Sebelumnya
Pesantren didirikannya bernama Ibnu Syarif Al Amin. Pesantren itu mulai dirintisnya tahun 2018 dengan pembangunan ala kadarnya. Kini, pesantrennya ada di dua lokasi yakni di Desa Buana Lawas dan Desa Limbungan. Kedua pesantren ini dikembangkan dari hasil perkebunan pisang bersama warga.
“Dari menanam pisang, hasilnya kami gunakan untuk membayar upah guru,” ungkapnya.
Baca juga : Hari Pahlawan, Menag Ajak Masyarakat Jaga Keutuhan Bangsa
Eksan mengaku, tidak pernah meminta sumbangan ke instansi mana pun. Para dermawan yang ikut nyumbang membantu atas inisitif mereka sendiri.
Eksan mengaku, selain mendidik generasi penerus, pesantren dikembangkannya bertujuan memberikan syiar agama kepada masyarakat dengan salah satu tujuannya menekan kriminalitas. Menurutnya, selain kesejahteraan, kriminalitas tinggi karena lemahnya pondasi keimanan.
Baca juga : Siaga Bencana, Ganjar Imbau Masyarakat Perhatikan Ilmu Titen Dan Kentongan
“Kalau urusan kesejahteraan beres, dan pondasi keimanannya baik, kasus kriminalitas akan turun,” katanya yakin.
Seiring waktu, pesantren dikembangkan Eksan terus berkembang. Jika awal berdiri hanya memiliki 30 siswa, kini jumlahnya mencapai 240-an siswa.
Baca juga : Perjuangan Masyarakat Adat Butuh Dukungan Semua Pihak
Eksan dan Syarif berencana membangun pesantren di lokasi lain. “Ada rencana membangun pesantren di sebuah desa Kecamatan Sungai Durian. Di sana banyak residivis curanmor,” ungkapnya.
Dia mengaku senang bisa terus bekerja sama dengan Guru Syarif mengembangkan pesantren. “Inilah bentuk kerja sama umaro (polisi) dengan ulama,” pungkasnya. [TIM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.