RM.id Rakyat Merdeka - Hari ini, Rabu (22/4/2026), gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama dua minggu resmi berakhir. Namun, hingga detik-detik terakhir, belum ada tanda kesepakatan baru. Situasi di lapangan pun masih deadlock.
AS dan Iran sebelumnya menyepakati gencatan senjata pada 7 April lalu. Serangan dihentikan sementara hingga Rabu (22/4/2026), sebagai jeda konflik yang telah berlangsung lebih dari 50 hari. Namun, hingga tenggat waktu habis, belum terlihat sinyal perdamaian.
Presiden AS Donald Trump mengatakan nasib kelanjutan gencatan senjata akan sangat bergantung pada hasil negosiasi terbaru antara AS dan Iran di Pakistan, hari ini. Di sisi lain, Teheran dikabarkan enggan berunding karena menilai Washington kerap melanggar kesepakatan.
Trump bahkan memberi sinyal bahwa gencatan senjata kemungkinan besar tidak akan diperpanjang jika tidak ada titik temu dalam perundingan lanjutan. “Sangat tidak mungkin saya akan memperpanjangnya,” kata Trump, seperti dilansir Bloomberg, Selasa (21/4/2026).
Meski Iran disebut-sebut tidak akan hadir dalam negosiasi, Trump belum ingin mengambil keputusan final. Ia memilih menunggu perkembangan pembicaraan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Baca juga : Perluas Penerimaan Negara, Kemenkeu Kaji Pajak Tarif Tol
Namun, sejumlah opsi telah disiapkan, termasuk melanjutkan operasi militer jika jalur diplomasi benar-benar buntu. “Jika tidak ada kesepakatan, saya tentu akan memperkirakannya,” ujarnya.
Dari pihak Iran, sikap keras juga ditunjukkan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan negaranya siap memainkan “kartu baru” di medan perang dan menolak berunding di bawah tekanan. “Dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang,” tulisnya di akun X.
Ghalibaf menegaskan Iran tidak akan menerima negosiasi yang dibayangi ancaman militer. Menurutnya, AS tidak menunjukkan keseriusan untuk berdamai. Sebaliknya, Washington justru meningkatkan tekanan, termasuk dengan mengirim kapal perang dan memperketat kontrol di perairan Iran.
Langkah tersebutmemicu kemarahan Teheran. Ghalibaf yang juga berperan dalam proses negosiasi, mengkritik kebijakan blokade di Selat Hormuz yang dinilai melanggar gencatan senjata.
Ia bahkan menuding Trump menjadikan ancaman militer sebagai alat untuk memaksa Iran menyerah di meja perundingan. “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” tegasnya.
Baca juga : IHSG Loyo, Rupiah Perkasa
Di tengah kebuntuan diplomasi, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan tetap bertolak ke Islamabad, Pakistan, untuk memimpin delegasi dalam putaran kedua pembicaraan. Menurut Al Jazeera, Vance diperkirakan berangkat dari Washington pada Selasa (21/4/2026) malam dan tiba di Islamabad pada Rabu (22/4/2026). Selain Vance, utusan khusus Trump seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner juga disebut akan ikut dalam rombongan.
Di Islamabad, persiapan keamanan ditingkatkan. Dua pesawat kargo militer AS dilaporkan telah mendarat di pangkalan udara Nur Khan, sementara pengamanan di sekitar lokasi perundingan diperketat.
Namun, kehadiran delegasi Iran masih belum pasti. Hingga kini, belum ada kepastian apakah Teheran akan mengirim perwakilan atau justru memilih absen.
Sementara itu, situasi di lapangan terus memanas. AS dan Iran sama-sama menunjukkan kekuatan di Selat Hormuz.
Militer AS dilaporkan memperketat kontrol di kawasan tersebut sejak pertengahan April. Kapal perang, termasuk perusak kelas Arleigh Burke, aktif menghentikan dan memeriksa kapal yang dicurigai memiliki keterkaitan dengan Iran.
Baca juga : Utamakan Kenyamanan, 6 Ribu Bus Siap Sambut Jemaah Haji Indonesia
Sejumlah kapal bahkan dipaksa berbalik arah sebelum memasuki jalur sempit penghubung Teluk Persia dan Laut Arab tersebut. Dari yang biasanya lebih dari 100 kapal per hari, kini hanya segelintir yang berani melintas. Banyak kapal tanker memilih menunggu atau memutar rute demi menghindari risiko konflik.
Langkah AS ini secara de facto menyerupai blokade laut. Washington berdalih, operasi tersebut dilakukan untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan. Namun, di lapangan justru terjadi eskalasi.
Salah satu insiden paling menonjol adalah penyergapan kapal kargo Iran, Touska, di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026). Kapal itu dihentikan setelah berjam-jam tidak merespons peringatan. Militer AS kemudian melumpuhkan mesin kapal dan mengambil alih kendali.
Pemerintah Iran langsung bereaksi keras. Juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaghari menyebut, tindakan tersebut sebagai “pembajakan” dan pelanggaran terhadap gencatan senjata. “Angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons tindakan tersebut dan membalas pembajakan bersenjata yang dilakukan militer AS ini,” kata Zolfaghari, seperti dikutip Reuters.
Sebagai respons awal, Iran dilaporkan meluncurkan serangan drone terhadap sejumlah kapal AS. Namun, hingga kini belum ada laporan resmi terkait dampak atau kerusakan dari serangan tersebut. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.