Sebelumnya
Politisi muda Partai Golkar ini menilai, masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk menawarkan proposal yang saling menguntungkan antar kedua negara. Mengingat, Pemerintah, diakui Puteri, telah menyampaikan rencana peningkatan hubungan komersial dengan AS.
Sejumlah perusahaan Indonesia di sektor pertanian dan energi bahkan telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan-perusahaan AS untuk pembelian produk unggulan guna meningkatkan investasi.
“Langkah ini diharapkan bisa membantu menutup defisit neraca perdagangan yang selama ini menjadi sorotan Presiden Trump,” jelas ia.
Baca juga : Temui Korban Banjir, Gibran Tampung Curhatan Emak-emak
Anggota Komisi XI DPR Ahmad Najib Qodratullah menyarankan agar proses diplomatik ke pemerintah AS jadi opsi penting untuk menekan pengenaan tarif Trump. Selain itu pemerintah harus memastikan program-program strategis dapat berjalan optimal sebagai jurus untuk menghadapi tarif impor AS. Termasuk mencermati permintaan Trump agar Indonesia membangun pabrik di AS sebagai syarat menghindari tarif impor.
“Saya rasa hal tersebut perlu menjadi perhatian dengan mengukur untung ruginya bagi republik kita ini,” ujar Najib.
Najib mengatakan pemerintah juga telah mengupayakan diversifikasi pasar sebagai bagian dari mitigasi pascakeputusan tarif impor AS. Salah satunya dengan bergabungnya Indonesia di BRICS.
Baca juga : Masih Di Luar Negeri, Gerak-gerik MRC Dipantau Kejagung
“Diversifikasi market adalah bagian dari mitigasi yang pasti juga sudah diperhitungkan pemerintah, dengan bergabungnya Indonesia di BRICS bisa menjadi alternative market,” ujar Najib.
Sekretaris Fraksi PAN DPR ini juga mendorong pemerintah memprioritaskan terwujudnya ketahanan pangan dan energi. Upaya ini harus jadi benteng dalam menghadapi tarif impor AS.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Sukamdani masih melihat peluang negosiasi atas tarif ini. Menurutnya, masih adanya waktu hingga 1 Agustus membuka peluang negosiasi terus berjalan. Artinya, tarif 32 persen belum tentu mutlak diberlakukan.
Baca juga : PKS Puji Prabowo Urus Koperasi
"Tenggat implementasi tarif pada 1 Agustus menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka dan peluang untuk mencapai kesepakatan yang konstruktif masih tersedia," kata Shinta.
Ekonom Eisha Maghfiruha Rachbini dari Indef menilai peluang negosiasi sangat terbuka. Syaratnya, Indonesia mau memberikan timbal balik yang menarik bagi AS. “Misalnya, membawa investasi Indonesia ke sana. Itu bisa jadi kunci sukses perundingan,” ujar Eisha.
Eisha menambahkan, pendekatan win-win solution dengan memperhatikan kepentingan kedua negara akan membuka ruang dialog yang lebih konstruktif. Sehingga kebijakan tarif yang dinilai memberatkan Indonesia dapat direvisi atau dikaji ulang oleh Pemerintah Amerika. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.