RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah mulai memasang alarm serius terhadap maraknya judi online yang menyasar anak-anak. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pun menyiapkan langkah pencegahan lewat penguatan literasi digital di sekolah.
Langkah itu dilakukan setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat hampir 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online. Mirisnya, sekitar 80 ribu anak di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun.
Mu’ti mengatakan, Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Kemendikdasmen bersama sejumlah kementerian dan lembaga sudah menandatangani kesepakatan bersama untuk memperkuat pengawasan penggunaan teknologi digital pada anak.
Baca juga : Wamen Irene: Ekraf Tak Boleh Ada Dalam Bubble
“Kami sudah melakukan penandatanganan kesepakatan bersama enam kementerian. Termasuk dengan Kapolri, terkait penggunaan teknologi digital, juga pembatasan penggunaan media sosial untuk mereka di bawah usia 16 tahun,” kata Mu’ti di Islamic Center Surabaya, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, salah satu langkah konkret yang segera diterapkan adalah memasukkan materi bahaya judi online ke dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program itu menyasar siswa baru agar lebih memahami risiko penggunaan ruang digital sejak dini.
“Kami di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui program MPLS, salah satu materi yang akan diberikan adalah penyuluhan tentang bahaya judi online bagi anak-anak sekolah,” ujarnya.
Baca juga : 5 Ketum Parpol Hadiri Pidato Presiden Di DPR
Mu’ti mengakui, banyak anak terjerumus judi online karena tidak memahami bahaya dunia digital. Awalnya, mereka hanya bermain gim daring. Namun, dari sana mereka diarahkan ke situs judi online melalui tautan maupun iklan digital.
“Sebagian anak yang terpapar memang karena tidak tahu. Mereka mungkin awalnya bermain game, kemudian tersesat ke judi online,” jelasnya.
Selain faktor minim literasi digital, pengaruh lingkungan dan kondisi sosial juga dinilai menjadi penyebab anak terpapar judi online. Karena itu, Pemerintah tidak hanya mengandalkan sekolah, juga memperkuat pengawasan dari lingkungan sekitar anak.
Baca juga : Pramono & Andra Soni Sepakat Perkuat Sinergi
“Ada juga yang terpengaruh lingkungan atau keadaan tertentu sehingga akhirnya terjerumus dalam judi online. Karena itu, kami terus memberikan penyuluhan secara terus-menerus,” katanya.
Mu’ti menambahkan, Kemendikdasmen kini memperkuat empat ekosistem pendidikan. Yakni sekolah, rumah, masyarakat, dan media. Keempat unsur itu dinilai harus bergerak bersama agar anak tidak mudah terpapar konten negatif di internet.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.