RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keseriusan luar biasa dalam membangun manusia dan kebudayaan. Bukan sekadar janji, program-program prioritas Presiden mulai terasa dalam skala yang besar. Puluhan juta warga mendapat pemeriksaan kesehatan gratis, jutaan ibu dan anak menerima dukungan gizi, sekolah-sekolah dibenahi, pembelajaran digitalisasi, dan kelompok rentan kembali menjadi perhatian negara.
Inilah pembangunan yang menempatkan rakyat sebagai pusat perhatian. Dari anak sekolah, ibu hamil, guru, petani, nelayan, hingga lansia dan penyandang disabilitas, seluruhnya masuk dalam radar kerja pemerintahan Presiden Prabowo.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam wawancara khusus dengan Rakyat Merdeka di Jakarta, Rabu (12/8/2026). Wawancara dilakukan dalam rangkaian menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Pratikno memaparkan berbagai upaya pemerintah mempercepat pembangunan manusia. Mulai dari penguatan layanan kesehatan, pendidikan, pemenuhan gizi, hingga pengembangan kebudayaan, seluruhnya diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Salah satunya melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Per Juli 2026, sebanyak 64,7 juta jiwa telah mengikuti CKG, atau mencapai 49,02 persen dari target RPJMN sebesar 132 juta jiwa. Capaian ini melanjutkan program yang pada 2025 telah menjangkau lebih dari 73 juta penduduk, termasuk lebih dari 24 juta anak sekolah.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat jutaan keluarga yang mendapat kesempatan mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Penyakit dapat dideteksi sebelum terlambat. Risiko kesehatan ibu dan anak bisa dipantau. Warga usia produktif dan lansia memperoleh perhatian. Negara hadir bukan hanya ketika rakyat sudah sakit, tetapi sejak upaya pencegahan dimulai.
Baca juga : Masuk Delik Aduan, MK Pertegas Pasal Penghinaan Terhadap Presiden Dan Wapres
Komitmen yang sama terlihat dalam penanganan tuberkulosis (TB). Pemerintah tidak ingin puskesmas hanya menunggu pasien datang. Penemuan kasus didorong secara aktif melalui pelacakan kontak dan skrining kelompok berisiko.
Target penemuan kasus TB pada 2026 dinaikkan menjadi 90 persen, dari capaian 78 persen pada 2025. Keberhasilan pengobatan TB sensitif obat juga ditargetkan meningkat dari 84 persen menjadi 90 persen. Sementara keberhasilan pengobatan TB resistan obat ditargetkan melonjak dari 59 persen menjadi 80 persen.
Artinya, perhatian pemerintah tidak berhenti pada menemukan pasien. Mereka harus diobati, didampingi, didukung keluarganya, hingga sembuh dan menuntaskan pengobatan.
Di bidang pendidikan, pembangunan manusia juga digenjot. Revitalisasi sekolah tidak sekadar memperbaiki gedung, tetapi memastikan anak-anak belajar di lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan layak.
Digitalisasi pembelajaran ikut dikebut. Pada 2026, pemerintah menargetkan 366.817 Interactive Flat Panel (IFP). Per 13 Maret 2026, sebanyak 135.756 sekolah telah menerima perangkat tersebut. Namun, teknologi bukan tujuan akhir. Guru harus mampu memanfaatkan perangkat digital dan mengintegrasikannya dengan metode pembelajaran. Anak diharapkan lebih aktif berdiskusi, bereksperimen, memecahkan masalah, serta meningkatkan kemampuan literasi, numerasi dan sains.
Pemerintah juga membangun Sekolah Garuda dan Sekolah Nasional Terintegrasi. Pada 2026 ditargetkan tujuh SMA Garuda Baru dan 30 SMA Garuda Transformasi. Sebanyak 36 Sekolah Nasional Terintegrasi juga ditargetkan beroperasi.
Baca juga : MSCI Tendang 10 Saham, IHSG Jadinya Merah
Sekolah unggul, kata Pratikno, tidak boleh menciptakan kasta baru dalam pendidikan. Justru harus menjadi pengungkit bagi sekolah lain dengan berbagi praktik baik, kapasitas guru, materi pembelajaran, dan teknologi.
Perhatian kepada guru juga diperkuat. Dukungan kepada guru non-ASN antara lain melalui kenaikan TPG/TKG sebesar 34 persen dan perluasan penerima insentif hingga 365.542 guru.
MBG Gerakkan Ekonomi Rakyat
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bagian lain dari agenda besar pembangunan manusia.
Per 30 Juni 2026, penerima MBG kelompok 3B mencapai 10,77 juta orang. Jumlah itu terdiri dari 963.400 ibu hamil, 2.389.138 ibu menyusui, dan 7.412.464 balita non-PAUD.
Pemerintah memastikan program ini tidak sekadar membagikan makanan. Data penerima terus dimutakhirkan dan dipadankan. Daerah 3T dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi mendapat prioritas.
Kualitas dan keamanan pangan juga menjadi perhatian. Mulai dari rantai pasok, dapur, bahan pangan hingga distribusi harus memenuhi standar. Menu disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan, sekaligus memperhatikan potensi pangan lokal.
Baca juga : Suap Restitusi Pajak, KPK Sita Emas 1,3 Kg
Yang menarik, MBG juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Petani memasok beras, sayuran dan buah. Nelayan memasok ikan. Peternak menyediakan telur, daging dan susu. Koperasi serta UMKM dapat terlibat dalam pengadaan, pengolahan dan distribusi.
Dengan begitu, satu program memberikan dua manfaat. Anakanak memperoleh makanan bergizi, sementara roda ekonomi masyarakat ikut bergerak.
Bagaimana pemerintah memastikan seluruh program tersebut benar-benar meningkatkan kualitas hidup rakyat? Berikut wawancara eksklusif Pratikno dengan tim Rakyat Merdeka: Kiki Iswara Darmayana (Direktur Utama/CEO Rakyat Merdeka Group), Ratna Susilowati (Direktur Pemberitaan), Bambang Trismawan (Asisten Eksekutif Editor), dan Khairizal Anwar (Jurnalis Foto/Video) di Kantor Kemenko PMK, Jakarta.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.