RM.id Rakyat Merdeka - Gerakan “Cockroach Janta Party” (CJP) atau Partai Rakyat Kecoak belum menyerah, meski terlibat bentrok hebat dengan aparat keamanan di Ibu Kota India, New Delhi, Senin (20/7/2026). Massa memastikan aksi protes tetap berlanjut. Namun, mereka memutuskan untuk sementara tidak lagi menggelar arak-arakan menuju Gedung Parlemen.
Bentrokan pada Senin (20/7/2026) pecah saat ribuan demonstran dari New Delhi dan kota-kota sekitarnya berusaha menerobos barikade menuju parlemen. Polisi membubarkan massa menggunakan pentungan dan gas air mata.
Kepolisian Delhi menyebut, sedikitnya 180 orang terluka. Terdiri atas 118 personel polisi dan aparat keamanan serta 60 demonstran. Sementara pendiri CJP mengklaim, lebih dari 150 pengunjuk rasa masih menjalani perawatan di rumah sakit. Kantor berita Reuters belum dapat memverifikasi secara independen jumlah korban dari kedua belah pihak.
Polisi juga menahan 70 demonstran dan menyatakan proses hukum akan dilakukan terhadap mereka.
Baca juga : Brinette Lefrandt, Harapan Satu None Jaksel
Meski demikian, semangat para demonstran tidak surut. Sekitar 500 orang kembali berkumpul di kawasan Jantar Mantar, Selasa (21/7/2026), sambil meneriakkan slogan-slogan protes di tengah hujan gerimis. Aparat keamanan tetap disiagakan di sejumlah titik strategis, dengan personel paramiliter berpatroli dan barikade dipasang untuk memperketat akses menuju pusat pemerintahan.
Gerakan CJP bermula sebagai satire di media sosial. Namun, dalam beberapa bulan terakhir berubah menjadi gelombang protes terbesar yang dihadapi Perdana Menteri (PM) Narendra Modi sejak memulai masa jabatan ketiganya.
Aksi protes ini telah menjadi tantangan publik yang jarang terjadi dalam pemerintahan nasionalis Hindu Modi di masa jabatan ketiganya. Modi mendapat dukungan dari partai-partai oposisi, aktivis hak asasi manusia dan beberapa selebriti Bollywood saat memenangi pemilu.
Mayoritas pendukungnya merupakan anak muda Generasi Z yang menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mundur. Mereka menilai, Pemerintah gagal menjaga integritas sistem pendidikan setelah kebocoran soal ujian nasional masuk kedokteran pada Mei lalu.
Baca juga : Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Batu Bara, Polisi Komit Bertindak Tanpa Pandang Bulu
Kasus tersebut berdampak pada lebih dari dua juta peserta ujian. Pemerintah akhirnya memerintahkan ujian diulang.
Insiden itu juga memicu kemarahan publik karena dilaporkan membuat sebagian peserta mengalami tekanan psikologis berat, bahkan ada yang mengakhiri hidupnya.
Bagi para demonstran, kebocoran soal bukan sekadar kesalahan administratif. Mereka menuding, kasus itu menjadi bukti praktik korupsi yang mengakar dalam sistem pendidikan India.
Pendiri CJP Abhijeet Dipke mengatakan, aksi unjuk rasa menuju gedung parlemen dibatalkan karena kelompoknya tidak ingin lebih banyak pemuda terluka. Dia meminta maaf kepada para pendukung, khususnya para perempuan, yang dipukuli oleh petugas polisi laki-laki.
Baca juga : 18 Bulan Selesaikan 110 Masalah, Presiden: Ojo Dumeh
“Kami tidak akan berunjuk rasa karena polisi akan melukai para pemuda lagi,” tegas dalam konferensi pers, Selasa (21/7/2026).
Kepolisian Delhi menyatakan, para pengunjuk rasa telah menunjukkan perilaku yang tidak tertib, agresif, dan kekerasan serta dengan sengaja melanggar perintah larangan yang berlaku, meski telah ada peringatan pada hari Senin.
Gerakan ini semakin menguat setelah mendapat dukungan dari aktivis Sonam Wangchuk, yang memulai aksi mogok makan pada 28 Juni lalu. Namun, Wangchuk dipindahkan secara paksa ke rumah sakit oleh pihak berwenang pada hari Sabtu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.