RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap universitas elite, memicu ketidakpastian bagi mahasiswa internasional. Trump melihat institusi-institusi ini sebagai penghalang bagi agenda populisnya.
Parahnya lagi, pebisnis real estate itu telah mengambil langkah-langkah seperti menangguhkan wawancara visa mahasiswa, memblokir Universitas Harvard menerima mahasiswa asing, serta meningkatkan pemeriksaan media sosial bagi pelamar visa.
Akibatnya, banyak calon mahasiswa internasional mulai mempertimbangkan negara lain untuk studi mereka. Sementara yang sudah terdaftar, mengalami stres dan kecemasan terkait masa depan kuliah mereka.
Trump telah merusak reputasi negaranya di mata mahasiswa asing. Padahal, AS adalah salah satu negara tujuan utama para pelajar dari seluruh negara untuk menimba ilmu.
Baca juga : Putri Anne, Cerai Karena Nggak Rukun
Dilansir Channel News Asia, Kamis (29/5/2025), mahasiswa matematika terapan dan ekonomi Harvard, Abdullah Shahid Sial mengatakan, pemerintahan Trump menuduh universitas-universitas elite AS sebagai sarang liberal dan antisemitisme. Tuduhan itu, menurutnya, tidak dapat diterima.
“Sangat disayangkan hal ini terjadi pada pelajar berusia 18 hingga 20 tahun. Mereka datang tanpa keluarga dan tidak paham banyak soal politik AS,” ujar Shahid Sial.
Mahasiswa asal Pakistan ini masih berharap, bisa belajar di kampusnya saat tahun ajaran baru dimulai. Namun, dia tidak berharap banyak. Dia juga sudah menyarankan saudara dan teman-temannya yang ingin kuliah di AS, mencari kampus alternatif di negara lain.
Mahasiswa ilmu pemerintahan dan sastra klasik Harvard, Karl Molden mengatakan, kebijakan Trump membuatnya ragu apakah dia bisa melanjutkan studinya di tahun ajaran baru pada Oktober nanti.
Baca juga : Suasana Baru Tenda Jemaah Haji di Mina: Ada Kanopi Bambu, Taman Hijau & Gemericik Air
“Saya berharap bisa menyelesaikan studi tanpa masalah non-akademis,” harap Molden.
“Saya rasa saya termasuk pelajar yang dibenci Trump. Meski saya tidak begitu berambisi melawan beliau,” ujar Molden, yang mengaku sudah mengajukan permohonan kuliah ke Universitas Oxford, Inggris.
Para akademisi Harvard sudah mulai merasakan dampak ancaman Trump terhadap universitas.
“Saya sudah mendengar ini dari para profesor di negara lain yang menyarankan mahasiswa asing segera keluar dari AS,” curhat Profesor Ryan Enos kepada AFP, Rabu (28/5/2025).
Baca juga : Hasil Survei Terbaru, Presiden Makin Dipercaya Rakyat
Penghentian pemrosesan visa pelajar pekan ini disebut-sebut memungkinkan penyaringan ketat dengan memeriksa media sosial setiap pemohon.
“Mahasiswa internasional sudah menjadi sasaran pemantauan keamanan AS kategori non-imigran yang paling banyak. Ini adalah penggunaan uang pajak yang buruk,” begitu pernyataan NAFSA (National Association of Foreign Student Advisers) yang sekarang disebut Association of International Educators, organisasi nirlaba yang berfokus pada pendidikan internasional.
Mahasiswa yang akan kembali ke Harvard setelah liburan musim panas, berada dalam ketidakpastian sambil menunggu keputusan tentang pengecualian Harvard dari sistem penerimaan mahasiswa asing.
“Saya sama sekali tidak tahu apa-apa,” kata Alfred Williamson, mahasiswa fisika dan pemerintahan berdarah campuran Wales- Denmark yang sedang menempuh tahun kedua di Harvard.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.