RM.id Rakyat Merdeka - Qatar menandatangani perjanjian membeli 160 pesawat jet senilai 200 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 3,3 kuadriliun dari pabrik pesawat terbang AS, Boeing untuk Qatar Airways, Rabu (14/5/2025).
Perjanjian tersebut ditandatangani Presiden Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, dalam kunjungan Trump ke negara Teluk Arab tersebut.
"Jadi jumlahnya lebih dari 200 miliar dolar AS, dalam bentuk 160 pesawat jet. Itu fantastis,” kata Trump, seperti dikutip CNN International.
"Jadi itu rekor, Kelly. Selamat untuk Boeing," kata Trump kepada CEO Boeing Kelly Ortberg, yang berada di ruangan tersebut.
Saat ini, Boeing memang berada dalam kondisi butuh bantuan. Pesanan tahun lalu terhenti secara efektif, setelah sumbat pintu lepas dari pesawat Alaska Airlines 737 Max pada awal tahun 2024, dan meninggalkan lubang menganga di sisi pesawat.
Baca juga : Laba Bersih BRI Melonjak Capai Rp 13,80 Triliun Di Triwulan I-2025
Sekalipun terjadi peningkatan pesanan menjelang akhir tahun 2024, pesanan kotor Boeing hanya menyentuh angka 569 di sepanjang tahun lalu, atau turun 60 persen dibanding tahun 2023.
Dengan latar belakang kondisi seperti ini, tarif "resiprokal" Trump jelas menjadi pukulan telak bagi perusahaan yang sudah terpuruk. Terlebih, Boeing adalah eksportir utama Amerika.
Tarif impor yang tinggi menyebabkan harga pesawat jet naik jutaan dolar AS. Terutama, jika negara asing membalas dengan tarif mereka sendiri.
Di luar itu, tarif Trump juga mendongkrak biaya pembuatan pesawat, karena Boeing mendapatkan suku cadang dan pasokan dari luar negeri.
Saham Boeing Naik
Pada hari tercapainya kesepakatan pembelian pesawat jet antara Qatar dan AS, saham Boeing dilaporkan naik 1,7 persen. Namun, investor menyadari sepenuhnya bahwa komitmen pesanan belum final. Maskapai penerbangan bisa saja membatalkan pesanan yang telah mereka umumkan.
Baca juga : Elon Musk Jual X Ke Perusahaan Sendiri, xAI Rp 564,6 Triliun, Apa Dampakya?
Perjanjian lain yang ditandatangani di Qatar adalah perjanjian pertahanan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth sudah meneken perjanjian mengenai pertahanan, termasuk pernyataan niat kerja sama pertahanan antara Negara Bagian Qatar dan AS.
Selain itu, Hegseth juga sudah menandatangani surat penawaran dan penerimaan untuk pesawat MQ 9B dan FS-LIDS. Sementara Trump menandatangani deklarasi kerja sama bersama antara Negara Bagian Qatar dan Amerika Serikat.
Strategi Negosiasi
Pemerintahan Trump tampaknya mengupayakan komitmen pesanan Boeing sebagai bagian dari strategi negosiasinya mengenai perdagangan.
Minggu lalu, di Ruang Oval, Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengatakan, maskapai penerbangan Inggris setuju untuk membeli pesawat jet Boeing senilai 10 miliar dolar AS atau Rp 165,54 triliun sebagai bagian dari perjanjian yang lebih besar mengenai kerangka kerja perdagangan.
Reuters kemudian mengungkap, maskapai penerbangan yang dimaksud adalah IAG. Maskapai itu disebut akan memesan sekitar 30 pesawat dari 787 jet berbadan lebar.
Baca juga : Bank Mandiri Raih Pendanaan Global Bond Senilai Rp 13,20 Triliun
Hal lain yang berkontribusi terhadap anjloknya performa Boeing adalah pemogokan besar-besaran pada musim gugur. Sekitar 33 pilot melakukan mogok pada September 2024. Boeing pun menangguhkan kegiatan produksinya hingga awal Desember 2024.
Alhasil, pada tahun lalu, pengiriman Boeing hanya mencapai 348 atau turun 34 persen dibanding tahun 2023.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.