Sebelumnya
Sebaliknya, Iran hingga kini masih terus melakukan perlawanan sengit terhadap AS. Bahkan dalam laporan terbaru CIA, terungkap cadangan rudal Iran masih sekitar 75 persen. Iran dianggap masih sanggup menghadapi AS bila perang kembali meletus.
Masih kuatnya militer Iran menghadapi perang dinilai ada kaitannya dengan Beijing. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menuding Beijing mendanai Iran dalam menghadapi Washington.
“China adalah sponsor terbesar Iran, dan China telah membeli 90 persen energi mereka,” kata Bessent kepada Fox News pada Senin (4/5/2026), seperti dikutip Al Jazeera.
Baca juga : 11 Kepala Daerah Kena OTT, Wamendagri: Ini Alarm Keras!
Meski melontarkan tuduhan keras, ia tetap meminta China bergabung dalam upaya internasional membuka kembali Selat Hormuz. "Jadi saya mendesak China untuk bergabung dengan kami dalam mendukung operasi internasional ini,” ujarnya.
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menilai, Beijing telah memahami posisi Teheran terkait perang yang terjadi dengan AS. Ia menyebut, Iran sudah menyampaikan langsung pandangannya kepada China melalui kunjungan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi ke Beijing pada pekan lalu.
“China sepenuhnya memahami bahwa ini adalah perang yang bersifat terpaksa. Ini adalah perang yang dipaksakan kepada Iran,” kata Baghaei seperti dikutip Al Jazeera, Senin (11/5/2026).
Baca juga : GKSR Usul PT Dihapus, OSO: 1 Suara Pun Tak Boleh Hilang
Menurut dia, konflik yang terjadi bukanlah insiden darurat biasa, melainkan kelanjutan dari kebijakan sepihak AS yang disebut terus melanggar hukum internasional. “Ini bukan insiden yang berdiri sendiri, tetapi kelanjutan dari tindakan sepihak Amerika Serikat yang terus melanggar hukum dan aturan internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, China diperkirakan akan menggunakan momentum diplomatik untuk memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil tindakan yang dinilai melanggar hukum internasional.
Sebelumnya, Iran telah mengajukan proposal balasan merespons rencana perdamaian yang diajukan AS. Proposal balasan Teheran itu diajukan melalui mediator Pakistan, diteruskan kepada AS Minggu (10/5/2026) waktu setempat.
Baca juga : Jemaah Aceh Tetap Berangkat Meski Kehilangan Segalanya
Dalam isi proposalnya, Iran menuntut kompensasi penuh atas kerusakan perang dari AS dan menekankan kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz. Proposal terbaru Iran itu, seperti dilaporkan Press TV Senin (11/5/2026), menuntut dicabutnya semua sanksi yang menjerat Teheran dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
"Tidak ada seorang pun di Iran yang menulis rencana untuk menyenangkan Trump. Tim negosiasi hanya menulis untuk hak-hak bangsa Iran. Jika Trump tidak senang dengan itu, itu sebenarnya lebih baik," kata sumber kepada Tasnim News Agency. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.