Ketika hari-hari menjelang fajar Ramadan kemarin, denyut nadi kehidupan bangsa Indonesia tampak mengalami akselerasi unik. Masyarakat tidak hanya bersiap secara teologis, tetapi juga secara sosiologis.
Di berbagai sudut daerah, keriuhan menyambut bulan suci mewujud dalam beragam istilah: munggahan, cucurak, kuramas, atau keramasan. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar seremoni musiman, melainkan sebuah simpul rumit yang mempertautkan antara kesalehan spiritual, penguatan ikatan sosial, dan mesin penggerak ekonomi yang masif.
Jika kita bedah secara semantik, istilah munggahan berakar dari kata unggah, yang berarti menaikkan sesuatu ke tempat yang lebih tinggi. Para orang tua kita terdahulu nampaknya memiliki kearifan luar biasa dalam memilih diksi ini.
Secara visual dan filosofis, munggahan adalah upaya sadar manusia untuk "mengunggah" derajat dirinya; berpindah dari kubangan rutinitas yang biasa saja menuju derajat yang lebih bernilai, lebih berkelas, dan lebih mulia di hadapan Sang Pencipta.
Ramadan diposisikan sebagai "rumah" dengan kualitas ruang yang berbeda. Untuk memasukinya, seseorang tidak bisa melenggang begitu saja. Perlu ada upaya sengaja (intentional action) untuk membersihkan diri dan menaikkan standar moral.
Baca juga : BPKH Bangun Kedaulatan Ekonomi Haji
Di sinilah dimensi ibadah yang tadinya bersifat privat dan minimalis—hanya mengejar yang wajib—bertransformasi menjadi masif dan kolektif melalui tarawih, tadarus, dan puasa itu sendiri.
Kegembiraan Kolektif dan Resolusi Konflik
Namun, transisi spiritual ini tidak dilakukan dengan wajah nelangsa. Muncul istilah cucurak atau curak-curak, yang menyiratkan kegembiraan. Hal ini sejalan dengan spirit nubuat bahwa bagi mereka yang berpuasa ada dua kegembiraan: saat berbuka (di dunia) dan saat bertemu Tuhannya (di akhirat). Tradisi ini adalah perayaan ambang pintu (liminality) sebelum memasuki bulan keprihatinan.
Lebih jauh lagi, ada dimensi kuramas atau keramasan. Secara harfiah berarti membersihkan diri. Dalam praktiknya, ia menjadi mekanisme resolusi konflik sosial yang paling efektif. Melalui forum-forum pengajian atau sekadar kumpul makan bersama, tetangga dan kerabat saling meminta maaf.
Di titik ini, keramasan adalah tindakan sosiologis untuk membebaskan diri dari residu dendam dan khilaf, sehingga setiap individu memiliki "bagasi emosional" yang kosong sebelum memulai pendakian spiritual.
Baca juga : Spirit yang Tertunda
Nalar Ekonomi dan Social Bonding
Bagaimana kita membaca fenomena ini dari perspektif sosiologi ekonomi? Setiap tindakan konsumtif yang dilakukan secara masif oleh masyarakat selalu berdampak pada dua hal fundamental: perputaran uang dan penguatan struktur kelas.
Mari kita berhitung secara kasar. Bayangkan sebuah kota dengan penduduk 5 juta jiwa. Jika setengahnya saja—2,5 juta orang—melakukan ritual munggahan atau cucurak dengan belanja minimal Rp50.000 per orang, maka dalam satu momentum serentak, terdapat perputaran uang sebesar Rp125 miliar. Angka ini bukanlah angka statis; ia adalah stimulus yang menghidupkan pedagang daging di pasar tradisional, pemilik warung makan, hingga pengelola destinasi wisata lokal.
Sementara di jalanan, kita sering melihat rombongan warga menaiki mobil bak terbuka menuju tempat wisata atau sekadar makan bersama di tepi sawah. Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi dalam munggahan bukan sekadar pemuasan lapar, melainkan instrumen social bonding (ikatan sosial). Biaya yang dikeluarkan warga dianggap sebagai "investasi sosial" untuk membeli kegembiraan bersama dan jaminan kohesi komunitas.
Meski di dalamnya tetap tergambar kompetisi kelas—di mana kelompok elit memilih restoran mewah dan kelompok bawah memilih makan bersama di pelataran—tujuannya tetap sama: legitimasi sosial dan ketenangan batin.
Baca juga : Wapres Gibran Tinjau Lokasi Longsor Di Bandung Barat
Penutup: Tradisi sebagai Modal Sosial
Munggahan pada akhirnya memberikan warna baru dalam konteks ekonomi sosiologi Indonesia. Ia membuktikan bahwa agama dan tradisi bukanlah penghambat rasionalitas ekonomi, melainkan pendorong (driver) konsumsi yang sangat bertenaga. Namun, di atas angka-angka statistik pertumbuhan konsumsi tersebut, ada nilai yang jauh lebih mahal: rasa terbebasnya diri dari beban dosa antarsesama manusia.
Tradisi lokal ini adalah modal sosial yang menjaga republik ini tetap rekat. Dengan perut yang kenyang karena berbagi, dan hati yang lapang karena saling memaafkan, bangsa ini melangkah masuk ke gerbang Ramadan tidak hanya dengan iman, tetapi juga dengan rasa kemanusiaan yang telah "diunggah" ke level yang lebih tinggi. (*)
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.