Dark/Light Mode

Tembus 18.000/Dolar, Rupiah Lunglai

Jumat, 10 Juli 2026 07:30 WIB
Petugas menunjukkan lembaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di sebuah gerai penukaran valuta asing (money changer) di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Foto: Putu Wahyu Rama/RM.id)
Petugas menunjukkan lembaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di sebuah gerai penukaran valuta asing (money changer) di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Foto: Putu Wahyu Rama/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya Bank Indonesia (BI) menaikkan suka bunga acuan, belum berdampak ke rupiah. Hingga penutupan perdagangan pada Kamis (9/7/2026) sore, rupiah masih lunglai terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Berdasarkan data Refinitiv, sejak pembukaan perdagangan, rupiah melemah 0,33 persen ke level Rp 18.050 per dolar AS. Bahkan sempat menyentuh Rp 18.095 per dolar AS. 

Meski sempat memangkas pelemahan, rupiah akhirnya ditutup di level Rp 18.070 per dolar AS atau turun 0,44 persen. Posisi tersebut menjadi yang terlemah dalam sebulan terakhir. 

Baca juga : Diduga Terima Gratifikasi Rp 30 Miliar, Eks Sekjen MPR Ditahan KPK

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). 

Meski dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pertengahan Juni lalu The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen, pasar justru bereaksi negatif setelah sejumlah pejabat The Fed memberi sinyal suku bunga masih berpotensi dinaikkan. 

Sinyal hawkish tersebut mendorong indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam setahun. Dari sekitar 95 pada Januari 2026, indeks DXY kini menembus level 101. 

Baca juga : Lucius Karus: Regenerasi Politik Sebuah Keniscayaan

"Kombinasi sinyal hawkish pejabat The Fed dan menguatnya DXY ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir membuat mata uang sejumlah negara, termasuk rupiah, tertekan terhadap dolar AS," jelas Denny.

Menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan tidak tinggal diam. Bank sentral mengerahkan seluruh instrumen bauran kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah. Memantau pasar selama 24 jam, baik di pasar domestik maupun luar negeri. 

Langkah yang ditempuh meliputi intervensi di pasar spot, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar. 

Baca juga : Ahmad Irawan: Regenerasi Tanggung Jawab Partai Politik

Menurut Denny, langkah tersebut membuat pelemahan rupiah relatif lebih terkendali dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. 

"Kita melihat perkembangan rupiah relatif masih termasuk baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya," katanya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.