokoh bangsa menjadi sangat penting.
Negara yang mampu bertahan menghadapi krisis global, biasanya memiliki kohesi politik domestik yang kuat. Ketika para pemimpin nasional memiliki kesamaan pandangan mengenai kepentingan strategis bangsa, negara akan lebih siap menghadapi tekanan eksternal yang muncul dari perubahan geopolitik internasional. Konsultasi yang melibatkan berbagai tokoh bangsa mencerminkan kesadaran bahwa menghadapi potensi krisis global memerlukan kebijaksanaan kolektif yang melampaui kepentingan politik jangka pendek.
Dinamika geopolitik global juga menjadi pengingat, bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kapasitas militer atau ekonomi, tetapi juga oleh ketahanan sosial dan visi kebangsaan yang kokoh. Indonesia memiliki modal penting dalam hal ini melalui nilai-nilai Pancasila yang menempatkan perdamaian, kemanusiaan, dan keadilan sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Dalam dunia yang semakin terbelah oleh rivalitas kekuatan besar, pendekatan yang menekankan dialog dan kerja sama menjadi semakin relevan.
Dunia sedang memasuki era ketidakpastian yang ditandai oleh meningkatnya rivalitas kekuatan besar, konflik regional yang meluas, serta perubahan struktur ekonomi global. Maka kewaspadaan geopolitik dapat dipadukan dengan konsolidasi nasional yang kuat serta komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki peluang untuk tidak sekadar bertahan di tengah turbulensi global, tetapi juga memainkan peran yang lebih signifikan dalam menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian dunia.
Baca juga : Peran Geopolitik Dalam Mencairkan Kebekuan Birokrasi Negara
Di tengah badai geopolitik yang semakin besar, tantangan bagi Indonesia bukan hanya bagaimana menghindari pusaran konflik global. Tetapi juga bagaimana tetap berdiri teguh sebagai bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkontribusi bagi masa depan dunia yang lebih damai.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya