BREAKING NEWS
 

S&P Pertahankan Rating BBB, Ekonomi RI Makin Dipercaya

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Selasa, 14 Juli 2026 07:48 WIB
Menko Perekonomia Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mengafirmasi peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil, yang mencerminkan kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

Keputusan tersebut disampaikan dalam publikasi Research Update bertajuk Indonesia Ratings Affirmed At ‘BBB/A-2’; Outlook Stable yang dirilis pada Senin (13/7/2026).

Afirmasi itu menempatkan Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade sekaligus menunjukkan ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global, volatilitas harga komoditas, dan pengetatan kondisi keuangan dunia.

Dalam laporannya, S&P menilai peringkat Indonesia didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, kebijakan makroekonomi yang prudent, serta beban utang pemerintah dan utang eksternal neto yang relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat setara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, afirmasi tersebut merupakan bentuk kepercayaan komunitas internasional terhadap konsistensi kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

Baca juga : Ramalan 3 Lembaga Dunia, Ekonomi RI Masih Tumbuh 5 Persen

“Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah. Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5 persen, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3 persen PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).

Menurut S&P, perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pertumbuhan ekonomi riil diperkirakan mencapai 5,1 persen pada 2026 dengan rata-rata 4,9 persen pada periode 2026-2029.

Lembaga tersebut juga mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6 persen secara tahunan pada triwulan I-2026 didukung peningkatan belanja pemerintah dan percepatan pencairan anggaran. Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) per kapita diperkirakan mencapai sekitar 5.200 dolar AS pada 2026.

Adsense

Di bidang fiskal, S&P menilai komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen PDB menjadi salah satu faktor utama yang menopang outlook stabil. Rekam jejak kepatuhan terhadap batas defisit tersebut dinilai memperkuat profil kredit Indonesia.

Kinerja penerimaan negara juga mendapat apresiasi setelah tumbuh 19 persen pada lima bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh perbaikan administrasi perpajakan, kenaikan penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN), serta meningkatnya penerimaan royalti dan dividen dari sektor sumber daya alam.

Baca juga : Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah

Selain itu, S&P menyoroti langkah pemerintah memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam melalui sentralisasi pengelolaan dan upaya menekan kebocoran penerimaan negara.

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan devisa ekspor melalui penertiban praktik miss-invoicing dan transfer pricing. Upaya tersebut dinilai akan semakin efektif dengan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).

Di sektor moneter, S&P menilai Bank Indonesia tetap mampu menjaga inflasi tetap terkendali dengan independensi operasional yang kuat. Fleksibilitas nilai tukar dan bauran kebijakan moneter juga dinilai memberikan ruang yang memadai dalam menghadapi tekanan eksternal.

Sementara itu, risiko sektor keuangan terhadap pemerintah dinilai relatif terbatas karena aset perbankan masih berada di bawah 60 persen PDB dengan tingkat risiko yang tetap terjaga.

S&P juga menyatakan peluang kenaikan peringkat utang Indonesia tetap terbuka apabila terjadi penguatan indikator fiskal dan eksternal, antara lain melalui penyempitan defisit anggaran mendekati 2 persen PDB, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.

Baca juga : ASDP Perkuat Pelabuhan Sape Dorong Akses Wisata dan Ekonomi Kawasan Timur

Menanggapi hal tersebut, Airlangga menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor, dan peningkatan produktivitas.

“Konsistensi dan prediktabilitas kebijakan akan menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia naik ke level yang lebih tinggi,” ujar Airlangga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense