BREAKING NEWS
 

Kenakan Tarif Panel Surya RI 104%

Urusan Dagang, Trump Dinilai Mencla-mencle

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 27 Februari 2026 07:50 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Instagram/whitehouse)

 Sebelumnya 
“Para produsen Amerika menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kembali kapasitas dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang layak. Investasi tersebut tidak akan berhasil jika impor yang diperdagangkan secara tidak adil dibiarkan mendistorsi pasar,” ujarnya dalam pernyataan resmi. 

DOC dijadwalkan mengambil keputusan terpisah bulan depan untuk menilai apakah perusahaan dari Indonesia, India, dan Laos menjual produk ke pasar AS di bawah biaya produksi (dumping). 

Kebijakan tarif 104,38 persen terhadap Indonesia dinilai kontras dengan kesepakatan tarif resiprokal yang sebelumnya disepakati kedua negara sebesar 19 persen. 

Baca juga : Konflik Laut China Selatan, Nelayan Filipina Sulit Melaut

Dalam skema agreement on reciprocal trade (ART), sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik sektor pertanian maupun industri, mendapatkan tarif 0 persen. Komoditas unggulan seperti sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, dan karet termasuk dalam daftar yang memperoleh akses pasar lebih kompetitif ke AS. 

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, Indonesia tetap berharap implementasi tarif nol persen untuk 1.819 produk tersebut berjalan sesuai kesepakatan, meski terdapat dinamika kebijakan di AS. 

“Ini masih dalam masa konsultasi karena keputusan Amerika kemarin. Namun yang sudah kita tandatangani, yaitu 0 persen masuk ke Amerika Serikat, tetap kita harapkan berjalan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (26/2/2026). 

Baca juga : BRI Cetak Laba Rp 57,132 Triliun, Komitmen Dukung Asta Cita Pemerintah Dan Fokus Perkuat Ekonomi Rakyat

Sebelumnya, Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif resiprokal yang ditetapkan pemerintahan Trump, yang kemudian disusul penetapan tarif baru sebesar 15 persen untuk sejumlah produk. 

Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan menilai pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario risiko atas dinamika kebijakan perdagangan AS. Menurut dia, perubahan kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arah perdagangan bilateral. 

Ia menjelaskan, ekspor Indonesia ke AS selama ini didominasi komponen panel surya, termasuk komponen konversi energi surya menjadi listrik. Nilai ekspor sektor tersebut diperkirakan mencapai sekitar 2 miliar dolar AS. 

Baca juga : Rycko Menoza: Ini Momentum Mendorong Daya Saing Industri Otomotif

Jika komponen tersebut termasuk dalam cakupan tarif tinggi, dampaknya dinilai dapat memengaruhi kinerja ekspor dan neraca perdagangan Indonesia. “Untuk mengatasi dampak negatif itu, penting bagi pemerintah mengedepankan diplomasi. Jika dibiarkan, hal ini dapat mengganggu neraca perda­gangan kita,” kata Herry. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense