RM.id Rakyat Merdeka - Ini kabar baik. Jumlah daerah yang masuk zona merah mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Masyarakat diharapkan, terus mematuhi protokol kesehatan agar kondisi bangsa ini semakin baik.
“Dalam waktu tiga minggu daerah yang dianggap masuk zona merah mengalami penurunan, dari sebelumnya 108 daerah menjadi 57 daerah,” ungkap Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo di Jakarta, kemarin.
Doni tidak merincikan wilayah mana saja yang kini sudah berhasil keluar dari zona merah. Dia hanya bilang, pemerintah akan memprioritaskan penanganan Covid-19 untuk 57 wilayah yang masih masuk kategori zona merah.
Namun demikian, dia mengingatkan masyarakat bahwa penanganan di wilayah risiko tinggi Covid-19 itu tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah (Pemda).
Baca juga : Walikota Bandung Ingatkan Warga Patuhi Protokol Kesehatan Saat Berkurban
Sebab, menurun atau meningkatnya jumlah pasien Covid-19 tergantung dari kepatuhan masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Jika masyarakat tidak patuh, daerah yang kini zona hijau bisa berubah menjadi zona kuning, bahkan merah.
“Jadi tidak cukup hanya mengharapkan bupati, wali kota, gubernur saja,” cetusnya.
Doni juga mengingatkan Pemda agar di dalam menanggulangi pandemi Covid-19 harus melibatkan seluruh komponen mulai dari TNI-Polri hingga tokoh-tokoh di tingkat daerah. Karena, setiap daerah memiliki karakteristik berbeda.
Keterlibatan para pimpinan daerah diharapkan bisa lebih tepat di dalam menekan laju penambahan kasus.
Baca juga : Jokowi Sentil Menkes, Anggaran Rp 75 T, Baru Keluar 1,53 Persen
“Para pimpinan sampai tingkat kepala desa lebih paham bagaimana menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Istilah asing diterjemahkan misal droplet, physical distancing, The New Normal,” jelasnya.
Sementara, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan beberapa dinas kesehatan di provinsi dan kabupaten/kota yang memiliki kasus virus corona masih cukup tinggi.
“Kami menyampaikan kepada dinas kesehatan bahwa mereka intervensi yang lebih cepat lagi. Bukan hanya terkait dengan banyaknya kasus, tetapi juga terkait jumlah kasus per 100.000 orang yang kemudian bisa direpresentasikan sebagai tingkat risiko ancaman tertular,” ujarnya.
Dia menuturkan, peningkatan penularan terjadi karena sumber penularan masih berada di tengah-tengah masyarakat. Mereka terinfeksi Covid-19 dan berpotensi menular tetapi tidak melakukan isolasi secara baik.
Baca juga : IIPG Ajak Masyarakat Tetap Patuhi Aturan Protokol Kesehatan Covid-19
Menurut Yuri, pasien positif Covid-19 menjadi relatif lebih aman untuk orang lain ketika dirawat di rumah sakit, termasuk juga mereka yang melakukan isolasi mandiri secara ketat.
“Karena itu kembali lagi permasalahan memutuskan rantai penularan ini adalah permasalahan yang berada di tengahtengah masyarakat. Ini tidak boleh kita lihat sebagai permasalahan yang ada di rumah sakit saja,” ujarnya. [DIR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.