Sebelumnya
Seperti dilansir BBC, Menteri Kesehatan Afrika Selatan Joe Phaahla mengkritik berbagai pembatasan perjalanan yang diberlakukan negara-negara dalam menghadapi varian Omicron. Menurutnya, langkah tersebut kontras dengan arahan WHO.
Pada Jumat (26/11), WHO mengatakan, dalam mengambil kebijakan pembatasan perjalanan, negara-negara mestinya mengambil pendekatan berbasis risiko dan ilmiah. Perlu waktu berminggu-minggu untuk memahami dampak varian baru dan potensi penularannya.
Baca juga : Ada Varian Baru, Inggris Stop Penerbangan Dari Afrika Selatan
Berdasarkan bukti awal, WHO mengatakan varian Omicron memiliki potensi reinfeksi yang lebih tinggi dibanding varian lain. Para ilmuwan mengatakan, varian ini memiliki jumlah mutasi terbanyak dalam riwayat pandemi Covid. Sehingga, bisa saja, vaksin Covid yang dibuat dengan menggunakan original strain dari Wuhan, China menjadi tidak efektif.
Varian Omicron banyak ditemukan di Afrika Selatan, namun juga terdeteksi di Hong Kong, Israel, Botswana, dan Belgia. Mayoritas kasus di Afrika Selatan berasal dari Gauteng, provinsi terpadat di Afrika Selatan yang beribu kota di Johannesburg.
Baca juga : DPR: Hapus Wajib Karantina Bagi Pelancong Luar Negeri
"Cakupan vaksinasi penuh di Afrika Selatan baru mencapai 24 persen. Faktor inilah yang diduga memicu varian Omicron begitu cepat menular di Afrika," kata Dr. Mike Tildesley, anggota Scientific Pandemic Influenza Modelling group (Spi-M). [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.