BREAKING NEWS
 

Di Depan Pejabat IMF & Bank Dunia

Purbaya: Penilaian Negatif Tak Mencerminkan Kondisi Riilnya

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Rabu, 5 Agustus 2026 07:50 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sambutan dalam GAIKINDO International Automotive Conference di ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026). (Foto: Instagram/menkeuri)

 Sebelumnya 
Selain stimulus tersebut, pemerintah juga terus menjaga likuiditas sistem keuangan serta memperbaiki iklim investasi agar semakin menarik bagi investor. 

“Iklim investasi menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kami juga akan memastikan belanja pemerintah di semester II lebih lancar dibandingkan semester I, terutama dibandingkan triwulan II tahun ini,” jelasnya. 

Hingga akhir triwulan II 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.656 triliun, tumbuh 17,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp 1.298,6 triliun, atau meningkat 29,4 persen. 

Baca juga : Untuk 63 Juta Penerima Manfaat, MBG Habiskan 101 T

Sementara itu, pendapatan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun, naik 21,4 persen (yoy). Penerimaan perpajakan terealisasi Rp 1.035,7 triliun, atau tumbuh 24,6 persen. 

Di sisi lain, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 152 triliun, tumbuh 3,4 persen, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 271 triliun atau meningkat 21,6 persen. 

Diketahui, pertengahan April 2026, Purbaya terbang ke Washington DC, Amerika Serikat untuk bertemu petinggi lembaga moneter dunia. Mulai dari Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, World Bank, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings. 

Baca juga : Hadapi Praperadilan Tersangka Suap LHP BPK, KPK Yakin Menang 100 Persen

Anggota Komisi XI DPR Puteri Anetta Komarudin menilai, kinerja APBN hingga pertengahan tahun menunjukkan hasil positif. Menurutnya, pertumbuhan pendapatan negara mencerminkan semakin baiknya aktivitas ekonomi nasional. 

“Penerimaan perpajakan tumbuh 21,4 persen yang dipengaruhi dampak implementasi core tax, hingga upaya intensifikasi dan ekstensifikasi,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka

Ia menambahkan, pertumbuhan PNBP juga ditopang kenaikan harga komoditas, peningkatan layanan pemerintah, serta penguatan pengawasan dan penegakan hukum. Menurut Puteri, APBN kembali berfungsi sebagai shock absorber di tengah gejolak harga energi global. 

Baca juga : Bawaslu Siapkan E-Monev, Pengawasan Pemilu Makin Terbuka Dan Real Time

Hal itu tercermin dari realisasi subsidi dan kompensasi sebesar Rp 233 triliun untuk BBM, LPG 3 kilogram, listrik, dan pupuk. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense