RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq optimistis Program Sekolah Rakyat mampu memutus rantai kemiskinan. Program ini disiapkan sebagai jalur pendidikan inklusif, berasrama, dan berbasis karakter bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Hal tersebut disampaikan Wamen Fajar dalam acara “Perjalanan Satu Tahun Program Sekolah Rakyat: Capaian Strategis dan Sinergi Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Wamen Fajar menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata tiga filosofi Presiden Prabowo, yakni memuliakan wong cilik, menjangkau yang tidak terjangkau, dan memberi kemungkinan bagi mereka yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.
“Beberapa waktu lalu, saya melihat langsung Sekolah Rakyat di Cibadak, Sukabumi, dan Sekolah Rakyat di Lombok Barat. Saya berinteraksi langsung dengan siswa, melihat proses pembelajaran di kelas, dan merasakan ada aura optimisme serta kepercayaan diri yang kuat. Anak-anak mulai punya mimpi,” ujar Wamen Fajar.
Wamen Fajar menegaskan, Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Mendikdasmen Abdul Mu’ti memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat, mulai dari penyusunan kurikulum, modul ajar, penyiapan guru, hingga penjaminan standar mutu pendidikan.
Baca juga : Atalia Praratya: Sekolah Rakyat Bantu Kelompok Rentan
Ia memastikan bahwa Sekolah Rakyat tetap berada dalam kerangka sistem pendidikan nasional dengan standar yang setara. Hal ini mencakup kurikulum, standar kompetensi lulusan, kualitas guru, hingga pengakuan ijazah.
“Kami memastikan standar Sekolah Rakyat sama dengan standar pendidikan nasional. Apa yang diajarkan terintegrasi dengan sekolah pada umumnya, namun ada penyesuaian sesuai kebutuhan peserta didik,” ujarnya.
Menurut Wamen Fajar, kurikulum Sekolah Rakyat tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga mengintegrasikan keterampilan hidup dan penguatan karakter. Dengan model pendidikan berasrama selama 24 jam, siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga dibentuk pola hidup dan nilai-nilai kemandirian.
“Sekolah Rakyat membangun budaya hidup yang sehat, mandiri dan berkarakter. Ini penting agar pendidikan benar-benar menjadi jalan mobilitas sosial, sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa naik kelas,” harapnya.
Dalam aspek tenaga pendidik, Wamen Fajar menekankan bahwa guru Sekolah Rakyat harus memenuhi ketentuan Undang-Undang Guru dan Dosen serta melalui proses seleksi tambahan, termasuk psikotes. Selain kompetensi akademik, guru juga dituntut memiliki kemampuan konseling karena berperan sebagai pendidik sekaligus pengasuh.
Baca juga : Sekolah Rakyat Di Blora Selamatkan Anak Dari Pernikahan Dini
“Guru di Sekolah Rakyat punya tugas mulia, harus mendampingi siswa selama 24 jam. Karena itu, mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter dan mendampingi keseharian siswa,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa lulusan Sekolah Rakyat akan memperoleh ijazah yang setara dengan pendidikan nasional, selama satuan pendidikan telah terakreditasi. Hal ini membuka peluang bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
“Pendidikan harus mengubah nasib seseorang. Dengan bekal akademik, keterampilan, dan karakter, kami yakin lulusan Sekolah Rakyat siap menghadapi masa depan dan membawa keluarganya keluar dari kemiskinan,” tegas alumnus program doktoral UGM tersebut.
Di akhir, Wamen Fajar menekankan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat membutuhkan sinergi lintas kementerian/lembaga serta dukungan pemerintah daerah secara berkelanjutan. Menurutnya, memutus mata rantai kemiskinan membutuhkan kerja bersama yang konsisten dan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala BPIP Rima Agristina menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi utama dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Menurutnya, nilai Pancasila dihadirkan tidak hanya dalam materi pembelajaran, tetapi juga dalam praktik keseharian siswa di lingkungan asrama.
Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Usulan Ini Memiliki Landasan Yang Kuat
Ia mencontohkan, penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) di sekolah bisa menjadi bagian dari pembentukan karakter dan melatih kedisiplinan, seperti bangun pagi, beribadah, makan sehat dan bergizi, berolahraga, gemar belajar, tidur cepat hingga bermasyarakat.
Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan tersebut merupakan wujud konkret dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico menegaskan bahwa sinergi Kemensos dan Kemendikdasmen menjadi contoh kerja sama yang baik dalam mendukung keberlanjutan Sekolah Rakyat. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemendikdasmen dalam penyiapan standar mutu, kurikulum, modul ajar, serta tenaga pendidik yang berkualitas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.