Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Setelah Golkar Dan NasDem, PSI Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Sabtu, 1 November 2025 06:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah Partai Golkar dan Partai NasDem, kali ini partai politik (parpol) yang mendukung Soeharto dianugerahi gelar pahlawan nasional datang dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Presiden ke-2 RI itu layak mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Politik Bestari Barus mengatakan, publik harus menilai kepemimpinan Presiden Soeharto selama 32 tahun secara utuh.
Menurutnya, penilaian tidak boleh hanya berfokus pada kontroversi, tetapi juga pada kontribusi Soeharto dalam pembangunan bangsa.
“Dia membawa Indonesia menuju stabilitas ekonomi, swasembada pangan dan pembangunan infrastruktur besar-besaran. Itu fakta sejarah yang tidak bisa disangkal,” kata Bestari di Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Baca juga : RI-Korsel Perkuat Kerja Sama Investasi Dan Energi
Penolakan terhadap pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto, kata Bestari, tidak akan mempengaruhi keputusan Pemerintah dalam menentukan siapa yang layak menerima gelar tersebut. Pemerintah memiliki mekanisme dan pendalaman yang komprehensif dalam penentuan tersebut.
“Tim penilai gelar pahlawan sudah meneliti dengan matang, dan siapa pun yang nantinya ditetapkan pasti telah memenuhi kriteria,” ujarnya.
Bestari juga menilai, komentar negatif yang disertai kalimat merendahkan terhadap Soeharto menunjukkan pandangan yang tidak objektif terhadap sejarah.
Dia menilai Soeharto sebagai sosok hebat, karena berhasil menumpas Gerakan 30 September yang menelan banyak korban jiwa dan mengancam keutuhan bangsa.
Baca juga : Kelola Aset Ngangur, BUMN Disarankan Gaet Pihak Ketiga
“Tanpa langkah tegas itu, mungkin arah sejarah Indonesia akan berbeda,” tegasnya.
Mantan Anggota DPRD DKI Jakarta itu menambahkan, bangsa Indonesia harus belajar menilai masa lalu secara proporsional, bukan dengan dendam politik. Termasuk, catatan kritis PDI Perjuangan (PDIP) yang menolak usulan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.
“Kalau PDIP masih menilai Soeharto dari luka politik 1965 dan Orde Baru, berarti mereka belum siap berdamai dengan sejarah. Reformasi sudah dua dekade lebih berjalan, saatnya kita melihat sejarah dengan kepala dingin,” ujarnya.
Bestari berharap, bangsa Indonesia tidak lagi terjebak dalam kebencian lama dan tetap waspada terhadap ideologi yang pernah mengancam dasar negara. Dia juga mengingatkan, di bawah kendali Soeharto, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) berhasil ditumpas.
Baca juga : Poles Dulu Kualitas Pelayanan Biar Top
“Semoga ke depan tidak ada lagi pemikiran-pemikiran PKI yang berkembang di Indonesia. Harapan kita semua, bangsa ini terus melangkah maju dengan menghormati sejarahnya,” pungkasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya