Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Bantah Mundur, Jampidsus Fokus Tuntaskan Kasus Prioritas
- Pramono Siapkan Ring Tinju Untuk Tekan Tawuran di Jakarta
- Pemprov DKI Gelontorkan Rp 300 Miliar Pembebasan Lahan Normalisasi Kali Ciliwung
- Serba Hitam, Bupati Sukoharjo yang di-OTT Tiba di Gedung KPK
- Patrick Berg Bersinar Jadi Kunci Sukses Norwegia
RM.id Rakyat Merdeka - Upaya Bank Indonesia (BI) menaikkan suka bunga acuan, belum berdampak ke rupiah. Hingga penutupan perdagangan pada Kamis (9/7/2026) sore, rupiah masih lunglai terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, sejak pembukaan perdagangan, rupiah melemah 0,33 persen ke level Rp 18.050 per dolar AS. Bahkan sempat menyentuh Rp 18.095 per dolar AS.
Meski sempat memangkas pelemahan, rupiah akhirnya ditutup di level Rp 18.070 per dolar AS atau turun 0,44 persen. Posisi tersebut menjadi yang terlemah dalam sebulan terakhir.
Baca juga : Diduga Terima Gratifikasi Rp 30 Miliar, Eks Sekjen MPR Ditahan KPK
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Meski dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pertengahan Juni lalu The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen, pasar justru bereaksi negatif setelah sejumlah pejabat The Fed memberi sinyal suku bunga masih berpotensi dinaikkan.
Sinyal hawkish tersebut mendorong indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam setahun. Dari sekitar 95 pada Januari 2026, indeks DXY kini menembus level 101.
Baca juga : Lucius Karus: Regenerasi Politik Sebuah Keniscayaan
"Kombinasi sinyal hawkish pejabat The Fed dan menguatnya DXY ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir membuat mata uang sejumlah negara, termasuk rupiah, tertekan terhadap dolar AS," jelas Denny.
Menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan tidak tinggal diam. Bank sentral mengerahkan seluruh instrumen bauran kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah. Memantau pasar selama 24 jam, baik di pasar domestik maupun luar negeri.
Langkah yang ditempuh meliputi intervensi di pasar spot, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar.
Baca juga : Ahmad Irawan: Regenerasi Tanggung Jawab Partai Politik
Menurut Denny, langkah tersebut membuat pelemahan rupiah relatif lebih terkendali dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.
"Kita melihat perkembangan rupiah relatif masih termasuk baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya," katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya