RM.id Rakyat Merdeka - Eropa seperti sedang “terpanggang” gara-gara dilanda gelombang panas ekstrem. Suhunya mencapai di atas 40 derajat celcius. Ini gelombang panas terparah dalam sejarah akibat krisis iklim.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, 150 juta orang terpapar panas ekstrem. Banyak sekolah terpaksa ditutup demi keselamatan.
"Lebih dari 1.300 kematian telah tercatat sejak 21 Juni 2026," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataannya, Selasa (30/6/2026).
WHO menyebut, krisis ini jadi ancaman kesehatan serius yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi. WHO bekerja sama dengan sejumlah negara dan mitra untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan langkah pencegahan, serta memperkuat sistem layanan kesehatan.
"WHO juga mendorong penerapan rencana aksi kesehatan terkait panas di setiap negara," ucap Tedros.
Dalam dua pekan ini, rekor suhu ekstrem di antaranya melanda Jerman, Polandia, dan Republik Ceko. Jerman kembali mencatat rekor hingga 41,7 derajat celsius pada Minggu (28/6/2026). Dinas Cuaca Jerman (DWD) mencatat, suhu tinggi ini terjadi di Coschen, Brandenburg.
Baca juga : MK Putuskan Kepala Daerah Dipilih Langsung Oleh Rakyat
Sehari sebelumnya, suhu 41,5 derajat celsius tercatat di Drewitz, Sachsen-Anhalt, dan Bad Muskau di perbatasan Polandia, serta 41,3 derajat celsius di Saarbrcken.
Otoritas Transportasi Leipzig (LVB) bahkan sempat menghentikan sementara layanan trem di Leipzig, Jerman Timur. Aspal meleleh di titik percabangan di berbagai lokasi yang menyebabkan rel tidak aman dilalui.
Otoritas Jerman juga mengimbau pengguna jalan lebih berhati-hati saat melintasi beberapa ruas jalanan. Menurut laporan Euro News, permukaan aspal di beberapa ruas jalan tol setempat, termasuk ruas Jalan A2 di Saxony-Anhalt, mengalami deformasi, melengkung, dan terangkat ke atas. Ruas Jalan Tol A2 di dekat Burg sempat ditutup, sebelum akhirnya dibuka kembali.
Beberapa ruas jalan tol lainnya, terutama yang ada di Bradenburg dan Saxony-Anhalt, ditutup karena kerusakan pada permukaan jalan. Otoritas setempat bahkan menyemprotkan air ke jembatan besi untuk mencegah perubahan struktur akibat cuaca panas.
Di Republik Ceko, suhu juga tercatat di atas 40 derajat celsius. Institut Meteorologi Ceko (CHMI) mencatat, di wilayah Doksany, sekitar 50 kilometer di utara Praha, suhu tembus 41,9 derajat celsius.
"Ini pertama kalinya kami mencatat suhu 41 derajat dalam jaringan stasiun cuaca resmi kami," tulis CHMI, dalam unggahannya di X.
Baca juga : Instruksikan Kader Bantu Rakyat, PAN Ingin Birukan Sulsel
CHMI menyebut, kenaikan suhu dipicu aliran udara panas dari barat daya yang melanda kawasan Eropa Tengah. Warga memenuhi Sungai Vltava di Cesky Krumlov untuk berenang mencari kesejukan.
Di Slovakia dan Hungaria, tercatat suhu tertinggi mencapai 41 derajat celcius. Merunut tiga stasiun pemantau di dekat perbatasan dua negara, ini rekor tertinggi sebelumnya yaitu 40,3 derajat celsius yang terjadi pada tahun 2007.
Di Prancis, suhu di Kota Biscarrosse melonjak hingga 44,3 derajat celsius. Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan, gelombang panas ekstrem menyebabkan sekitar 1.000 kematian di negara ini. Lansia menjadi kelompok paling terdampak, mencapai 85 persen korban. Kematian meningkat di rumah sakit, panti jompo, dan rumah pribadi.
Otoritas setempat telah mengimbau warga menghindari aktivitas di luar ruangan, tetap terhidrasi, dan mencari tempat berteduh di area ber-AC seperti pusat perbelanjaan.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengimbau masyarakat tetap waspada karena jumlah kematian sudah di atas angka normal yang menyebabkan layanan kesehatan akan di bawah tekanan selama beberapa hari ke depan.
Kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu turut menyatakan, meskipun gelombang panas mulai mereda, dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, seperti dehidrasi, keterlambatan perawatan di rumah sakit, serta memburuknya kondisi kelompok rentan, masih akan terus berlangsung.
Baca juga : Himbara Siap Tancap Gas Salurkan Kredit
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan, layanan darurat melonjak signifikan. Petugas pemadam kebakaran telah menangani sekitar 122.000 operasi selama periode gelombang panas.
"Layanan darurat diperkirakan tetap tinggi meski suhu mulai turun dan meminta masyarakat tetap berhati-hati, terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan," pesannya.
Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar telah memerintahkan kebijakan bekerja dari rumah dan pengurangan jam kerja menghadapi krisis ini.
Kepala Iklim PBB Simon Stiel menegaskan, krisis iklim semakin tidak terkendali. Ia menuding hal ini terjadi karena ketergantungan dunia pada batu bara, minyak, dan gas bumi.
"Solusinya sebenarnya sudah jelas: kita harus mempercepat transisi ke energi bersih, yang kini jauh lebih murah daripada bahan bakar fosil, serta melindungi hutan dan membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim," pesan Stiel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.