RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali uji coba senjata nuklir. Perintah Trump tersebut memicu kecaman dari berbagai negara. Para lawannya pun ikut meradang. Perintah Trump ini disampaikan ke Departemen Perang AS menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan (Korsel).
“Proses uji coba nuklir akan segera dimulai,” kata Trump dikutip NBC News, Rabu (28/10/2025). Dalam pernyataan terpisah di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengungkapkan, keputusan ini diambil karena negara-negara bersenjata nuklir lain juga aktif melakukan uji coba.
“Kami tidak melakukan uji coba selama bertahun-tahun, tapi negara lain melakukannya. Karena itu, saya rasa sudah sepatutnya kami juga melakukannya,” ujarnya.
Baca juga : Pratama Persadha: Sebagai ASN Main Judol Karena Stres
Trump menegaskan, AS memiliki persenjataan nuklir terbanyak di dunia, hasil pembaruan pada masa kepemimpinannya. Namun, ia mengakui negara pesaing seperti Rusia dan China mulai menutup jarak.
Perintah Trump itu muncul setelah Rusia melakukan uji coba rudal Burevestnik dan drone bertenaga nuklir Poseidon dalam beberapa hari terakhir.
Wakil Presiden AS JD Vance membela Trump. Kata dia, uji coba nuklir penting untuk memastikan kesiapan pertahanan nasional AS.
Baca juga : Mardani Ali Sera: Literasi Keuangan ASN Masih Rendah
“Amerika harus memastikan persenjataan nuklirnya benar-benar berfungsi dengan baik,” ujarnya dikutip AFP dan Reuters, Jumat (31/10/2025).
Namun, Vance tidak menjelaskan secara rinci jenis uji coba yang akan dilakukan.
Langkah Trump menuai kecaman dari para lawannya. Presiden China Xi Jinping menyebut kebijakan itu provokatif dan dapat mengganggu stabilitas global. Beijing bahkan menempatkan pasukan strategisnya dalam status siaga di sejumlah perbatasan.
Baca juga : Senayan Puji BUMN Makin Kompetitif Dan Profesional
“Amerika Serikat harus mematuhi larangan uji coba nuklir global,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Rusia juga menyampaikan peringatan keras. “Jika satu pihak meninggalkan moratorium, Rusia juga akan bertindak demikian,” ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.