BREAKING NEWS
 

Mendikdasmen: Keteladanan Guru Kunci Wujudkan Sekolah Aman dan Nyaman

Reporter : DIDI RUSTANDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Rabu, 7 Oktober 2026 21:59 WIB
Foto: Kemendikdasmen.

RM.id  Rakyat Merdeka - Keteladanan guru menjadi salah satu kunci dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Melalui sikap saling menghargai, mendengarkan, dan bekerja sama di tengah perbedaan, guru berperan membantu murid membangun karakter sekaligus belajar hidup bersama.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam webinar internasional bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” yang diselenggarakan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen bersama Institut Leimena, Jumat (2/10/2026). 

Kegiatan digelar dalam rangka menyambut Hari Guru Sedunia dan Hari Guru Nasional. Abdul Mu’ti menegaskan, guru memiliki peran sebagai “Agent of Learning as well as Agent of Civilization”, yakni agen pembelajaran sekaligus agen pembangunan peradaban.

Menurutnya, melalui keteladanan, guru membantu murid membangun karakter dan menerapkan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

“Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya.

Ia mengatakan, sekolah perlu menjadi ruang perjumpaan bagi murid dengan beragam latar belakang. Di lingkungan tersebut, murid memperoleh kesempatan untuk mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan mereka yang berbeda.

Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya toleransi yang otentik, yakni tetap teguh pada keyakinan masing-masing sekaligus mampu menghargai dan memberikan ruang kepada orang lain.

“Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” tuturnya.

Menurut Abdul Mu’ti, lingkungan yang aman dan nyaman tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup dimensi sosial, spiritual, dan digital.

Baca juga : Kemendikdasmen Perkuat Transparansi Layanan Pendidikan Cegah Korupsi

Penguatannya membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, dan media karena pengalaman anak di luar sekolah turut memengaruhi perilaku dan pembentukan karakter.

Pesan tersebut sejalan dengan penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026.

Kebijakan tersebut menempatkan pencegahan dan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid.

Murid Turut Bangun Budaya Sekolah

Kepala Puspeka Rusprita Putri Utami mengatakan, murid bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga perlu dilibatkan secara aktif dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, murid didorong menjadi Sahabat Hebat yang saling mendukung dengan prinsip Look, Listen, dan Link.

Prinsip tersebut mengajak murid peka melihat teman yang membutuhkan dukungan, mendengarkan, serta menghubungkannya dengan bantuan yang tepat.

“Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.

Peran guru dalam membangun hubungan antarmanusia juga disampaikan Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho.

Adsense

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ia menekankan pentingnya pendidikan yang membantu murid menjalin relasi dengan sesama, termasuk dengan mereka yang berbeda agama, kepercayaan, dan budaya.

“Kita bukan mendidik robot, tapi manusia,” ujar Matius.

Baca juga : Revitalisasi 401 Sekolah di Bali Dongkrak Mutu Pendidikan dan Ekonomi

Ia menambahkan, keberhasilan pendidikan membutuhkan dukungan yang melampaui lingkungan sekolah.

“Keberhasilan guru dalam mendidik tidak lepas dari dukungan dan kerja sama masyarakat dan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” ucapnya. 

Menurut Matius, dalam lima tahun terakhir, program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dijalankan Institut Leimena bersama puluhan lembaga mitra dari berbagai agama telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik lainnya dari 38 provinsi.

Institut Leimena juga bekerja sama dengan Kemendikdasmen dan pemerintah daerah untuk mendorong pendekatan tersebut dalam memperkuat BSAN.

Chief of Education UNESCO Jakarta Santosh Khatri mengatakan, lingkungan belajar yang mendukung murid memerlukan lingkungan profesional yang juga mendukung guru.

Menurutnya, budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan bagian dari pengalaman belajar itu sendiri. Lingkungan tersebut menjadi tempat murid mengembangkan empati dan kemampuan hidup bersama.

Khatri menjelaskan, kecerdasan buatan dapat membantu perencanaan pembelajaran dan pengembangan profesional guru.

Namun, guru tetap memiliki peran manusiawi untuk memahami kondisi murid, mengenali kesulitan yang belum mereka ungkapkan, serta membantu mereka belajar mendengarkan dan menghormati orang lain.

Pengalaman penerapan pendidikan dalam keberagaman di sekolah dibagikan Yonathan Djalimun, alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal.

Dalam paparannya, Yonathan menyoroti tantangan terbatasnya ruang interaksi dengan perbedaan di lingkungan pendidikan berbasis agama yang cenderung homogen.

Baca juga : Perguruan Tinggi & Sekolah Harus Satu Ekosistem untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan

Ia membagikan pengalaman kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman dan kunjungan persahabatan lintas agama.

Salah satunya kunjungan murid SMA Tritunggal Semarang ke MA Al Manar Tengaran serta perjumpaan di Pondok Pesantren Amal Sholeh.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan menghargai perbedaan.

“Praktik lebih membekas ketimbang sekadar teori di kelas,” tulis Yonathan dalam paparannya.

Ia menggambarkan kegiatan tersebut berlangsung secara berkelanjutan dari tahun ke tahun, dengan jaringan kerja sama dan kesempatan berinteraksi yang semakin luas.

Dalam refleksinya, Yonathan menulis, “Siswa merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam kolaborasi lintas agama.”

Webinar tersebut mempertemukan perspektif kebijakan, pengalaman pendidik, dan pandangan internasional mengenai pendidikan dalam keberagaman.

Kegiatan didukung Templeton Religion Trust dan berlangsung melalui Zoom dengan penerjemahan simultan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense