BREAKING NEWS
 

Trump Ingin Pecahkan Rekor Kembang Api

Perayaan Freedom 250 AS Picu Pro Dan Kontra

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 4 Juli 2026 06:30 WIB
Donald Trump menyapa pendukung saat meresmikan rangkaian perayaan 250 tahun Hari Kemerdekaan AS di National Mall, Washington DC, Amerika Serikat, 24 Juni 2026. Foto: Evan Vucci/Reuters.

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana merayakan puncak peringatan 250 tahun kemerdekaan AS pada 4 Juli dengan pertunjukan kembang api terbesar dalam sejarah.

Presiden ke-47 AS itu menargetkan pemecahan rekor dunia melalui proyek Freedom 250.

Pemerintah menyewa perusahaan kembang api Pyrotecnico yang berbasis di Pennsylvania untuk meluncurkan lebih dari 850.000 kembang api dari 10 titik di sekitar Lincoln Memorial dan Sungai Potomac. Pertunjukan dijadwalkan dimulai pukul 22.30 waktu setempat atau 5 Juli pukul 09.30 WIB.

Jumlah tersebut sekitar 40.000 lebih banyak dibanding rekor dunia Guinness World Records saat ini yang dicetak di Bocaue, Filipina, pada 2016. Skala pertunjukan itu juga diperkirakan sekitar 50 kali lebih besar dibanding pesta kembang api tahunan di Washington DC.

Freedom 250 mempromosikan acara tersebut sebagai puncak perayaan Hari Kemerdekaan AS yang akan dikenang sepanjang sejarah. Sejak 24 Juni 2026, rangkaian acara telah diisi dengan pertunjukan seni, atraksi udara, hingga demonstrasi akrobatik di National Mall.

Panitia memperkirakan perayaan akan menarik ratusan ribu pengunjung dan menyebutnya sebagai momen bersejarah bagi satu generasi. Namun hingga kini, mereka belum mengungkapkan anggaran penyelenggaraan acara tersebut.

Baca juga : BSI Targetkan Masuk List Top 5 Global Islamic Bank

Meski digadang-gadang menjadi perayaan spektakuler, rencana tersebut menuai kritik dari kalangan ilmuwan yang menilai dampak lingkungannya akan sangat besar. “Kembang api adalah tradisi perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat,” ujar Direktur Pemasaran Pyrotecnico Jodi Dague kepada AFP, Kamis (2/7/2026).

Menurut Dague, pertunjukan kembang api membangkitkan kenangan masa kecil, sekaligus menjadi sarana keluarga berkumpul dan menciptakan momen baru bersama.

Namun, Profesor Kimia Atmosfer Universitas Maryland Russell Dickerson menilai, jumlah kembang api yang akan dinyalakan jauh melampaui batas kewajaran. “Saya sangat menyukai kembang api. Tapi kali ini jumlahnya terlalu besar,” katanya, Jumat (3/7/2026).

Dickerson memperingatkan, peluncuran 850.000 kembang api pada musim panas berpotensi memperburuk kualitas udara dan meningkatkan suhu di kawasan perayaan.

“Menyalakan kembang api di tengah kondisi musim panas yang pengap akan menambah tingkat polusi dan suhu di area perayaan. Saya tidak akan membawa keluarga saya ke sana,” ujarnya.

Adsense

Menurut dia, ancaman terbesar berasal dari Particulate Matter (PM) 2.5, partikel halus yang berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat menembus paru-paru, masuk ke aliran darah, bahkan mencapai otak.

Baca juga : 11 Rusun Baru Bakal Dibangun Di Jakarta

“Setelah pertunjukan kembang api, asap memang akan berkurang dalam beberapa jam. Namun selama periode itu, masyarakat akan terpapar polusi dalam jumlah yang sangat besar,” kata Dickerson.

Selain menghasilkan partikel halus, pembakaran kembang api juga melepaskan logam kelumit dan senyawa organik mudah menguap yang berbahaya bagi kesehatan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan manusia. Suara ledakan kembang api juga dapat memicu stres pada hewan peliharaan. Dokter yang tinggal di pusat kota Washington, Adrian Aceves, mengaku akan tetap berada di rumah bersama anjingnya, Rosy.

“Saya akan berusaha mengalihkan perhatiannya dengan camilan dan mainan, serta memberinya obat penenang,” ujarnya.

Kembang api juga berdampak terhadap satwa liar. Sebuah studi di Eropa menemukan angsa migran Arktik meninggalkan lokasi persinggahan setelah pertunjukan kembang api Malam Tahun Baru dan tidak pernah kembali.

Sementara studi Pemerintah AS pada 2016 menunjukkan perklorat, bahan pengoksidasi dalam kembang api, telah mencemari air tanah dan air permukaan di sekitar Mount Rushmore National Memorial.

Baca juga : Ronaldo Kehilangan Taji, Ramos Jadi Penyelamat

Asisten Profesor Epidemiologi Brown University School of Public Health Erica Walker menilai, dampak lingkungan tersebut perlu dipertimbangkan bersama nilai budaya dan sejarah yang melekat pada perayaan Hari Kemerdekaan.

“Sebagai warga Amerika Serikat yang memiliki leluhur dari masa perbudakan, Hari Kemerdekaan sangat bermakna bagi saya,” ujarnya.

Walker mengatakan, bagi banyak warga AS, dentuman kembang api bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebebasan yang diwariskan para pendahulu.

“Menurut saya, itulah suara-suara kemerdekaan yang patut dirayakan dengan gembira,” pungkasnya. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 4 Juli 2026 dengan judul "Trump Ingin Pecahkan Rekor Kembang Api Perayaan ‘Freedom 250’ AS Picu Pro Dan Kontra"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense