BREAKING NEWS
 

Negosiasi Tarif 32 Persen, Prabowo Berencana Temui Trump

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : SISWANTO
Sabtu, 12 Juli 2025 08:10 WIB
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (11/7/2025). (Foto: ANTARA/dok. pribadi)

 Sebelumnya 
Politisi muda Partai Golkar ini menilai, masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk menawarkan pro­posal yang saling menguntungkan antar kedua negara. Mengingat, Pemerintah, diakui Puteri, telah menyampaikan ren­cana peningkatan hubungan komersial dengan AS.

Sejumlah perusahaan Indonesia di sektor pertanian dan energi bahkan telah menandatangani nota kesepaha­man (MoU) dengan perusahaan-pe­rusahaan AS untuk pembelian produk unggulan guna meningkatkan investasi.

“Langkah ini diharapkan bisa mem­bantu menutup defisit neraca perda­gangan yang selama ini menjadi sorotan Presiden Trump,” jelas ia.

Baca juga : Temui Korban Banjir, Gibran Tampung Curhatan Emak-emak

Anggota Komisi XI DPR Ahmad Najib Qodratullah menyarankan agar proses diplomatik ke pemerintah AS jadi opsi penting untuk menekan pen­genaan tarif Trump. Selain itu pemer­intah harus memastikan program-pro­gram strategis dapat berjalan optimal sebagai jurus untuk menghadapi tarif impor AS. Termasuk mencermati per­mintaan Trump agar Indonesia mem­bangun pabrik di AS sebagai syarat menghindari tarif impor.

“Saya rasa hal tersebut perlu men­jadi perhatian dengan mengukur un­tung ruginya bagi republik kita ini,” ujar Najib.

Najib mengatakan pemerintah juga telah mengupayakan diversifikasi pasar sebagai bagian dari mitigasi pascakepu­tusan tarif impor AS. Salah satunya dengan bergabungnya Indonesia di BRICS.

Baca juga : Masih Di Luar Negeri, Gerak-gerik MRC Dipantau Kejagung

“Diversifikasi market adalah bagian dari mitigasi yang pasti juga sudah diperhitungkan pemerintah, dengan bergabungnya Indonesia di BRICS bisa menjadi alternative market,” ujar Najib.

Sekretaris Fraksi PAN DPR ini juga mendorong pemerintah memprioritaskan terwujudnya ketahanan pangan dan energi. Upaya ini harus jadi ben­teng dalam menghadapi tarif impor AS.

Di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Sukamdani masih melihat peluang negosiasi atas tarif ini. Menu­rutnya, masih adanya waktu hingga 1 Agustus membuka peluang negosiasi terus berjalan. Artinya, tarif 32 persen belum tentu mutlak diberlakukan.

Baca juga : PKS Puji Prabowo Urus Koperasi

"Tenggat implementasi tarif pada 1 Agustus menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka dan peluang untuk mencapai kesepakatan yang konstruktif masih tersedia," kata Shinta.

Ekonom Eisha Maghfiruha Rachbini dari Indef menilai peluang negosiasi sangat terbuka. Syaratnya, Indonesia mau memberikan timbal balik yang me­narik bagi AS. “Misalnya, membawa investasi Indonesia ke sana. Itu bisa jadi kunci sukses perundingan,” ujar Eisha.

Eisha menambahkan, pendekatan win-win solution dengan memperha­tikan kepentingan kedua negara akan membuka ruang dialog yang lebih konstruktif. Sehingga kebijakan tarif yang dinilai memberatkan Indonesia dapat direvisi atau dikaji ulang oleh Pemerintah Amerika. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense