BREAKING NEWS
 

Minta Maaf Kepada Para Korban Pelecehan Seks Anak

PM Australia Akui Negara Gagal Cegah Kejahatan

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Selasa, 23 Oktober 2018 10:47 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison menyampaikan permintaan maaf secara nasional kepada ribuan korban pelecehan seks anak dan keluarga mereka, kemarin. Pelecehan itu kebanyakan terjadi di lembaga agama dan pemerintah. Morrison mengakui nega¬ra gagal menghentikan praktik jahat dan gelap yang dilakukan selama puluhan tahun. “Ini dilakukan orang Australia kepada orang Australia. Musuh di tengah-tengah kita, musuh di tengah-tengah kita,” kata Morrison, dalam pidato emosional kepada parlemen, seperti dilaporkan AFP.

Pernyataan itu dia tujukan bagi 15.000 orang yang diketahui selamat dari pelecehan anak. “Sebagai sebuah bangsa, kami gagal. Kami meninggalkan mereka, dan itu akan selalu menjadi aib kami,” katanya. Morrison menceritakan penyalahgunaan yang diperlihatkan sebuah penyelidikan pemerintah, yang terjadi di sekolah, gereja, panti asuhan, klub olahraga, dan lembaga lain di seluruh negara selama puluhan tahun.

Adsense

Baca juga : Terjun Ke Palu, Pantau Penyaluran Bantuan Kemanusiaan

Suara Morrison bergetar dan menghilang saat menceritakan sejarah eksploitasi, menutup-nutupi, dan kegagalan negara. Permintaan maaf nasional itu muncul setelah Komisi Kerajaan merinci klaim-klaim pelecehan seks anak yang melibatkan lembaga-lembaga yang dipercaya.“Hari ini, kami minta maaf, kepada anak-anak, kami gagal (melindungi). Maaf. 

Kepada orang tua yang kepercayaannya dikhianati dan yang telah berjuang untuk bangkit dari kepingan-kepingan. Maaf. Untuk para pelapor, yang tidak kami dengarkan. Maaf,” kata Morrison. “Kepada pasangan, rekan, istri, suami, anak-anak, yang berurusan dengan konsekuensi dari pelecehan, menutup-nutupi, dan kesulitan. Maaf. Untuk generasi dulu dan sekarang. Maaf,” lanjut Morrison. 

Baca juga : Nikki Haley Tepis Rumor Mau Nyapres

Di parlemen, para pembuat undang-undang berdiri untuk mengheningkan cipta setelah pernyataan itu. Ratusan orang yang selamat dari pelecehan seks melihat dan menonton dalam tayangan resmi di seluruh negeri.
Di luar ruang parlemen, keluarga korban yang meninggal mengenakan tanda pengenal dengan nama-nama anak perempuan dan anak laki-laki, saudara laki-laki dan perempuan.

Serangkaian lembaga Australia meminta maaf atas kegagalan mereka, termasuk para pemimpin Katolik Australia, terkait pelecehan anak-anak dan mengakui menutup-nutupi kasus tersebut. Menurut Komisi Kerajaan, 7 persen imam Katolik di Australia dituduh melakukan pelecehan antara tahun 1950 dan 2010. Namun tuduhan itu jarang diselidiki, dengan anak-anak yang jadi korban diabaikan dan bahkan dihukum. eberapa anggota se¬nior gereja di Australia dituntut dan dinyatakan bersalah karena menutupi pelecehan. (DAY)
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense