RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industrialisasi menjadi fondasi penting untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dan pertumbuhan berkualitas. Menurut dia, penguatan industri diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas kesejahteraan masyarakat.
Agus mengatakan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026 memperkuat posisi manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Presiden menekankan pertumbuhan dan investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat,” kata Agus di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Agus, industri yang kuat dapat mengurangi ketergantungan impor, memperdalam struktur industri, meningkatkan penguasaan teknologi, dan memperkuat rantai pasok domestik. Indonesia juga perlu mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional. Karena itu, kita harus membangun struktur industri yang semakin dalam dan terintegrasi dari hulu sampai hilir,” ujarnya.
Kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif dengan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen pada triwulan II-2026 secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Baca juga : RAPBN 2027 Diarahkan untuk 8 Program Prioritas
Industri pengolahan juga menyumbang 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menjadi kontributor terbesar dalam perekonomian nasional. Sektor ini sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi 0,90 persen.
Kementerian Perindustrian menerjemahkan arahan Presiden melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi tersebut mencakup penguatan struktur industri, percepatan hilirisasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.
“Industrialisasi harus menghasilkan multiplier effect yang luas. Ketika sebuah industri tumbuh, yang berkembang bukan hanya pabriknya, tetapi juga tenaga kerja, pemasok bahan baku dan komponen, IKM, logistik, teknologi, hingga ekspor,” jelas Agus.
Aktivitas manufaktur juga masih berada di zona ekspansif dengan IKBM 52,31, PMI Manufaktur Juli 2026 sebesar 50,2, dan IKI sebesar 53,10. Pertumbuhan industri nonmigas turut ditopang industri makanan dan minuman sebesar 6,51 persen serta industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik sebesar 8,04 persen.
Agus juga mendorong percepatan hilirisasi sumber daya alam agar menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi. Menurut dia, semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah dan lapangan kerja yang tercipta di dalam negeri.
“Hilirisasi harus kita bawa semakin dalam. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri dan semakin banyak pula kesempatan kerja yang dapat kita ciptakan,” tegasnya.
Baca juga : Prabowo Akui Banyak Janji Belum Ditunaikan
Berdasarkan data Mei 2026, industri pengolahan berkontribusi 13,53 persen terhadap penyerapan tenaga kerja nasional dari total 148,19 juta penduduk yang bekerja. Karena itu, Agus menilai investasi harus membawa modal sekaligus teknologi, memperkuat rantai pasok, mengembangkan SDM, dan menciptakan lapangan kerja.
“Kami ingin investasi yang masuk memberikan dampak ekonomi seluas-luasnya. Investasi harus menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri nasional, bukan berdiri sebagai enclave yang tidak terkoneksi dengan industri dalam negeri,” ujarnya.
Agus juga menilai penguatan pasar domestik penting untuk mendukung kemandirian ekonomi. Hal itu sejalan dengan kenaikan impor barang konsumsi sebesar 27,15 persen secara tahunan yang menunjukkan kuatnya permintaan dalam negeri sekaligus perlunya memperkuat produksi nasional.
“Kita memiliki pasar domestik yang sangat besar. Jangan sampai peningkatan konsumsi masyarakat justru lebih banyak dinikmati oleh produk impor,” kata Agus.
Ia mengatakan penguatan industri harus dilakukan dengan memperbesar kemampuan memenuhi pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing ekspor. Pasalnya, komponen net ekspor pada triwulan II-2026 masih memberikan andil negatif 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Agus juga mendorong pemanfaatan perjanjian perdagangan untuk memperluas ekspor produk manufaktur bernilai tambah. Presiden menyampaikan sebanyak 25 perjanjian perdagangan telah diimplementasikan, termasuk lima perjanjian baru dalam satu tahun terakhir.
Baca juga : Sehari Setelah Memerah, Pasar Kembali Hijau
“Perjanjian perdagangan harus kita manfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur bernilai tambah, bukan sekadar memperbesar perdagangan komoditas mentah. Industri nasional harus semakin dalam masuk ke rantai pasok global,” ujar Agus.
Kementerian Perindustrian juga mendorong investasi yang membawa teknologi, akses pasar, riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Transformasi teknologi dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi dan inovasi dalam rantai pasok dunia.
“Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia harus menjadi basis produksi, basis inovasi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia,” katanya.
Agus menegaskan Kementerian Perindustrian akan terus mempercepat implementasi SBIN dengan fokus pada hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, industri hijau, peningkatan kualitas SDM, serta perluasan pasar domestik dan ekspor. Menurut dia, industri nasional yang kuat dan berdaulat merupakan salah satu fondasi untuk mewujudkan Indonesia yang semakin mandiri.
“Industrialisasi bukan semata-mata tentang membangun pabrik. Industrialisasi adalah tentang menciptakan nilai tambah, membangun kemandirian, menguasai teknologi, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.