RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski rupiah kurang bertenaga. Menurutnya, sejumlah indikator utama menunjukkan ekonomi nasional tetap tumbuh di tengah goncangan global.
Hal itu dikatakan Airlangga menanggapi nilai tukar rupiah yang masih di level Rp 18.000 per dolar AS, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
"Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61 persen. Kemudian, neraca perdagangan year to date juga masih positif," ujar Airlangga.
Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), rupiah ditutup di level Rp 18.065 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat 63 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Meski menguat, rupiah masih bertahan di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Terkait defisit neraca perdagangan pada Juni 2026, Airlangga menjelaskan, kondisi tersebut dipicu kenaikan harga impor bahan bakar minyak (BBM) di pasar global, bukan akibat melemahnya daya saing ekspor nasional. "Kemarin satu bulan memang negatif karena harganya naik," katanya.
Baca juga : Perang Jilid III Amerika Vs Iran Menyeramkan
Menurutnya, kinerja ekspor komoditas utama seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Pemerintah, lanjut Airlangga, juga terus menjaga inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Selain menjaga inflasi, Pemerintah tengah menyiapkan berbagai insentif untuk mendukung sektor industri, termasuk pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang saat ini sedang disusun.
Pemerintah juga telah menetapkan bea masuk nol persen untuk impor LPG bagi industri petrokimia selama enam bulan untuk meningkatkan daya saing industri.
Selain itu, Airlangga mengatakan, berbagai program Pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan subsidi kredit pemilikan rumah (KPR), berjalan sesuai target. Kondisi sektor perbankan juga dinilai tetap terjaga.
"Dana pihak ketiga di perbankan juga tumbuh double digit, dan kita melihat kredit sudah mulai meningkat dibandingkan kuartal yang lalu," ujarnya.
Baca juga : Spanyol Vs Belgia, La Roja Pede Jaga “Kesucian”
Dengan berbagai indikator tersebut, Pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat bertahan di kisaran 5 persen. "Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," kata Airlangga.
Sementara itu, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, Indonesia masih membutuhkan tambahan aliran modal asing untuk memperkuat neraca pembayaran dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut dia, Indonesia memerlukan tambahan posisi investor asing sekitar 8-11 miliar dolar AS pada paruh kedua 2026. Hal itu akan sangat bergantung pada konsistensi konsolidasi fiskal, normalisasi imbal hasil obligasi pemerintah, serta kepastian arah kebijakan moneter.
"Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu, kita tidak boleh cepat berpuas diri," ujar Fakhrul.
Sementara itu, Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah dipengaruhi sentimen positif dari keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026.
Baca juga : Polisi Sita Emas, Uang Senilai Setengah Triliun
IMF juga memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2027, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan negara berkembang di kawasan Asia yang diperkirakan sebesar 4,8 persen.
Selain IMF, kata dia, Asian Development Bank (ADB) juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Meski demikian, proyeksi tersebut masih berada di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 5,4 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.