BREAKING NEWS
 

Perkuat Penyuluh Pertanian, Amran-Tito Terbitkan Surat Edaran Bersama

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Senin, 12 Oktober 2026 16:41 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menandatangani Surat Edaran Bersama tentang penyuluh pertanian. (Foto: Dok. Kementan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Karena itu, Pemerintah memperkuat peran penyuluh melalui penataan kewenangan, percepatan perbaikan sarana dan prasarana, serta penguatan pengawalan program pertanian hingga ke tingkat lapangan.

Langkah tersebut diperkuat melalui penandatanganan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertanian tentang Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Ketenagaan Penyuluhan Pertanian dalam rangka Swasembada Pangan Berkelanjutan, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (12/10/2026).

“PPL adalah pasukan terdepan untuk swasembada. Merekalah yang tahu kondisi di lapangan. Sehingga kita harus membuat regulasi yang membuat mereka bisa bergerak cepat. Tujuannya agar kebijakan pusat bisa dieksekusi dengan cepat,” ucap Amran, seperti dimuat di laman pertanian.go.id.

Menurutnya, penataan kewenangan penyuluh pertanian berada di bawah koordinasi Pemerintah Pusat bertujuan memperpendek rantai birokrasi sekaligus memastikan berbagai program dan bantuan pemerintah benar-benar terlaksana di lapangan.

Baca juga : Desa Energi Uma Palak Lestari Wujudkan Swasembada Pangan

Amran menekankan, pengawalan penyuluh sangat penting mengingat besarnya dukungan anggaran Pemerintah untuk sektor pertanian. Bantuan dari Kementerian Pertanian mencapai sekitar Rp 30 triliun. Jika digabungkan dengan dukungan pembangunan irigasi dan infrastruktur pangan lainnya, total dukungan Pemerintah untuk sektor pangan mencapai sekitar Rp 144 triliun.

“Ini harus dikawal oleh PPL. Jangan sampai anggaran sudah disiapkan, bantuan sudah disalurkan, tetapi pelaksanaannya terhambat di lapangan,” ujarnya.

Penguatan sistem penyuluhan ini menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah mempertahankan swasembada pangan. Amran menyampaikan, target swasembada beras yang semula diarahkan dalam empat tahun berhasil dicapai dalam satu tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Adsense

Ia optimistis, capaian tersebut dapat dipertahankan secara berkelanjutan hingga akhir 2026, didukung oleh ketersediaan stok pangan nasional yang masih kuat.

Baca juga : Inflasi September 3,28 Persen, Tito: Pusat dan Daerah Harus Kerja Keras

Selain memperkuat kelembagaan dan ketenagaan, Kementan juga mempercepat perbaikan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian yang mengalami kerusakan di berbagai daerah.

Amran mengungkapkan, masih terdapat kantor penyuluh yang kondisinya memprihatinkan. Mulai dari atap bocor hingga bangunan yang rusak dan tidak memadai untuk mendukung aktivitas penyuluh.

Melalui kesepahaman bersama dengan Mendagri, perbaikan sarana dan prasarana tersebut dapat dilakukan melalui kolaborasi antara Kementan, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Untuk mempercepat pelaksanaan, Kementan melakukan refocusing anggaran tahun ini agar kantor-kantor penyuluh yang mengalami kerusakan berat dapat segera diperbaiki. Perbaikan ditargetkan mulai dituntaskan dalam waktu dekat, dengan harapan seluruh kebutuhan pembenahan dapat diselesaikan secara bertahap hingga tahun depan.

Baca juga : Inflasi September 3,28 Persen, Tito: Waspadai Daging dan Telur Ayam Ras

“Untuk sementara, kami langsung refocusing anggaran tahun ini. Kalau bisa dua bulan selesai, yang rusak berat kita perbaiki. Kemudian, insya Allah tahun depan sudah selesai semua. Ini untuk tempatnya PPL bernaung,” kata Amran.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menilai, kesepahaman ini penting untuk mengatasi hambatan birokrasi yang selama ini dapat memperlambat pelaksanaan program pertanian di daerah. Menurut Tito, penyuluh pertanian selama ini berada dalam jalur koordinasi dinas pertanian kabupaten/kota, sehingga pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat dapat menghadapi kendala apabila perhatian dan dukungan pemerintah daerah belum optimal.

Ia mencontohkan, penyaluran anggaran hampir Rp 900 miliar untuk penanganan dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Saat ini, realisasi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah mencapai sekitar 70–80 persen, sedangkan di Aceh masih berkisar 50–60 persen.

Tito menegaskan, Pemerintah perlu memastikan dukungan anggaran dan kebijakan pusat dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk petani terdampak bencana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense