RM.id Rakyat Merdeka - Keterbatasan penglihatan tak membuat kekhusyukan jemaah haji tunanetra berkurang dalam beribadah. Meski matanya tak melihat, tapi hati mereka dapat merasakan Ka'bah.
Seperti yang dialami Mardeka bin Bidulan Imran (79 tahun) jemaah haji asal Desa Sikan, Kecamatan Montalat, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Mardeka sangat bersyukur bisa sampai ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
"Bersyukur, bangganya bukan main, sampai saya keluar air mata. Bersyukur banar (sangat bersyukur) sudah sampai ke sini, sampai Makkah," kata Mardeka, saat berbincang dengan Tim Media Center (Haji). Di pipinya menetes bulir air mata, menambah keharuan.
Mardeka lantas mengenang bagaimana dirinya sampai ke Tanah Suci. Dengan keterbatasannya, yang tak bisa melihat sejak 2023, Mardeka awalnya pesimis bisa berangkat haji. Makanya, dia sangat bersyukur diberi nikmat berkunjung ke Baitullah.
"Rasanya yang tidak mungkin, jadi mungkin, meskipun dalam keadaan seperti ini. Bahagia rasanya sudah saya," ucapnya, lagi sambil terus terisak.
Mardeka sangat terharu, karena tak pernah menyangka jika seorang penyadap karet yang tunanetra seperti dirinya bisa memenuhi panggilan menjadi duyufurahman (Tamu Allah) ke Tanah Suci. Sebagai penyadap karet, penghasilannya pas-pasan.
Selama menjadi penyadap karet, dia hanya bekerja bersungguh-sungguh untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dia pun bisa menyelokahkan anak-anaknya dengan baik.
Niat dan doa tulusnya sebagai orang tua diganjar oleh Allah dengan bakti ke-8 anaknya. Anak-anak Mardeka berjibaku membiayai ayah dan ibunya agar bisa berhaji.
Baca juga : Diresmikan Naik Harga
"Sekarang anak-anak yang saya besarkan menaikkan haji saya. Alhamdulillah, saya bersyukur," ucapnya, dengan suara terputus-putus karena tangis haru.
Dalam menjalankan ibadah, seperti umrah wajib, Mardeka dibimbing istri, teman sekamar, Ketua Rombongan dan Ketua Kloter, dan petugas Haji yang mendampinginya. Berulang kali Mardeka mengucap syukur dan terima kasih karena para jemaah lain sangat memerhatikannya.
Mardeka sebenarnya sangat mandiri. Contohnya, saat salat, ketika adzan Magrib terdengar, Mardeka bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi sendiri, hanya sesekali istri dan Halik, Ketua Rombongan yang sekamar dengannya, mengarahkan ke mana Mardeka harus berjalan.
"Pak Mardeka ini tidak merepotkan. Selama perjalanan dari desanya ke Muara Teweh lalu ke Banjarmasin sampai naik pesawat ke Arab tidak pernah merepotkan," kata Ketua Kloter Abdul Majid Rahim.
Saat tawaf, Mardeka menggunakan skuter yang ada di lantai tiga. Meski matanya tak melihat Ka'bah, hati Mardeka tetap merasakannya. "Beliau berdoa khusyuk dari lantai tiga tempat kami tawaf naik skuter," kata Halik, Ketua Rombongan Mardeka.
Lantas, doa apa yang dipanjatkan Mardeka di depan Ka'bah? "Saya berdoa, minta diberikan kekuatan, kesehatan selama di Tanah Suci. Saya mendokan semua keluarga, anak-anak, cucu, dan orang-orang yang sudah baik pada saya bisa dipanggil diberi rezeki yang banyak, bisa ke Tanah Suci," tutur Mardeka.
Semangat dan khusyukan yang sama ada pada diri Suroso (84 tahun). Jemaah tunanetra asal Kebumen ini berangkat haji bersama anaknya, Sukanti (41 tahun).
Sukanti, yang merupakan putri sulung Suroso, begitu bersemangat untuk bisa memberangkatkan ayahnya berhaji. Sampai-sampai, dia rela untuk rehat sebentar dari pekerjaannya, demi menemani sang ayah.
Baca juga : Lintasarta Raih Indonesia Regulatory Compliance Awards 2024
"Sejak ayah mengungkapkan ingin berhaji, di situlah saya membulatkan niat untuk bisa memberangkatkan beliau. Apa pun saya lakukan," kata Sukanti.
Dia menceritakan, niat kuat Suroso untuk bisa berhaji sudah ada sejak lama. Terutama setelah Mardiyah (75 tahun), istrinya, telah menunaikan haji sebelumnya.
"Beliau bilang. Saya sudah tidak bisa lihat apa-apa. Saya hanya ingin bisa melihat Ka’bah dan berhaji. Tidak ada lagi yang saya inginkan selain itu," kata Sukanti, menirukan penuturan Suroso.
Sebenarnya, tidak mudah bagi perempuan Sukanti untuk mewujudkan cita-cita mulia sang ayah. Sebab, sejak 25 tahun silam, dia tinggal di Malaysia untuk mencari nafkah demi menghidupi seluruh keluarga.
Sukanti pun membulatkan tekad, pada 2018 mendaftar haji bersama sang ayah. "Awalnya saya tanya ke petugas pendaftaran. Apakah saya bisa menemani Bapak. Oleh petugas diperbolehkan," katanya.
Dari situlah, dia pun berikhtiar dengan menyisihkan penghasilannya untuk biaya pelunasan haji. Hingga akhirnya masa penantian itu tiba, Suroso masuk dalam daftar calon jemaah haji yang berangkat di tahun 2024.
Suroso masuk dalam kuota prioritas lanjut usia (lansia) untuk berangkat ke Tanah Suci. Sukanti ikut mendapat panggilan karena menjadi pendamping Suroso.
Lalu, ada Sajeriah (65 tahun), jemaah haji tunanetra asal Parepare, Sulawesi Selatan. Saat ditemui tim MCH, Sajeriah tampak sumringah. Rekah senyum bahagia di wajahnya tak bisa ia sembunyikan lantaran mimpinya untuk berangkat haji telah terwujud setelah penantian selama 14 tahun lamanya.
Baca juga : Bertemu Paloh, MPR Terima Usulan Jadi Lembaga Tertinggi Negara Lagi
Ketidaksempurnaan fisik tak memadamkan semangatnya. Gelapnya pandangan mata tak lantas membuat hatinya berhenti bercahaya untuk beribadah ke Tanah Suci tersebut.
Sajeriah juga sangat mandiri. Dia menyiapkan sendiri perlengkapan hajinya, mulai dari mencuci baju, melipat, sampai menyusunnya di dalam koper.
Sajeriah mengaku tak khawatir melakukan perjalanan haji. Bahkan, jika saat menjalankan ibadah ditakdirkan meninggal, Sajeriah pun ikhlas.
“Saya tidak takut. Kalaupun saya meninggal tidak apa-apa,” ucapnya.
Keikhlasan Sajeriah bahkan membuat orang-orang di sekitarnya menitikkan air mata. Hasmia (53 tahun), keponakan yang mendampingi Sajeriah menunaikan ibadah haji, tak kuasa menahan tangisnya.
Sejak kecil, Hasmia mengaku dekat dengan sang bibi. Sajeriah begitu mandiri. Dia biasa mengurus keponakan-keponakannya, memasak nasi, mencuci, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.
Hasmia bahkan tak merasa Sajeriah memiliki keterbatasan, karena begitu terampil. "Dia bisa masak, mencuci, dan segalanya dia lakukan sendiri,” ujar Hasmia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.