BREAKING NEWS
 

Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak

Negara Di Dunia Terapkan Kebijakan Darurat Energi

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Selasa, 31 Maret 2026 06:10 WIB
Warga Hobart, Tasmania, Australia, menikmati layanan transportasi umum secara gratis. Foto: Instagram City Of Hobart

RM.id  Rakyat Merdeka - Lonjakan harga minyak mentah global akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, mengguncang berbagai negara. Pemerintah di banyak negara pun berlomba-lomba menerapkan kebijakan darurat energi, demi menekan dampak kenaikan bahan bakar bagi masyarakat.

Dampak perang di Timur Tengah kian terasa secara global. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 115,66 dolar AS (sekitar Rp 1,9 juta) per barel per Senin (30/3/2026).

Untuk meredam dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Pemerintah di dua negara bagian Australia menggratiskan transportasi umum selama sepekan ini.

Kebijakan tersebut diterapkan di Victoria dan Tasmania sebagai upaya mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Premier Victoria Jacinta Allan mengumumkan layanan kereta, trem dan bus digratiskan mulai Selasa (31/3/2026). Langkah ini diharapkan dapat menekan konsumsi bahan bakar.

“Langkah ini tidak akan menyelesaikan semua masalah, tetapi tindakan cepat untuk membantu warga Victoria saat ini,” ujarnya dikutip dari BBC, Senin (30/3/2026). Kebijakan tersebut akan berlaku hingga April.

Baca juga : Tsania Marwa, Bahagia Bisa Memeluk Anak

Sementara, Pemerintah Tasmania menggratiskan layanan bus, pelatih dan feri selama beberapa bulan ke depan.

Premier Tasmania Jeremy Rockliff mengatakan, kebijakan ini diambil untuk melindungi masyarakat dari lonjakan biaya hidup.

“Kami memahami kenaikan harga bahan bakar berdampak pada anggaran keluarga. Itulah mengapa kami mengambil langkah tegas,” ujarnya.

Selain itu, layanan bus sekolah berbayar turut digratiskan, sehingga warga dapat menghemat sekitar 20 dolar Australia (sekitar Rp 233 ribu) per pekan.

Namun, tidak semua wilayah Australia mengadopsi kebijakan serupa. Pemerintah Negara Bagian New South Wales memilih menahan anggaran, karena memperkirakan krisis ini akan berlangsung lebih dari satu bulan.

Adsense

Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese sebelumnya berupaya menenangkan publik di tengah laporan pembelian panik dan kelangkaan bahan bakar di sejumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).

Baca juga : Aksi "No Kings" Meluas, Trump Didemo 8 Juta Warga AS

Sementara, Australia Selatan memperluas pemberian kartu transportasi bagi lansia. Sedangkan Queensland telah lebih dulu menerapkan tarif tetap 50 sen sejak Februari lalu.

Kenaikan harga di sektor energi juga mendorong sejumlah negara lain mengambil langkah penghematan.

Di Mesir, Pemerintah memerintahkan toko, restoran dan kafe tutup lebih awal sejak Sabtu (28/3/2026), disertai kebijakan kerja dari rumah bagi sektor non-esensial, serta kenaikan tarif transportasi umum.

Di Ethiopia, perusahaan milik negara dan institusi publik diminta mengurangi kehadiran pegawai non-esensial guna menekan mobilitas.

Filipina bahkan menetapkan status darurat nasional pada 24 Maret 2026. Pemerintahnya memberikan subsidi bagi pengemudi transportasi, mengurangi layanan feri, serta menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara.

Di Korea Selatan (Korsel), Pemerintah melarang pegawai negeri menggunakan kendaraan operasional. Kebijakan ini berpotensi diperluas ke masyarakat jika harga minyak menembus 120 dolar AS per barel.

Baca juga : Pangan RI Tidak Tergantung Timteng

Menteri Keuangan Korsel Choo Kyung-ho mengatakan, Pemerintah terus memantau situasi sebelum memperluas kebijakan tersebut.

Langkah pembatasan ini menjadi yang pertama sejak Perang Teluk 1991. Hal ini menandakan meningkatnya kekhawatiran terhadap guncangan energi global.

Presiden Korsel Lee Jae Myung mengimbau masyarakat mengurangi penggunaan listrik dan beralih ke transportasi umum.

Krisis ini tak lepas dari terganggunya distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Sejak konflik memanas pada akhir Februari, Iran sempat menutup Selat Hormuz. Meski kini sebagian kapal tanker kembali diizinkan melintas, pasokan minyak dunia belum sepenuhnya pulih, sehingga harga masih tinggi. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Selasa, 31 Maret 2026 dengan judul "Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Negara Di Dunia Terapkan Kebijakan Darurat Energi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense