BREAKING NEWS
 

Bukan Untuk Operasi Militer, TNI Bertugas Ke Gaza Menjaga Rakyat Sipil

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Minggu, 22 Februari 2026 08:05 WIB
Menteri Luar Negeri RI Sugiono. (Foto: Tim Media Presiden)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia mengambil langkah besar dalam konflik Gaza. Sebanyak 8.000 prajurit TNI akan dikirim bertahap untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF). Pemerintah menegaskan, misi ini bukan operasi militer, melainkan untuk menjaga warga sipil dan memastikan stabilitas pascaperang.

Indonesia menjadi satu dari lima negara yang berkomitmen mengirimkan pasukan untuk bergabung dengan ISF. Indonesia ditunjuk menjadi Wakil Komando ISF di bidang operasi.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan, prajurit TNI yang dilibatkan dalam misi perdamaian di Gaza hanya melaksanakan tugas sesuai mandat. TNI tidak akan terlibat dalam kegiatan operasi militer.

Menurut Sugiono, mandat ISF memberikan ruang bagi setiap negara peserta, termasuk Indonesia untuk menetapkan batasan penugasan melalui mekanisme national caveat. “National caveat sudah kita sampaikan ke ISF, bahwa kita tidak melakukan operasi militer, tidak melakukan pelucutan senjata, tidak melakukan demiliterisasi,” kata Sugiono dalam keterangan pers di Washington DC, Jumat (20/2/2026) waktu setempat.

Sugiono menegaskan, ribuan pasukan Indonesia hanya menjalankan tugas kemanusiaan. Seperti melindungi masyarakat sipil di kedua belah pihak, serta mempertahankan diri apabila terjadi serangan.

“Menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, terlibat dalam upaya kemanusiaan, dan yang sifatnya rule of engagement apabila kita diserang dalam rangka mempertahankan diri,” tegasnya.

Sekjen Partai Gerindra itu mengatakan, pengiriman 8 ribu personel TNI ke Gaza akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, pasukan kemungkinan ditempatkan di Rafah.

“Kurang lebih nanti ada lima sektor, diperkirakan total pasukan di sana 20.000 lebih di seluruh sektor,” jelasnya.

Baca juga : Rapat Perdana Badan Perdamaian, Trump Puji Prabowo Tangguh & Tegas

Terkait sosok Deputy Commander yang akan memimpin pasukan dari Indonesia, pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada TNI.

Sugiono juga menyebut pihak Palestina telah mengetahui dan mendukung keputusan Indonesia mengirim pasukan perdamaian. Dia mengungkap, Prof. Dr. Ali Shaath, Chairman National Committee on Administration of Gaza, telah menyampaikan dukungan tersebut.

“Palestina tahu, paham, dan mendukung. Kunci pertama adalah gencatan senjata, menciptakan suasana aman dan stabil, baru tahap-tahap berikutnya,” kata Sugiono.

Diketahui, dalam struktur ISF, Amerika Serikat berperan sebagai force commander yang didukung tiga deputy commander, salah satunya Indonesia di bidang Operasi. Penunjukan ini dinilai sebagai bentuk penghormatan atas rekam jejak TNI dalam berbagai misi perdamaian dunia.

“Pasukan Indonesia merupakan yang terbanyak di sana, ini penghargaan terhadap track record Indonesia di berbagai medan penjagaan perdamaian,” ujar Sugiono.

Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers dari Angkatan Bersenjata AS memproyeksikan sekitar 20.000 tentara dan 12.000 polisi akan bertugas bersama ISF untuk memulihkan situasi pascaperang di Gaza. Rafah, yang berada di selatan Gaza dan berbatasan dengan Mesir, menjadi lokasi awal penempatan.

Adsense

“Saya telah menawarkan dan Indonesia telah menerima posisi wakil komandan untuk ISF,” kata Jeffers, dikutip dari AFP.

Sebelumnya, dalam pertemuan perdana Board of Peace di Donald J. Trump Institute of Peace, Washington DC, Kamis (19/2/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia mengirim 8.000 prajurit TNI.

Baca juga : Trump-Prabowo Sepakati Tarif Dagang: Ada Yang 19%, Ada Yang 0%

“Kami menegaskan kembali komitmen berkontribusi mengirimkan prajurit kami dalam jumlah yang signifikan sebanyak 8.000, bahkan bisa lebih jika dibutuhkan,” ujar Presiden.

Personel yang diberangkatkan akan menjalankan misi non-tempur, termasuk tugas kemanusiaan, medis, dan rekonstruksi. Markas Besar TNI menyatakan belum menetapkan sosok Wakil Komandan ISF dari Indonesia. “Belum ditentukan. Mohon waktu,” ujar Wakil Kepala Pusat Penerangan (Wakapuspen) TNI Brigjen Osmar Silalahi.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menyebut sekitar 1.000 personel ditargetkan siap berangkat awal April 2026 dan seluruh 8.000 personel paling lambat akhir Juni 2026.

Namun demikian, TNI sejauh ini belum menerima informasi resmi terkait keputusan politik negara mengenai tanggal kepastian keberangkatan.

Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mengingatkan, pengiriman pasukan ke Gaza bukan perkara sepele karena kawasan tersebut masih berstatus konflik aktif.

“Butuh kesiapan khusus, baik dari strategi, perlengkapan, hingga mitigasi risiko. Potensi gesekan sangat besar dan tidak bisa dianggap ringan,” ujarnya.

Komisi I DPR RI, lanjutnya, perlu menggelar pertemuan khusus dengan Kementerian Pertahanan untuk membahas detail rencana tersebut, termasuk tujuan, mandat, aturan pelibatan, serta skema perlindungan prajurit.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF merupakan kehormatan sekaligus amanah besar. Hal itu mencerminkan kepercayaan dunia terhadap profesionalisme TNI serta konsistensi Indonesia dalam misi perdamaian internasional.

Baca juga : Tembus Rp 140 Ribu Per Kg, Harga Cabe Masih Pedas

“Komisi I DPR RI mendukung TNI dalam menjalankan penugasan ini,” katanya.

Meski demikian, Dave menekankan pentingnya persiapan menyeluruh, mulai dari logistik, aturan pelibatan, hingga perlindungan prajurit agar misi berjalan aman dan terukur.

Pengamat sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai keterlibatan TNI dalam ISF tetap sejalan dengan konstitusi dan kepentingan rakyat Palestina. Menurutnya, penerbitan national caveat memastikan operasi pasukan TNI bersifat non-combat, fokus pada perlindungan sipil, dan memerlukan persetujuan otoritas Palestina.

“Jadi, kita hadir bukan sebagai alat pendudukan pihak mana pun, melainkan sebagai penjamin keamanan bagi rakyat Gaza itu sendiri,” kata Khairul.

Ia menambahkan, jumlah personel yang signifikan dinilai proporsional mengingat mandat ISF mencakup pengawalan demiliterisasi, pembersihan puing peperangan, hingga perlindungan proyek rekonstruksi ratusan ribu rumah yang hancur. Operasi perdamaian ini disebut sebagai salah satu yang terbesar yang pernah dijalankan TNI.

Karena itu, persiapan matang, dukungan fasilitas operasional, serta logistik dari koalisi multinasional menjadi faktor krusial keberhasilan misi. “Kolaborasi internasional sangat vital untuk misi sebesar ini,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense