BREAKING NEWS
 

Puisi Esai Miliki Potensi Besar Diadaptasi Ke Teater Dan Film

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 18 Desember 2024 20:00 WIB
Diskusi Dari Puisi Esai ke Film, Teater, Lagu, Musik, dan Karya Seni Lainnya. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Puisi esai, sebagai salah satu genre sastra modern, memiliki potensi besar untuk dialihwahanakan ke berbagai bentuk seni lain seperti teater, film, musik, dan pertunjukan seni lainnya.

Hal ini disampaikan oleh penggagas puisi esai, Denny JA, dalam Festival Puisi Esai Jakarta II yang berlangsung pada 13-14 Desember 2024 di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Menurut Denny, puisi esai memiliki keunggulan berupa perpaduan antara fakta dan fiksi yang memungkinkan kisah-kisahnya diadaptasi menjadi karya seni dengan narasi dramatis dan karakter yang kuat. “Karya-karya puisi esai bisa mengembangkan drama fiksi dengan tokoh dan plot yang disajikan secara puitis,” ujarnya.

Baca juga : DOB Harus Sesuai Dengan Politik Potensi Daerah, Kemampuan APBN, dan APBD

Denny menambahkan bahwa potensi tersebut telah dibuktikan melalui alih wahana beberapa puisi esainya menjadi film. Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo, misalnya, pernah menggarap lima film berdasarkan puisi esai karya Denny JA. Meski demikian, film-film tersebut belum ditujukan untuk tayang di layar lebar.

Untuk membahas lebih jauh isu ini, Festival Puisi Esai Jakarta II juga menggelar dialog bertema “Dari Puisi Esai ke Film, Teater, Lagu, Musik, dan Karya Seni Lainnya.” Dialog tersebut menghadirkan praktisi seni seperti Venantius Vladimir Ivan, Isti Nugroho, dan Ipit Saefidier Dimyati, dengan moderator Isbedy Stiawan.

Adsense

Dalam dialog tersebut, Venantius Vladimir Ivan menekankan pentingnya memahami maksud dan tujuan puisi esai sebelum mengalihwahanakannya. “Proses ini memastikan bahwa adaptasi seni pertunjukan bisa memenuhi harapan penulis dan tetap menyampaikan pesan aslinya,” katanya.

Baca juga : Komisi III Minta Pimpinan KPK Baru Jaga Kepercayaan Rakyat

Sementara itu, Ipit Saefidier Dimyati menjelaskan bahwa alih wahana dari puisi esai ke teater atau film membutuhkan adaptasi mendalam. “Puisi menggunakan kata-kata sebagai medianya, sedangkan teater adalah seni audio-visual yang langsung dirasakan oleh penonton,” tuturnya.

Ipit menambahkan, alih wahana bisa dilakukan melalui berbagai format seperti monolog, dialog, story telling, hingga dramatic reading. Namun, ia juga mengingatkan bahwa proses ini berpotensi mengubah beberapa elemen dari karya aslinya, yang kadang menghadirkan sesuatu yang tidak terbayangkan oleh penulis.

Pada Festival Puisi Esai Jakarta II, seniman asal Yogyakarta, Isti Nugroho, menampilkan salah satu bentuk alih wahana puisi esai dalam bentuk monoplay bertajuk “Doktrin Sinatra.” Pertunjukan ini menyoroti masa Glasnost dan Perestroika di Uni Soviet menjelang runtuhnya komunisme.

Baca juga : Jadi Pendekar Di Kementerian

Dalam monoplay tersebut, satu puisi esai dibacakan oleh tiga orang dengan iringan musik, kostum, dan properti. Penampilnya adalah Isti Nugroho dan Agusto Sulistio, dengan pengarah dramatika Indra Tranggono dan penata musik Agusto Sulistio.

Denny berharap, melalui adaptasi ke berbagai karya seni, puisi esai dapat menjangkau khalayak lebih luas serta menyampaikan pesan kemanusiaan dan kritik sosial secara efektif. Festival Puisi Esai Jakarta II ini menjadi langkah penting untuk mewujudkan potensi besar tersebut. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense