Dark/Light Mode

Gencatan Senjata Berakhir

Perang Jilid III Amerika Vs Iran Menyeramkan

Jumat, 10 Juli 2026 08:58 WIB
Ilustrasi perang jilid III AS vs Iran. (Gambar dibuat dengan Gemini)
Ilustrasi perang jilid III AS vs Iran. (Gambar dibuat dengan Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) dan Iran menghadapi perang jilid III setelah gencatan senjata kedua negara berakhir. Saling serang pun kembali terjadi dan membuat perang ini semakin menakutkan.

Presiden AS Donald Trump menganggap nota kesepahaman damai dengan Iran tak lagi berlaku. Dia pun menegaskan akan menggempur Iran habis-habisan.

"Kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka,” kata Trump kepada wartawan, saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO, di Ankara, Turki, Rabu (8/7/2026), sebagaimana dikutip Reuters

Trump mengatakan, negosiator AS sebenarnya dapat melanjutkan perundingan. Namun, ia menilai hal itu cuma buang-buang waktu. 

"Kami membuat kesepakatan, semua orang setuju, tidak ada senjata nuklir. Lalu mereka keluar, berbicara kepada pers mengatakan tidak pernah membicarakannya. Ada yang tak beres dengan mereka. Bagi saya, ini sudah berakhir," ujarnya.

Baca juga : Spanyol Vs Belgia, La Roja Pede Jaga “Kesucian”

Trump pun telah memerintahkan militer AS untuk kembali menyerang Iran. Ia mengklaim, serangan kali ini sangat keras.

"Kami baru saja menyerang mereka dengan sangat keras. Saya katakan kami menyerang mereka dengan skor 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kami, kami akan membalas dengan skor 20," kata Trump, dalam pesawat Air Force One seperti dilansir BBC, Kamis (9/7/2026).

Pihak Iran tidak takut dengan gertakan Trump. Pejabat tinggi militer Iran justru menantang Washington untuk melancarkan serangan darat ke negaranya. Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran Laksamana Muda Habibollah Sayyari menegaskan, pasukan Iran akan mengubah wilayah pesisir negara tersebut menjadi neraka bagi pasukan AS.

Ia mengatakan, pasukan militer, kepolisian, dan paramiliter Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kian kokoh di lapangan. Dengan hal ini, musuh tidak akan berpikir untuk mengerahkan pasukan di pesisir Iran.

"Musuh menyadari upaya apa pun untuk mendaratkan pasukan di pesisir Iran sama saja dengan memasuki neraka dunia yang tidak memiliki jalan keluar," ucapnya, seperti dilansir CBS News, Kamis (9/7/2026).

Baca juga : Polisi Sita Emas, Uang Senilai Setengah Triliun

Sayyari pun dengan lantang kembali menantang Trump. "Respons kami jelas. Jika kalian punya nyali, silakan datang," ucapnya.

Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei menegaskan, pasukan Iran tak gentar oleh gertakan dan ancaman Trump. "Kami siap menghadapi segala bentuk kejahatan," kata Rezaei.

Dalam tiga hari ini, militer kedua negara saling serang di Selat Hormuz dan sekitarnya. Yang terbaru, AS mengumumkan pasukannya telah menyerang 90 target militer Iran, Rabu (8/7/2026). AFP melaporkan, operasi militer terbaru AS ini dimaksudkan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

"Kami telah menyelesaikan serangkaian serangan tambahan terhadap Iran 8 Juli malam. Pasukan AS telah menghantam sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengintaian pesisir, lokasi penyimpanan rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik militer di sepanjang garis pantai Iran," tulis Komando Pusat AS alias CENTCOM. 

Rentetan serangan terbaru AS itu, tulis CENTCOM, menyusul keberhasilan pelaksanaan serangan di Iran malam sebelumnya, atau serangan 7 Juli waktu setempat. "Pasukan AS tetap waspada, memiliki kemampuan tempur yang mematikan, dan siap melaksanakan operasi sesuai arah Panglima Tertinggi," imbuh CENTCOM.

Baca juga : Pidato Di Peresmian B50, Prabowo Bicara Bahaya Jadi ”Bangsa Kepiting”

Sedikitnya delapan personel militer Iran dilaporkan meninggal akibat gelombang serangan terbaru itu. "Menyusul agresi kriminal yang dilakukan pagi ini oleh militer teroris AS terhadap wilayah-wilayah di Iran bagian selatan, delapan anggota pemberani dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut militer Republik Islam Iran di Bandar Abbas (wilayah selatan) dan Bushehr (wilayah barat daya) gugur sebagai syuhada," demikian pernyataan militer Iran, dilansir AFP, Kamis (9/7/2026).

Menurut laporan kantor berita IRNA, suara pesawat tempur AS terdengar di atas Pulau Kish dan sejumlah ledakan mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar, yang sebagian mengalami pemadaman listrik. Laporan IRNA juga menyebut, serangan terhadap pangkalan militer di wilayah pesisir Bushehr, yang menjadi lokasi satu-satunya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sipil di Iran. Di Iran bagian timur laut, sebuah jembatan kereta api rusak.

Iran pun membalas dengan serangan terbaru ke sejumlah negara tempat pangkalan militer AS. Yang terbaru, sirene peringatan serangan udara meraung di Kuwait dan Bahrain, Kamis (9/7/2026). Teheran mengancam akan memperluas serangan ke pangkalan lainnya di kawasan Teluk jika AS terus menggempur mereka.

"Kami telah mereka menyerang infrastruktur dan fasilitas utama di pangkalan AS di Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain, dengan menggunakan rudal dan drone," tulis korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dilansir AFP, Kamis (9/7/2026).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.