BREAKING NEWS
 

Krisis Timur Tengah: Singapura Tunda Pungutan Bahan Bakar Jet Ramah Lingkungan

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Rabu, 25 Maret 2026 21:40 WIB
Maskapai penerbangan Singapore Airlines (Foto: IG @singaporeairid)

RM.id  Rakyat Merdeka - Singapura memutuskan menunda pungutan bahan bakar jet ramah lingkungan (green jet fuel levy) untuk penerbangan yang berangkat dari Singapura, akibat dampak perang di Timur Tengah. Info ini disampaikan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS), Rabu (25/3/2026).

Pungutan tersebut akan berlaku bagi penumpang yang berangkat dari Singapura mulai 1 Januari 2027, untuk tiket pesawat yang dijual sejak 1 Oktober 2026. Sebelumnya, pungutan direncanakan berlaku bagi penumpang yang berangkat mulai Oktober 2026, dengan tiket yang dijual sejak 1 April 2026. 

Penumpang yang terbang dari Singapura mulai 1 Januari 2027 akan dikenakan pungutan antara 1 hingga 41,60 dolar Singapura (sekitar Rp 13 ribuan hingga Rp 547 ribuan).

Pungutan ini akan digunakan untuk pembelian bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF), yang sebagian besar dibuat dari limbah seperti minyak goreng bekas.

CAAS menyatakan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan dampak konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah terhadap maskapai dan penumpang.

Baca juga : Krisis Timur Tengah: Filipina Tetapkan Darurat Energi Nasional

Direktur Jenderal CAAS, Han Kok Juan menegaskan, Singapura tetap berkomitmen kuat terhadap dekarbonisasi sektor penerbangan.

“Kami mengambil jeda yang pragmatis mengingat situasi saat ini,” tuturnya, seperti dilansir The Straits Times, Rabu (25/3/2026).

Pungutan Sesuai Standar Industri Emisi Karbon 

Penumpang kelas ekonomi atau ekonomi premium akan membayar pungutan antara 1 hingga 10,40 dolar Singapura (Rp 13 ribuan hingga Rp 137 ribuan) atau tergantung tujuan.

Sementara penumpang kelas bisnis atau kelas I akan membayar antara 4 hingga 41,60 dolar Singapura (Rp 53 ribuan hingga Rp 547 ribuan).

Adsense

Perhitungan ini didasarkan pada standar industri emisi karbon dari penumpang di berbagai kelas kabin.

Baca juga : Krisis Timur Tengah: Jepang Minta Warganya Tak Timbun Tisu Toilet

Penumpang yang menempuh perjalanan lebih jauh akan membayar lebih mahal, karena penerbangan jarak jauh mengonsumsi lebih banyak bahan bakar.

Untuk penerapan pungutan ini, Singapura membagi tujuan di seluruh dunia menjadi empat kelompok wilayah, dengan besaran pungutan meningkat sesuai jarak:

Sebagai contoh, penumpang ekonomi atau ekonomi premium akan membayar:

Sementara itu, penumpang kelas bisnis atau kelas I akan membayar:

Untuk penerbangan dengan beberapa transit, pungutan dihitung berdasarkan tujuan langsung setelah berangkat dari Singapura.

Baca juga : Siasati Krisis Timur Tengah, Filipina Izinkan Penggunaan BBM Murah dan Kotor

Penundaan pungutan ini juga berlaku untuk pengiriman kargo serta penerbangan umum dan bisnis, seperti jet pribadi dan penerbangan sewaan.

Pengecualian 

Biaya ini tidak berlaku bagi penumpang transit di Singapura, serta tidak dikenakan pada penerbangan pelatihan maupun penerbangan untuk tujuan amal atau kemanusiaan.

Sebelumnya, otoritas menetapkan target agar bahan bakar penerbangan berkelanjutan mencapai 1 persen dari seluruh bahan bakar jet yang digunakan di Bandara Changi dan Seletar pada tahun 2026, dengan target meningkat menjadi 3 hingga 5 persen pada tahun 2030.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense