RM.id Rakyat Merdeka - Seorang suami diwanti-wanti istrinya selalu ingat mengunci kamar indekosnya agar aman. Si istri cemas, bagaimana jika ada orang mendendam kepada suaminya mengingat pekerjaan si suami bukan tipe pekerjaan yang bikin semua orang senang.
Namun, si suami justru lebih nyaman membuka pintu kamar indekosnya lebar-lebar. Alasannya, kalau pintu dikunci dari dalam, lalu dia mati sendirian di kamar, tidak ada yang tahu kalau dia mati. Dan jika pun nantinya orang-orang tahu, evakuasinya pasti merepotkan.
Menariknya, cerita itu saya dapat dari penuturan seorang hakim di kolom komentar sebuah media sosial. Hakim itu sedang menceritakan perdebatan kecil antara dia dengan istrinya lewat telepon. Ya, si suami adalah seorang Hakim.
Sebuah profesi yang di bayangan banyak orang, prestisius dan hidup orangnya pasti terjamin. Sehingga nyaris tidak masuk akal jika orang yang menggeluti profesi itu terlunta-lunta, lalu meninggal dalam kesendirian di kamar indekos.
Baca juga : Mogok Makan 3 Hari Agar Dibelikan iPhone
Namun, si suami tahu betul, dengan kondisi Hakim saat ini, menjemput maut sendirian di kamar indekos merupakan hal yang sangat masuk akal. Tidak lagi hipotetis bahkan, tetapi sudah faktual.
Yang terbaru, Selasa, 17 September 2024, adalah seniornya, seorang Hakim di Pengadilan Agama Purwodadi, meninggal di kamar indekosnya, sendirian. Diperkirakan meninggal hari Jum’at, namun baru ketahuan hari Selasa.
Itu pun karena dia tidak kunjung masuk kerja karena kebetulan Senin-nya tanggal merah. Kamar indekosnya terkunci dari dalam. Dengan kunci yang masih tertancap di lubangnya.
Ketika akhirnya jendela kamar bisa dibuka paksa, orang yang seharusnya memimpin sidang pada hari itu ternyata telah terbujur kaku di kamar mandi. Boleh jadi dia terpeleset, lalu karena komplikasi penyakit yang dideritanya, sang Hakim tak bisa bangun lagi.
Baca juga : Dari Islam Arab Ke Islam Indonesia
Saya membayangkan keseharian Pak Hakim sebelum meninggal berangkat kerja pagi-pagi dengan kaki kesemutan dan lutut gemetar. Lelaki tua ini, karena tugasnya, hidup sendirian di kamar sewaan di sebuah kota yang jauh dari keluarga dan sanak saudaranya.
Sore hari, sering juga malam, pulang ke kamarnya disambut kipas angin dan magic com, dan obat-obatan untuk diabetes, hipertensi, kolesterol, dan prostat. Sebelumnya mampir di warung nasi untuk membeli lauk untuk makan malam dengan menu ala kadarnya. Tak ada waktu bagi Pak Hakim menghitung kalori. Apalagi menimbang nutrisi yang sesuai untuk kondisinya.
Setiap malam sebelum tidur, pikiran Pak Hakim menerawang. Mungkin membayangkan anak istrinya di kampung. Mungkin pula mengingat-ingat lagi masa kanak-kanaknya.
Masa ketika ia tak pernah kekurangan meskipun orang tuanya hanya tinggal di kampung sebagai petani. Proteinnya tercukupi oleh ikan dari kolam belakang rumah atau ayam peliharaan. Buah-buahan, kalau sekadar pisang dan pepaya tinggal menunggu matang. Bahkan di musim alpukat atau mangga, ia bisa menikmati dua buah itu tanpa mendengar orangtuanya mengeluh harganya yang mahal.
Baca juga : Perpustakaan Kini Lebih "Seksi"
Lalu ia melihat dirinya sekarang. Tua, penyakitan, tinggal sendirian di kota orang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.