RM.id Rakyat Merdeka - Suasana Sekolah Debsirin Nonthaburi, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi di pinggiran Bangkok, Thailand, mendadak mencekam, Jumat (7/8/2026) pagi. Suara letusan senjata api yang awalnya dikira berasal dari lokasi konstruksi, ternyata menjadi pertanda aksi penembakan brutal.
KHIM, siswi berusia 14 tahun, bersama teman-temannya sempat melihat ke balkon untuk mencari tahu sumber suara. Namun, suara letusan terus terdengar.
Seorang guru buru-buru menggiring para siswa masuk ke ruang kelas. Setelah mengecek grup pesan, guru itu memastikan kabar yang membuat seluruh siswa ketakutan, ada penembak aktif di dalam gedung sekolah.
“Saya mendengar beberapa kali suara tembakan dan merasa kami tidak akan selamat,” kata Khim, yang meminta namanya hanya disebut dengan nama panggilan, dikutip dari Japan Times.
Khim dan teman-temannya langsung bergerak cepat. Mereka menggeser meja untuk mengganjal pintu, mematikan lampu dan berkumpul di dekat jendela.
Selama sekitar 40 menit, seorang siswa yang juga berusia 14 tahun diduga mengamuk sambil membawa senjata api. Polisi mengatakan, pelaku menembak sejumlah orang sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Total sembilan orang tewas dan 23 orang terluka. Tragedi ini menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak 2022 dan kembali memicu perdebatan mengenai pengendalian senjata api di negara tersebut.
Baca juga : Nikita Willy Netizen Takjub, Suami Jadi Imam Masjid Di Kanada
Menurut polisi, aksi berdarah itu sudah berlangsung beberapa jam sebelum penembakan di sekolah. Saat fajar, pelaku diduga menembak mati kakek dan neneknya di rumah. Setelah itu, dia naik bus menuju sekolah yang berjarak sekitar 18 kilometer.
Menjelang pukul 10.00 waktu setempat, pelaku tiba di sekolah dan mulai melepaskan tembakan.
Sekolah tersebut memiliki lebih dari 3.000 siswa dan 150 guru berdasarkan data tahun sebelumnya.
Khim saat itu berada di Gedung 5. Dia segera memeriksa pesan di tabletnya. Kakaknya mengabarkan bahwa dia berada di ruang kelas Gedung 4, tepat di sebelah gedung tempat Khim berlindung. Sang ibu juga mengirim pesan untuk memperingatkan adanya penembak.
“Saya bilang saya sudah tahu. Saya juga bilang, ‘Bu, jangan telepon saya, nanti nada deringnya berbunyi,’” ujar Khim.
Di sejumlah grup percakapan siswa, foto terduga pelaku mulai beredar. Para siswa mengetahui bahwa pelaku sedang bergerak dari satu bagian sekolah ke bagian lainnya. Kemudian terdengar suara letusan yang jauh lebih keras.
“Suara itu sangat keras. Rasanya tepat di samping telinga saya,” ucap Khim.
Baca juga : Febrie Belum Sebut Nama Pemilik Uang dan Emas 74 Kg
Saat itu, kepanikan semakin menjadi-jadi. Khim sadar, pelaku kemungkinan hanya berada beberapa pintu dari ruang kelasnya.
“Saya tidak tahu apakah penembak memilih korbannya. Saya tidak tahu apakah dia ingin menembak seluruh sekolah,” katanya.
Tak lama kemudian, guru memerintahkan para siswa keluar dari kelas setelah polisi mulai mengamankan sejumlah bagian sekolah.
Namun, masalah belum selesai. Pelaku telah berpindah ke Gedung 4. Gedung tempat kakak Khim masih bersembunyi. Ibu Khim, Kwan (52), cemas dengan kejadian yang dialami kedua putrinya.
Di tengah jam kerjanya di sebuah rumah sakit Pemerintah, Kwan menerima telepon panik dari putrinya.
Putri sulungnya—kakak Khim—memberitahu bahwa telah terjadi penembakan di sekolah. Kwan kemudian mencoba memperkirakan jenis senjata yang digunakan berdasarkan informasi dari grup percakapan siswa. Dia menduga pelaku menggunakan pistol.
Dalam kondisi panik, Kwan meminta putrinya menghitung suara tembakan.
Baca juga : Melihat Indikator & Riset BPS, Mesin Ekonomi Kita Tetap Bertenaga
“Hitung tembakannya, untuk melihat apakah pelurunya sudah habis,” kata Kwan kepada putrinya.
Polisi menyebut, pelaku setidaknya telah menggunakan 26 butir peluru. Polisi juga menemukan 34 butir peluru tambahan yang masih dibawa pelaku.
Namun suara tembakan tidak berhenti. Justru semakin dekat.
“Suara itu terus mendekat dan akhirnya sampai ke Gedung 4, tempat anak saya berada,” ujar Kwan.
Kwan kemudian menelepon layanan darurat dari ponsel lainnya. Operator memberitahunya bahwa polisi, termasuk unit khusus, telah tiba di sekolah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.