BREAKING NEWS
 

Ketum AMI: Pemerintahan Baru Harus Komit Terhadap Pelestarian Seni Budaya

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 20 Juli 2024 16:13 WIB
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana (kiri) berkunjung ke Museum Prabu Siliwangi, di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana melakukan kunjungan ke Museum Prabu Siliwangi, di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kelurahan Karang Tengah, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Pada kesempatan itu, Putu diundang langsung Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana.

Putu Rudana, yang juga Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR ini membahas berbagai isu dalam pertemuan dengan Kiai Fajar. Intinya, mereka ingin mewujudkan adanya payung hukum untuk melindungi segala pusaka atau warisan budaya bangsa dari para leluhur sejak zaman dahulu, tidak hanya zaman kerajaan tapi juga prasejarah.

Dalam paparannya, Putu menyampaikan komitmen untuk mengawal seni budaya dari awal. Bahkan, Putu mengatakan secara pribadi juga memiliki Museum Rudana yang berada di Bali. Kemudian, Putu menjelaskan tentang Sapta Karsa Permuseuman Indonesia saat didaulat menjadi keynote speach di Museum Prabu Siliwangi tersebut. Lalu, Putu bicara perjuangan untuk mewujudkan RUU Permuseuman dan inisiasi tentang RUU yang berhubungan dengan Omnibus Kebudayaan.

"Payung hukum RUU Pemuseuman ini menjadi sangat urgent, Omnibus Law Kebudayaan juga sangat urgent. Karena kemajuan bangsa secara ekonomi dan kemandirian ekonomi, juga kedaulatan politik harus didukung dengan sejarah dan kebudayaan bangsa,” kata Putu, melalui keterangannya, Sabtu (20/7/2024).

Menurut Putu, founding fathers dan tokoh-tokoh bangsa sudah menggaungkan komitmen agar berdikari dalam bidang ekonomi. Berdikari dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan ini harus dikawal melalui UU yang memayungi, baik tentang penemuan cagar budaya melalui UU Cagar Budaya maupun pemajuan kebudayaan dengan UU Pemajuan Kebudayaan.

Baca juga : Ekonom Minta Pemerintah Waspada Kemunduran Sektor Industri Di ASEAN

“Di sisi lain, tempat memulai atau rumah tertinggi kebudayaan, rumah abadi peradaban dan rumah sumber inspirasi, menjadi tempat mulia yang mengawal, menarasikan, menampilkan, dan memuliakan seluruh warisan luhur bangsa, yaitu museum ataupun tempat-tempat lainnya, yang harus memiliki payung hukum," jelas dia.

Kata Putu, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan mampu mengawal memori kultural bangsanya, mengawal sejarah yang begitu besar dan luar biasa, harus terus digaungkan secara berkesinambungan secara komprehensif. Menurut dia, negara lain seperti Jepang, Tiongkok, juga bangsa-bangsa Eropa antara Perancis, Inggris, dan lainnya, juga Amerika Serikat, penghargaan dari negara dan masyarakat begitu tinggi terhadap seni budaya, serta mampu menampilkan dan menarasikannya. Hasilnya, budaya itu menjadi destinasi pariwisata dan pendidikan yang utama dan pertama. "Dan jika berkunjung ke suatu kota atau negara, museumlah yang dikunjungi pertama,” ungkapnya.

Maka dari itu, Putu sangat mengapresiasi sosok Ki Fajar Laksana sebagai prakarsa dan sebagai Founder Museum Prabu Siliwangi di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Menurut dia, Ki Fajar merupakan sosok yang sangat luar biasa, aktif, dan visioner di samping karena beliau seorang profesor, juga ahli marketing dan sekaligus tokoh spiritual masyarakat yang disegani di wilayahnya. Ki Fajar memiliki pondok pesantren dan juga mengkoleksi berbagai karya warisan bangsa, khususnya budaya dan sejarah Sunda.

“Beliau banyak mengkoleksi karya warisan bangsa yang ditampilkan di Museum Prabu Siliwangi. Saya lihat secara langsung, bagaimana pelestarian kebudayaan Sunda itu betul-betul menjadi hidup di pondok pesantren dan Museum Prabu Siliwangi," imbuhnya.

Adsense

Putu melanjutkan, di tempat tersebut, anak-anak muda berkesenian. Ada pencak silat dan seni yang berhubungan dengan budaya Sunda.

Baca juga : Perkuat Lini Pertahanan, PSIS Semarang Rekrut Pemain Asal Brasil

"Menurut saya, itu semangat luar biasa. Jarang ada figur seperti itu. Di sana kita bisa lihat kondisinya sangat hidup suasananya, pencak silat, pondok pesantren, dan museum dalam satu kawasan. Tentu AMI selalu mendukung berbagai peningkatan dan penyempurnaan khususnya yang berhubungan dengan museum,” ujarnya.

Di samping itu, Putu juga menerima gelar Ki Jaga Waruka Sakabumi dari Kiai Fajar Laksana, yang bermakna sosok/figur atau tokoh yang memiliki kepedulian tinggi sebagai pengawal warisan bangsa, dan pusaka luhur nusantara. Putu merasa terhormat dengan gelar yang diberikan itu. Padahal, kedatangannya hanya untuk memenuhi undangan seminar memberikan sambutan kunci.

“Didaulat seperti itu merupakan hal yang bermakna. Karena perjuangan untuk seni budaya tidak banyak yang memahami tapi memang harus diketahui bahwa pelestarian dan pemuliaan warisan luhur bangsa mengalami tantangan dan situasi yang rumit dan urgent. Kondisi inilah yang membuat bagaimana pengawalan seni budaya menjadi penting,” kata Legislator asal Bali ini.

Selain menerima gelar, Putu juga sangat terharu dan mengapresiasi komitmen KIai Fajar Laksana karena mendoakan dan turut mengawal di barisan terdepan perjuangan dan pengabdian AMI. Bahkan, Putu didukung penuh Kiai Fajar Laksana untuk memperjuangkan segala kearifan lokal bangsa yang adiluhung itu.

“Kebudayaan nusantara adalah puncak-puncak kebudayaan daerah di seluruh Indonesia, yang tentu menjadi hal patut digaungkan ke seluruh penjuru dunia dan patut dilestarikan di negeri nusantara. Hal itu menjadi sangat penting dan mengharukan dan bermakna. Karena penghargaannya itu tidak datang dari hanya satu lembaga negara, tapi hadir dari atau diberikan oleh simpul-simpul atau puncak-puncak kebudayaan daerah,” ujar Anggota Komisi VI DPR ini.

Baca juga : Putu Rudana Minta Pemerintah Perhatikan Lembaga Pendidikan Seni Budaya

Oleh karena itu, lanjut Putu, semua pihak harus turut berjuang bersama memperjuangkan pemulian dan pemajuan permuseuman Indonesia. Memperjuangkan seni budaya bangsa, dan terus memperjuangkan agar warisan budaya Indonesia dapat lestari dan mulia. Tentu, dukungan dari Museum Prabu Siliwangi yang mewakili sejarah Sunda ini sangat penting.

“Definisi kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah Indonesia, salah satunya dan yang utama adalah kebudayaan Sunda atau Jawa Barat. Dibutuhkan komitmen afirmasi dalam pengawalan pengelolaan seni dan budaya menjadi kekuatan magnet atau kekuatan utama dalam gagasan berbangsa-bernegara. Secara khusus kesuksesan dalam konsep pembangunan ekonomi dan juga kepariwisataan Indonesia juga dilandasi dengan penggaungan seni budaya bangsa,” jelas Ketua Kaukus Air DPR (Chairman of Indonesian Parliament Water Caucus).

Maka dari itu, Putu sebagai Ketua Umum AMI juga akan mendorong political will dan komitmen pemerintahan berikutnya dalam mendukung pelestarian seni budaya dan warisan luhur nusantara melalui museum. Kata dia, museum merupakan rumah tertinggi kebudayaan, rumah abadi peradaban dan rumah sumber inspirasi.

“Juga mendorong agar setiap lembaga dan institusi menarasikan kemuliaan sejarah dan perjalanannya untuk membangun museum dan bisa semua ternarasi mulia di museum. Indonesia dengan kekayaan khazanah seni budaya dan keragaman flora fauna serta perjalanan dari masa pra sejarah, kerajaan, kemerdekaan dan juga mengisi kemerdekaan hingga saat ini, seyogyanya bisa menjadi negeri sejuta museum. Jas Merah, jangan pernah melupakan sejarah,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense